Showing posts with label Lomba Blog. Show all posts
Showing posts with label Lomba Blog. Show all posts

Meet The Makers: Melestarikan dan Meregenerasi Jejak Peradaban Bangsa Indonesia.



Satu hal yang diakui dunia, sesuatu yang kaya dan besar dari Indonesia adalah budaya.  Ke aneka ragaman suku bangsa dan hasil karya berupa nilai-nilai tradisi yang diimplementasikan dalam bentuk tarian, patung pahatan/ ukiran kayu, lukisan,  perhiasan, aneka wastra berupa tenun,  batik,  songket dan lain-lain.

Tiap daerah memiliki kebudayaan masing-masing. Namun satu hal yang jelas di tiap bentuk hasil budayanya, selalu ada jejak peradaban. Nilai-nilai kehidupan yang tidak sekedar berbentuk fisik seperti kain, patung pahatan/ukiran atau gerabah. Di tiap hasil budaya tersebut ada pesan yang lebih mendalam dan bersifat abadi. Karena pesan yang dalam inilah, mengapa kebudayaan yang ada tidak cukup dilestarikan tapi harus diregenerasi.

Jejak Peradaban di Motif Kain Tenun



Karena kalau sekadar dilestarikan, karya budaya akan menjadi hiasan museum atau catatan buku sejarah kebudayaan. Hasil budaya harus diregenerasi agar pesan peradaban terus disampaikan dari generasi ke generasi. Catatan kecil ini, saya dapat dari perbincangan dengan Mama Yovita Meta. Perempuan paruh baya asal Kefamaanu, NTT. Beliau dari Yayasan Tafean Pah. Perempuan yang menyadari perlunya meregenerasi ketrampilan menenun pada perempuan-perempuan muda di desa Biboki. Kesadaran yang  awalnya didorong motif ekonomi.



Mulanya hanya ada delapan perempuan kini berkembang menjadi 400 penenun dan tersebar di 13 desa. Mama Yovita juga melakukan pendaminganpada anak-anak sekolah. Termasui menyiapkan beasiswa bagi mereka yang mau meruskan sekolah dengan tetap menekuni ketrampilan menenun. Menurut Mama Yovita, kini anak-anak perempuan sudah mulai terpanggil. Dukungan sekolah yang mau menyediakan salah satu kegiatan ekstra  sekolah juga menjadi pendukung, meningkatkan ermaja putri yang mau belakar menenun.

Kilas balik sekitar tahun 1971, karena bencana kekeringan, tanah yang ada tidak bisa ditanami dan hewan ternak pada mati. Bencana tersebut menghidupkan kembali budaya menenun yang nyaris punah. Keluarga-keluarga yang memiliki alat menenun, mengeluarkannya dan mulai menenun, lalu hasilnya dijual, uangnya dapat digunakan untuk membeli makan.

Blogger with Mama Yovita

Maka sejak saat itu, para ibu kembali menekuni kegiatan menenun. Seiring perubahan jaman dan kemajuan teknologi, perlahan-lahan menenun menjadi kegiatan yang kembali ditinggalkan. Mama Yovita yang melihat meredupnya sebuah peradaban, merasa tertantang untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Lewat perjuangan yang melelahkan, perlahan tapi pasti Mama Yovita mulai mendapat dukungan.

Mulutnya yang tak henti menceritakan, pentingnya kegiatan menenun ini dihidupkan karena bisa menjadi modal perempuan meningkatkan harga diri. Di tengah krisis ekonomi, dimana  banyak warga meninggalkan desa dan menjadi TKI atau memilih bekerja di pabrik, menenun nyaris tinggal cerita. Padahal dengan menenun, menghasikan kain yang bisa dijual, warga tak perlu meninggalkan desa untuk menjadi TKI atau bekerja di pabrik. Saat alam tidak bisa menghidupi, menenun dapat mejadi tonggak.



Ketrampilan menenun yang umumnya diwariskan pada anak perempuan dapat menjadi modal dan bekal. Seperti kita ketahui, perempuan nyaris menjadi warga kelas dua dalam pengertian selalu lelaki yang menjadi kepala keluarga sekaligus pencari nafkah. Karena itu perempuan seolah tidak punya hak. Hanya punya kewajiban mengurus rumah yang tidak jauh-jauh dari kakus, kasur dan sumur. Kondisi ini membuat perempuan seolah tidak berharga. Dan ketika perempuan diceraikan, maka para perempuan ini menjadi tidak berguna dan terhina. Dengan ketrampilan menenun, perempuan memiliki kemampuan mencari nafkah, sehingga tidak bisa diabaikan. Jika sebuah keluarga secara ekonomi membaik, hubungan keluargapun ikut membaik. Artinya tercipta hubungan yang harmonis dan tentram.

Mama Yovita Meta adalah salah satu dari 16 peserta Meet The Makers 11. Meet The Makers,  kegiatan  berkumpulnya  seniman, (artisan) atau designer untuk menjual dan memamerkan hasil karyanya di Jakarta.


Dalam sambutan pembukaan Meet The Makers 11,  Bregas Harrimartoyo, sebagai Steering Comitte,  mengatakan: “Meet The Makers adalah kegiatan yang mempertemukan  pengrajin dan masyarakat , terutama orang muda dalam upaya  mengenalkan dan mensosialisasikan  keanekaragaman budaya Indonesia"  

Mengusung tema:   “Regenerasi Mempertahankan Tradisi” , digelar selama 12 hari, Mulai 21 Oktober hingga 2 November 2016 di Alun-Alun Grand Indonesia.  Sebagai tempat pameran “Craft as Art”,  diikuti 16 partisipan yang terdiri dari berbagai  komunitas perajin, desainer, dan beberapa organisasi kemasyarakatan. 

Pada saat pembukaan hadir  11 perwakilan peserta. Masing-masing berbagi kisahnya. Semuanya memiliki kesamaan cerita. Bagaimana persoalan yang dihadapi selalu pemasaran. Artinya ketika para artisan ini menghasilkan, terus hasilnya mau diapakan?  Harusnya tidak sekadar dipamerkan tapi juga bisa dijual, lalu uangnya, sebagian bisa dibelikan bahan untuk dibunakan membuat karya dan sebagian dapat digunakan untuk membiayai hidup.

Karena itulah hadir Meet The Makers. Sebuah ajang yang sekadar memamerkan hasil karya tapi juga memperlihatkan bangunnya kesadaran melestarikan tradisi dan meregenerasi  ketrampilan menghasilkan karya budaya. Tidak sekadar meningkatkan kwantitas tapi juga kwalitas lewat pemahaman teknologi. Kali ini Meet The Makers 11 bekerja sama dengan Alun-alun Indonesia.

Pincky Sudarman, CEO, PT Alun Alun Indonesia
Pincky Sudarman, CEO, PT Alun Alun Indonesia,  mengatakan, “Regenerasi perlu dilakukan. Saatnya melibatkan orang muda karena mereka yang kelak meneruskan apa yang ada sekarang".

Beberapa artisan bahkan menempuh sekolah resmi untukm mempedalami ilmu mengenai desain dan kain. Budaya dan hasil budaya adalah catatan perjalanan hidup yang mengalir seperti berjalannya waktu. Inovasi dari teknik maupun desain dan aplikasi penggunaan hasil budaya dapat menjadi terobosan karya baru sekaligus memnuhi keinginan pasar.

Bicara budaya, kita bicara jejak kehidupan. Karena hampir semua hasil budaya memiliki kisah yang sarat dengan nilai kehidupan. Tenun Sabu, misalnya. Dari tiap morif yang ada bisa terbaca berasal dari trah keluarga siapa. Jika selama ini kita memahami bahasa sebagai rangkaian huruf, sesungguhnya kita keliru. Karena ada yang namanya bahasa gambar. 

Motif  tiap kian tenun Sabu, bisa bercerita tentang sebuah keluarga. Motif-motif yang ada sebetulnya rangkaian kisah kehidupan.

Jika kita tidak mempelajari, dan tidak meneruskan ketrampilan menenun maka kita memutuskan sebuah catatan peradaban. Demikian juga dengan kisah gerabah Bayat.

Gerabah Bayat, Hasil Teknik  Mesin Miring.



Gerabah adalah peralatan rumah tangga berbahan dasar tanah lempung. Digunakan  ksejak jaman dahulu kala. Pada perjalanannya gerabah tidak hanya untuk peralatan makan tapi juga peralatan rumah tangga dan seni. Mulai dari piring, gelas, gentong air hingga vas dan pot bunga.

Hadir dalam Meet The Makers 11, Pengrajin Gerabah Bayat, Pak Harno dan keluarga (Plus istri dan anak gadisnya) Mengapa Gerbah Bayat menjadi istimewa karena menggunakan tehnik mesin miring yang sebenarnya sudah ada sejak lama. Pak Harno dan keluarganya bukan sekedar melestarikan tapi juga meregenerasi kertrampilan membuat gerabah dengan tenik mesin miring pada sang anak.

Saya mencatat  pemikiran menarik dari Pak Harno. Sama seperti kebanyakan lelaki di desanya. Tidak terjun pada pembuatan gerabah. Para lelaki melakukan tugas sebagai  pembakar, marketing dan distribusi.  Pembuatan gerabah dilakukan para perempuan, ibu dan anak gadis.

Pak Harno menceritakan, mengapa ia mendorong putrinya yang barus berusia 14 tahun menekuni pembuatan gerabah karena Pak Harno meyakini, tidak cukup ketrampilan akademik. Ketrampilan diluar akademik akan menambah nilai plus. Lebih lanjut Pak Harno menceritakan, jika kelak anak gadisnya lulus SMA, dengan memiliki ketrampilan membuat gerabah, ia yakin putrinya memiliki peluang besar dalam mencari pekerjaan. Kalaupun tidak dapat pekerjaan, Putrinya bisa bekerja memproduksi gerabah.

Pemikiran menarik dari lelaki yang kesehariannya berkutat di desa. Pak Harno sudah berpikir bagaimana membuka lapangan kerja ketimbang mencari pekerjaan. Jika saja semua orang berpikir seperti Pak Harno, rasanya angka pengangguran pasti menurun.

Mengapa menggunakan teknik mesin miring dalam membuat gerabah Bayat.

1. Mudah dalam penggunaan. Pembuat gerabah umunya perempuan, maka mesin putar miring dibuat untuk kemudahan

2.  Dari sisi etika, pada masa Sunan Bayat, para perempuan berkain panjang, sehingga terlihat tidak etis jika menggunakan mesin putar di depan.

3. Efisiensi kerja. Dengan mesin putar miring membuat lebih mudah dalam membentuk gerabah karena adanya gaya gravitasi. JIka dengan mesin putar datar diperlukan waktu 1,5 menit membuat piring, maka dengan mesin putar miring hanya diperlukan 30 detik untuk membuat satu piring gerabah.

Pak Harno mengatakan, selama ini orang berpikir hanya menjual hasil budayanya, ia berpikir memikirkan bagaimana menjual proses pembuatannya. Sehingga orang tertarik bukan melihat hasil nya tapi juga proses.




Ciri lain dari gerabah Bayat, selain teknik putaran miring, adalah  keunikan dalam hal warna. Pewarnaanya  yang coklat matang cenderung kehitaman. Maka jika ada gerabah dengan warna demikian maka bisa dipastikan itu gerabah Bayat. Walau namanya gerabah Bayat, sebetulnya diproduksi bukan di desa Bayat. Dinamakan gerabah Bayat karena mulanya diproduksi di Dukuh Bayat. Kini Gerabah Bayat diproduksi di Dukuh Pagerjurang, Jawa Tengah.

Tenun Ulap Doyo, Jejak Dayak Benuaq

Sama seperti pada kain tenun di NTT, Ada korelasi antara motif pada tenun ulap doyo dengan strata sosial dari kelompok masyarakat pemakainya.Kain Ulap Doyo adalah salah satu jenis kain hasil kebudayaan Kalimantan yang diangkat dari masyarakat Dayak Benuaq, yang tinggal di Kalimantan Timur.
Yang membuat kain tenun Ulap Doyo ini unik dan berbeda, karena bahan dan teknik pembuatannya. Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat. 
Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Benang daun doyo kemudian diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang umum ditemukan antara lain merah dan cokelat. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.

Hal lain yang menjadikan tenun Ulap Doyo istimewa, system regenerasi tidak lewat proses belajar. Ketrampian yang diturunkan pada anak gadis berlangsung secara alami. Hanya lewat melihat  setiap hari dan otomatis mereka menjadi bisa.


Adalah Borneo Chic, sekumpulan LSM yang merasa perlu memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi. Kesadaran membantu dan meningkatkan taraf hidup, melahirkan kelompok yang memperjuangkan pemasaran dan distribusi.. Sehingga masyarakat penghasil Ulap Doyo bisa terus memproduksi dan meregenerasi ketrampian pembuatan Ulap Doyo pada generasi yang lebih muda. Produksi Ulap Doyo bisa di beli dan di lihat di http://borneochic.com/

Tak cukup satu tulisan untuk menuliskan semua yang ada di Meet The Makers 11. Masih ada Kain kayu dari Fuya yang nyaris punah. Tapi lewat tangan tangan dan niat menghidupkan peradaban, bisa diregenerasi. Ada Lawe, kelompok yang mengangkat prestise kain lurik. Memberi nilai ekonomi yang lebih baik. 

Produksi Lawe, lurik yang menjadi bernilai ekonomi tinggi


Dan banyak kelompok-kelompok yang menghidupkan kembali batik dalam pengertian yang sesungguhnya, batik yang dibuat dengan menggoreskan malam menggunakan canting. Batik yang melewati proses panjang. Karena sejatinya membatik adalah proses menjadi sabar. Karena panjangnya proses pembuatan batik dari mulai mori tak bermotif sehingga menjadi kain dengan motif indah, membutuhkan proses yang panjang.

Membatik adalah perjalanan membuat titik titik dan merangkai menjadi jejak yang terlihat. Di lain waktu saya akan menuliskannya, bukan cuma proses pembuatannya tapi pelaku-pelaku kreatif dibaliknya.



Setiap lembar kain yang ada, bukan sekadar kain, itu adalah catatan sebuah peradaban, tetes keringat para artisan yang mecoba menjaga agar peradaban tidak punah. Meet The Makers tetap setia dengan misinya, yaitu memperkenalkan, mempertemukan dan menjembatani para artisan kepada masyarakat yang lebih luas. Khususnya masyarakat Jakarta. Kali ini fokus ke anak muda. Walau potensial buyer tetap juga diharapkan.

Buka Lembaran Baru Bersama L'oreal Paris Excellence (Bagian 1 dari 3 Tulisan)

 Saya jelas bukan Dian Sastro tapi saya suka semangatnya. Di tengah kesibukannya, sebagai istri, ibu dua anak, kuliah lagi dan aktifitas lainnya, Dian tetap menginginkan penampilan yang selalu ok. Keberaniannya membuka lembaran baru, salah satunya dengan mewarnai rambutnya, jadi menginspirasi saya.

Usia saya sudah tidak muda.  Dari dulu, model potongan rambut saya bisa dibilang selalu sama. Untuk mengubah sedikit penampilan, terkadang saya menggunakan asesories seperti topi.
 Bahkan kawan-kawan sering bertanya, nggak bosen modelnya seperti Dora lagi? Iya, tokoh film kartun. Apalagi ke mana-mana, saya membawa backpack.

Biasanya saya cuma tersenyum. Soalnya saya cukup merasa nyaman dengan potongan rambut seperti si Dora. Apalagi beraktifitas di cuaca yang panas.

Saya blogger yang kerap hadir diberbagi acara, karena saya juga ibu dari sepasang remaja, maka saya suka yang simple.
Terinspirasi dari Dian Sastro, saya juga ingin membuka lembaran baru. Usia boleh terus bertambah tapi semangat tetap muda. Maka saya ingin membuka lembaran hidup baru, dengan memberikan sentuhan yang berbeda pada rambut. Sekaligus menutupi rambut putih.

Soal rambut putih, saya percaya itu bagian dari pertambahan usia. Saya bangga memiliki rambut putih, mengingatkan saya untuk lebih mawas diri, bahwasannya usia semakin bertambah maka harus semakin bijaksana dalam mensikapi banyak hal.

Tapi lama-lama penampilan saya terlihat kusam dan memberi kesan tua. Maka saya mulai memilih memberi warna pada rambut putih. Terlihat lebih muda, buat saya penting karena memberi efek agar tetap bersemangat muda juga.

Menurut hair expert Sonny Sutandar, memilih warna rambut perlu disesuaikan dengan warna kulit, warna mata, warna asli rambut serta warna urat nadi. Saya  selektif memilih pewarna rambut. Bukan hanya warnanya yang minimal senada dengan warna kulit atau warna bola mata saya, seperti yang dikatakan Sonny Sutandar tapi juga yang mempunyai sifat melindungi rambut. Jadi diperlukan pewarna rambut yang memiliki serum yang dapat melindungi rambut agar sehat, halus dan tetap berkilau. Itu semua saya temui pada L'oreal Paris Excellence Creme.

Berikut Tips dan Trik Melakukan pewarnaan rambut di rumah dari L'Oreal Paris Excellence:
Di atas sudah saya tuliskan memilih warna rambut harus disesuaikan dengan warna kulit, warna mata, warna asli rambut serta urat nadi. Karena untuk mewarnai rambut, seyiap orang harus mengenal karakter dirinya sendiri.

Jika sudah mengenal karakter diri, akan mudah memilih warna yang sesuai seperti Warm, Neutral dan Cool: Kategori ini tidak bisa kita tentukan sendiri. Kita meras cool maka memilih warna-warna cool, nggak gitu. Nggak berdasarkan perasaan.

Orang yang masuk kategori Warm tone, adalah mereka yang memiliki kulit berwarna kekuningan cokelat dan mudah berubah ketika terkena sinar matahari (saya banget tuh), warna mata  cokelat ke emasan. (Warna mata saya cuma coklat saja.) atau hijau atau hijau kebiru-biruan, hazel dengan flek keemasan, cokelat, merah kecokelatan, merah, pirang, pirang keemasan atau abu-abu keemasan. (Adik dan kakak saya memiliki warna rambut seperti itu)

Sedangkan orang dengan kategori Cool tone, biasanya sedikit berkulit gelap. Kalau kena matahari nggak nerpengaruh, warna urat nadi kebiru-biruan. Orang dengan kategori cool tone biasanya memiliki mata berwana cokelat tua, cokelat kehitaman, hazel ke abu-abuan dan memiliki warna rambut cokelat kehitaman, putih, cokelat muda keperakan atau abu-abu perak.

Nah kategori ketiga, adalah orang dengan kategori Neutral tone. Warna kulit berada diantara warna-warna warm and cool. Atau warna yang tengah-tenagh deh. Enaknya orang dengan kategori neutral tone, cocok dengan semua warna.

Nah kalau sudah tahu masuk kategori apa, kita bisa dengan mudah memilih warna rambut agar tetap sesuai dengan kepribadian kita. Saya masu kategori warm tone.





Saya  memiliki warna rambut hitam ke cokelatan. Awalnya sih ingin tampil beda banget, dengan memilih yang pirang, khawatir suami takut pulang, lantaran di kira salah masuk rumah. Maka untuk mengubah penampilan , saya memilih L'oreal Paris Excellence  6.45; Copper Mahogany Dark Blonde.

L'oreal Paris Excellence ini, mudah digunakan. Sehingga pewarnaan rambut bisa dilakukan di rumah. Bisa dilakukan sendiri atau minta tolong orang. Saya memiliki anak peremuan jelang remaja yang antusias dengan kegiatan pewarnaan rambut. Maka jadilah putri kecil yang sudah tidak kecil lagi menjadi asisten saya. Aktifitas ini seru dan mengasyikan. Kami berdua bisa ngobrol banyak hal.




Dengan aplikasi pewarna rambut L'oreal Paris Excellence, saya membuka lembaran baru bersama putri saya. Ya, tanpa sengaja saat putri kecil saya membantu saya dalam proses pewarnaan, kami jadi ngobrol. Mulainya memang instruksi apa yang harus ia lakukan, Atau saya menjawab keinginan tahunya. Termasuk pertanyaan mengapa saya mau mewarnai rambut dengan pilihan warna Mahogany Dark Blonde.

Saya suka watna-warna yang hangat, sehangat pribadi saya (cie...muji diri sendiri). Kebanyakan warna rambut keluarga saya adalah dark brown. (hitam kecokelatan) Ini serupa dengan warna bola mata kami. Ya, kami kakak-beradik memiliki warna bola mata serupa almarhum Papa. Sedangkan Mama kami memiliki warna bola mata hijau ke abu-abuan. Kok bisa? Ceritanya nih, kedua orangtua saya asalnya dari Menado dan kalau ditarik garis ke leluhur, kami keturunan bangsa Portugis. (Nama keluarga Mama Parera dan Nama keluarga Papa Koraag) Kulit kamipun tidak gelap. Maka pilihan Mahogany Dark Blonde saya rasa pas.

Membuka lembaran baru pada tahapan usia tertentu, menurut saya perlu dilakukan. Untuk menyemangati diri sendiri. Ketika penampilan fisik menua seiring usia (Nggak bisa dihindari) maka bersikap positif  harus dilakukan untuk mensyukuri apa yang sudah tercapai dalam hidup ini. Membuka lembaran baru bagi saya sama dengan melakuka proses evaluasi, nggak selalu harus diakhir atau di awal tahun. Kapanku bisa dilakukan dengan tujuan menjadi pribadi yang lebih baik.

Curhatan Rasa Koepoe Koepoe: Jelajah Rasa Cinta




Saya terlahir sebagai anak ketujuh dari sebelas bersaudara yang semuanya perempuan. Kami mendapat kesempatan pendidikan yang sama, Jika pada akhirnya ada yang memilih menjadi wanita karir atau istri dan ibu, sepenuhnya pilihan ada pada kami. Ibu saya, guru. Ia berhenti mengajar diusia 61 th. Kini usianya jelang 86 th dan dalam kondisi baik.  Karena sebagai perempuan bekerja, Ibu tak secara khusus mendidik ketrampilan perempuan seperti memasak kepada anak-anaknya.

Kami belajar secara otodidak. Ibu memasak pagi untuk sarapan dan makan siang. Sepulang Ibu bekerja, baru memasak lagi untuk makan malam. Bersama -sama ada di dapur adalah cara belajar secara langsung lewat melihat dan membantu. Kami tidak pernah memiliki Asisten Rumah tangga. Tiap anak memiliki tugas dan kewajiban yang merata, maka membantu ibu di dapur juga bagian dari tugas keseharian.

Kedua orangtua saya, berasal dari Manado, sedangkan saya menikah dengan laki-laki dari Gorontalo. Bisa dibilang selera makan kami tidak berbeda jauh. Kami sama-sama penggemar makanan laut terutama ikan. Maka berbagai jenis ikan dan berbagai  olahan ikan menjadi resep wajib. Saat saya bekerja penuh waktu sebagai karyawan, memasak hanya saya lakukan diakhir pekan. Saya memasak dengan seluruh rasa cinta yang saya punya. Semacam penebusan rasa bersalah karena Senin-Jumat saya bekerja sebagai karyawan.

Bumbu instan Koepoe koepoe adalah salah satu kawan setia, perempuan model saya yang terbatas waktu dan tenaganya. Variannya yang sangat banyak, sangat membantu dari sisi kepraktisan dan rasa.  Jika ada yang mengatakan  Koepoe koepoe sebagai bumbu instan yang tidak asli, saya hanya tertawa. Kwalitas tidak dapat dibohongi, bertahannya bumbu instan Koepoe koepoe hingga saat ini adalah bukti kwalitasnya yang layak dipercaya. Terbuat dari bahan alami yang berkwalitas baik. Koepoe koepoe adalah brand yang sudah ada sejak saya kecil. Ibu saya adalah orang yang mengenalkan saya pada kebiasaan minum teh sore hari dengan kue-kue. Bumbu dengan gambar koepoe koepoe adalah sesuatu yang sudah biasa saya lihat di dapur Ibu.  Kelak saya besar saya baru tahu istilah "Tea time". Padahal sudah saya lakukan sejak saya kecil. Biasanya pukul empat sore kami sudah bangun dari tidur siang dan sudah mandi. 



Saat itu Ibu sudah mengatur gelas-gelas teh dan sepiring kue yang boleh kami makan sebelum bermain. Saya baru sadar, mengapa saat kecil saya tak pernah jajan sore-sore, karena kami sudah menikmati kue-kue buatan Ibu. Curhatan rasa ini adalah bagian dari saya menjelajah ke ingatan masa kanak-kanak. Suatu masa indah yang tak bakal terulang. Dan saya baru menyadari, sebetulnya penyajian kue sore hari, adalah cara Ibu memberikan asupan makanan yang bersih dan sehat serta mengelola keuangan. 

Memenuhi kebutuhan 11 anak yang semua bersekolah dalam rentang satu waktu, tidaklah mudah. Tapi kenyataannya, kami ber 11, semua menyelesaikan perguruan Tinggi. Ibu memang manajer keuangan yang handal. Di tangan Ibu juga asupan gizi keluarga dipertaruhkan. Mengelola keuangan bunkanlah hal mudah tapi menjadi sebuah keharusan manakala situasi dan kondisi menuntut.

Akhir pekan lalu, saya dan kedua anak saya menginap di rumah Ibu. Ternyata selain kami, adik dan kakak saya juga menginap berserta anak-anaknya. Banyaknya anak-anak terdiri dari keponakan dan cucu, mengembalikan ingatan pada masa kecil saya. Secara spontan saya mengajak bocah-bocah ini ke dapur. Melibatkan mereka adalah cara lain, belajar dari bermain. Melongok ke lemari penyimpanan, aneka pewarna dan perasa koepoe koepoe ada di sana. Juga tepung dan telur, maka kue cubit pelangi menjadi resep pilihan untuk dilaksanakan. Tak sempat tersaji cantik. Karena setiap matang langsung tandas diserbu. Gelak tawa dan wajah-wajah ceria, selalu menghangatkan hati.



Dulu Ibu selalu membiasakan kami sarapan dan membawa bekal ke sekolah. Dua hal ini  saya terapkan setelah saya menikah dan memiliki anak. Suami kerap membawa bekal ke tempat kerja. Ketika anak-anak sekolah, mereka juga membawa bekal. Walau saya bekerja, menyiapkan sarapan dan bekal tetap saya lakukan. Ketika si Sulung masuk SMP, saya sempat bertanya, apakah tetap mau membawa bekal? Si Sulung mengiyakan, hati saya sangat bahagia.




Kini anak-anak sudah beranjak remaja, saya tetap memberikan mereka cinta yang penuh baik lewat perhatian, pengasuhan dan kasih sayang serta asupan makanan. Keduanya juga termasuk anak ringan tangan yang mau membantu cuci piring, menyapu, mengepel dan membereskan tempat tidur. Kadang kami bisa seseruan bercanda di dapur atau di kamar tidur. Ketika mereka makan dan mengatakan masakan Mama, jempolan, Di situ hati saya melambung ke awan.

Kesetian perempuan memasak bagai bumbu instan koepoe koepoe. Waktu berjalan, aneka macam bumbu instan bermunculan tapi Koepoe koepoe tetap setia dan ada. Demikianlah perempuan dan kegiatan memasak. Berubahnya situasi dan kondisi setiap masa, tidak berpengaruh pada perempuan dan memasak. Karena akan selalu ada perempuan yang menjadikan memasak sebagai aktifitasnya. Boleh jadi banyak perempuan memilih berkarir dan bermain dengan gadget tapi makan adalah kebutuhan. Memasak adalah salah satu cara memfasilitas dan memenuhi kebutuhan akan lapar tadi.


Saya bertekad merawat cinta lewat lidah dan perut. Saya tak pandai dalam hal memasak tapi saya paham menjelajah perasaan pasangan saya dan kedua anak kami. Memasak menjadi hiburan yang menyenangkan. Saya dan suami tak segan membawa anak-anak ke pasar tradisional. Kami membebaskan mereka melihat, memegang dan memilih baik ikan, daging sapi, ayam maupun sayuran dan buah. Sejak balita anak-anak sudah menjelajah dan terbiasa dengan bau khas pasar.

Hasilnya, memasak menjadi kegiatan yang menyenangkan dan seru. Bahkan menjadi sesuatu yang saya rindukan kala saya tak bersama mereka. Ada satu momentum, di mana saya bertekad memanjakan suami lewat masakan. Suatu hari, suami kangen dengan "garang asam" masakan ibunya. (Saat itu saya masih bekerja) Maka saya katakan pada suami untuk membeli. Tapi entah mengapa, suami ingin saya memasaknya. Saya menolak dengan dalih saya lelah karena bukan akhir pekan.

Kami perang mulut . Akhirnya kami berdamai, setelah saya menelepon ibunya, mendengarkan, mencatat resep serta cara membuat garang asam. Ternyata tidak susah. Percobaan pertama, rasanya tidak karuan bahkan cenderung asin, namun suami memakan dengan nikmat. Dan hati ini terasa meleleh, ketika usai makan, ia memeluk dan mencium kepala saya seraya berkata, terima kasih. Sejak itu, saya tahu, saya bisa tetap memenangkan hati dan perhatian suami lewat lidah dan perutnya. Pada dasarnya ia "Family man", yang selalu makan di rumah.


Beberapa tahun kemudian saya berhenti bekerja dan memilih sepenuhnya menjadi istri dan ibu. Saya mengisi waktu dengan menulis di blog, melatih menulis anak-anak SMP-SMA  di grup FB dan berekperimen dengan berbagai resep. Saya akhirnya lagi-lagi memenangkan lidah suami. Kini ia lebih memilih masakan saya ketimbang ibunya (sst, jangan bilang-bilang ya) Menurut suami, kini ia terbiasa dengan makanan berbumbu dan sedikit pedas. Dulu saya mengenalnya, penyuka makanan tidak pedas. Maka semua masakan di rumah tidak memakai cabai. Tapi untuk saya, selalu ada sambal. Kini suami sudah bisa meminta yang pedas. Masih belum bisa makan sambal tapi sudah bisa makan masakan dengan campuran 4-5 cabai. 

Masakan Manado yang memang penuh rempah dan pedas, kini menjadi kesukaannya. Koepoe-koepoe meringankan tugas saya. Varian, merica, kayu manis, pala, bawang putih, kunyit juga ketumbar tinggal di tambahkan tanpa harus menghaluskannya lagi, Pada perjalanan menjelang 19 tahun pernikahan kami, bulan Juli mendatang, persamaan rasa dalam hal makanan sudah terjalin, berkelindan antara kesabaran dan kasih sayang dalam jiwa kami. Kalau ditanya apa istimewanya, semua juga tahu, bumbu cinta lahir dari hati yang putih. Bahkan kedua anak kami, selalu mengatakan Masakan Mama no satu karena ada kandungan cinta. Hati ibu mana yang tak melambung mendapati curhatan rasa suami dan  anak-anak?




Resep Tuna Rica Bumbu Cinta yang fotonya saya pamerkan di sini, bisa di dapat dengan mudah. Googling saja pasti akan dapat beberapa versi. Bahan dan cara membuatnyapun tidak susah. Yang membedakan hanya racikan cinta di dalamnya. Saya bukan perempuan atau istri atau ibu yang sempurna tapi setiap hari saya belajar untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Suami dan anak-anak adalah fasilitas saya menjadi lebih baik. Mereka menyempurnakan kehidupan saya, seperti bumbu instan koepoe koepoe yang menyempurnakan jelajah rasa  dari  masakan-masakan saya.

MUSEUM JEMBATAN MASA LALU DAN SEKARANG



Sumber



236 tahun Keberadaan Museum Nasional adalah sebuah perjalanan panjang. Serangkaian acara di gelar, guna membuka kesempatan pada masyarakat untuk melihat dan menikmati koleksi Museum Nasional. Dapat di lihat dari video di atas. Sebetulnya museum terbuka bagi siapa saja dengan biaya masuk yang sangat murah.

Sempat terpikir oleh saya, darimana museum mendapat biaya untuk memelihara begitu banyak koleksi yang ada. Memang saya tahu ada dana dari pemerintah tapi biaya masuk museum terlalu murah. Karena museum adalah lemmbaga yang menyimpan begitu banyak ilmu.

 Bermula dari revolusi intelektual  (the Age of Enlightenment) di Eropa, yaitu suatu masa di mana orang mulai mengembangkan pemikiran-pemikiran ilmiah berbasis pengetahuan. Pemerintah Belanda mendirikan  Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang merupakan cikal bakal Museum Nasional. (Sumber)

Secara garis besar menurut saya museum adalah sebuah lembaga yang mempunyai peranan penting menghubungkan masa lalu, sekarang dan masa nanti. Karena itu saya memberi judul artikel ini : Museum jembatan masa lalu dan sekarang. Karena museum mengabadikan/ menyimpan bukti-bukti keberadaan dan aktifitas kehidupan di masa lalu yang menghubungkan   keberadaan kita hari ini, pun nanti di masa yang akan datang.

Sayangnya sedikit sekali masyarakat yang menyadari besarnya peran dan keberadaan museum. Seingat saya belum banyak museum yang saya kunjungi. Semasa sekolah sebagian besar museum di Jakarta sudah saya kunjungi. Mulai dari Museum Nasional, Museum Satria Mandala, Museum Tekstil, Museum Layang-layang, Museum wayang, Museum uang, Museum Adam Malik, juga tempat-tempat bersejarah, seperti Gedung Joeang'45, Lubang Buaya, Gedung Sumpah Pemuda, Gedung proklamasi. Banyaknya manfaat pengetahuan yang saya dapati, mendorong saya mengajak kedua anak saya untuk mengunjungi museum juga.

Museum yang meninggalkan ingatan kuat pada anak-anak saya adalah Museum Satria Mandala dan Museum Zoologi di Bogor. Kebetulan almarhum Ayah saya purnawirawan TNI AD. Karena itu saya senang menceritakan  kisah sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Sedangkan di museum Zoologi, kedua anak saya begitu terpukau melihat tulang belulang dan riwayat kehidupan hewan di masa lalu.

Bagi saya, museum dapat menjadi tempat wisata sekaligus wisata pendidikan. Jika mengingat kembali bahwasannya proses belajar pada anak dilakukan dengan bermain karena lewat bermain, anak belajar. Maka dengan mengunjungi beraneka museum, membangkitkan kecintaan pada museum, maka satu pintu belajar terbuka luas. Lewat media museum banyak pelajaran yang bisa kita berikan/ kita sampaikan pada anak-anak. Belajar dan mencari ilmu pengetahuan bukan hanya tugas bapak dan ibu guru di sekolah. Orangtualah yang berperan besar sebagai guru pertama bagi anak.

Saya sudah merasakan manfaat belajar lewat museum. Sesudah pulang dari kunjungan kami di Museum Nasional tahun 2012. saya dengan mudah mengajarkan anak sulung saya tentang banyak hal yang terkait pelajaran sejarah, IPS, juga geografi. bahkan pelajaran Kesenian dan ketramnpilan. Sulung saya dengan antusias, mencari lebih jauh di internet untuk mencocokan dengan apa yang di lihatnya di museum. Mempelajari kebudayaan tiap-tiap daerah menjadi menyenangkan. Kedua anak sayu dengan mudah bisa menyebutkan nama tarian, lagu daerah, nama senjata, kesenian dan makanan khas tiap daerah. Semua itu adalah warisan budaya yang luar biasa yang merupakan identitas asli bangsa Indonesia. Dengan mengenal budaya, maka memabangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air bukanlah hal susah.

Narsis depan Museum Nasional


Saya menjelaskan bagaimana budaya tiap daerah yang merupakan hasil olah rasa dan olah jiwa tiap suku bangsa, menunjukan tingkat intelektual yang tidak bisa diukur dengan moderenisasi teknologi. Karena hasil olah rasa dan olah jiwa sebagai budaya adalah bukti intelektual Bangsa Indonesia yang sudah ada sejak dulu. Dan ini diakui bangsa-bangsa lain di dunia. Borobudur dan batik adalah dua contoh warisan budaya berintelektual yang sudah diakui.

Museum Nasional menyimpan  lebih dari 240.000 item. Terdiri dari peninggalan jaman Pra sejarah, Peninggalan Numismatik dan keramik, yaitu berupa mata uang, koin dan keramik, Peninggalan Etnografi berkaitan dengan peninggalan jejak dari suku bangsa yang hidup di jaman dulu. Serta Peninggaln Arkeologi yaitu benda-benda peninggalan jaman dulu  terkait dengan kehidupan.
Patung Nandi (Peninggalan Jaman Pra Sejarah) Sumber:

Nandi adalah lembu jantan, gunung Dewa Siwa. Patung batu ini  Nandi ditemukan di kompleks Candi Singasari dari di Jawa Timur Singasari Kerajaan yang berkembang pada abad ke-13 dan terkenal karena karya-karya seni yang halus. Patung Nandi sedang berbaring di tempat tidur lotus ganda dan kaki kiri depan sedikit terangkat, pada lehernya, Nandi memakai beberapa kalung, seperti mutiara, karangan bunga, dan satu dengan lonceng. Dan di punggungnya adalah pelana dihiasi dengan motif daun, dan sabuk yang mengelilingi perut nya.

Mahkota Sultan Banten. Sumber

Karya seni ini berasal dari Kesultanan Banten, Jawa Barat. Kesultanan Banten memainkan peran penting dalam pengembangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Dengan demikian tidak mengherankan untuk menemukan pengaruh Islam yang kuat dalam desain mahkota ini.

Dari dua gambar yang saya ambil dari koleksi Museum Nasional, saya bisa menjelaskan banyak hal pada kedua anak saya. Mulai dari penyebaran agama, tokoh-tokoh panutan, raja-raja yang berkuasa, nama-nama kerajaan dan raja-raja yang memimpin serta peranan para pemimpin tersebut dalam setiap periode, sehingga mengantarkan pada periode perjuangan merebut kemerdekaan. Dari museum saya belajar dan mengajarkan pada kedua anak saya untuk mengingat asal usul mereka.

Sudah saatnya paradigma berpikir dan bersikap terhadap museum diubah. Museum bukanlah tempat kusam dan menakutkan yang menyimpan benda tua. Justru museum menyimpan ilmu dan pengetahuan yang menghungkan kehidupan masa lalu, sekarang dan masa nanti. dari berbagai koleksi yang ada, kita bisa mempelajari apa yang terjadi atau apa yang dilakukan manusia dijama dulu. Kita dapat meminimlakan hal yang kurang baik dan meningkatkan apa yang sudah baik menjadi lebih baik demi kemaslahatan hidup masyarakat.

Segala sesuatu yang tercatat dan terseimpan dalam museum adalah catatan istimewa mengenai cikal bakal kehidupan kita sekarang dan nanti. Jka ingin sejarah mencatat keberadaan kita, maka tugas kita membuat sesuatu yang dikenang dan diingat. Jadilah pelaku sejarah, agar keberadaan kita selalu di kenang.






B'Blogger and Get The Profit


Kok bisa? Ya bisa dong. Saya ngeblog dengan platform blogspot mulai tahun 2006. Sebelum itu saya ngeblog di friendster, multiply dan blogsome. Semua itu berawal dari kegemaran saya menulis. Ngeblog seperti memindahkan catatan harian di buku ke media on line. Jadi deh digital diary. Makanya saya tidak mempublikasikan catatan saya di blog.

Tapi teknologi dan fitur-fiturnya bertambah. mengijinkan kita terkoneksi dengan orang lain. Maka yang awalnya saya hanya menulis pengalaman pribadi, seputar keluarga meningkat menjadi tulisan-tulisan berupa pendapat pribadi dari suatu peristiwa.

Saya suka menyimpan kenangan lewat tulisan dan gambar dari aktifitas yang saya lakukan. Sayangnya saya terjebak dengan pekerjaan, yang akhirnya mengurangi waktu saya menulis di blog. Penundaan-penundaan ini yang sempat blog saya tidak update. Soalnya pulang tugas dari luar kota sudah lelah. Pas lagi segar harus menulis laporan kerja, jadi deh isi blog tertinggal.

Saya mulai aktif ngeblog kembali setelah berhenti bekerja kantoran. Sekitar tahun 2011. Rasanya saya menemukan "surga". Saya bisa terkoneksi dengan banyak kawan. Eh kalau membaca judul tulisan ini kata"profit" jangan dimaknai sebagai materi ya. Benar materi juga di dapat lewat ngeblog tapi bukan cuma materi, masih banyak lagi. Inilah "profit" yang saya dapat lewat ngeblog:

1. Memperluas jaringan. Saya jadi memiliki banyak kawan dengan bermacam-macam profesi dan latar belakang. Kebetulan saya orang yang suka berkawan. Mendapat banyak kenalan bagai mendapat harta karun.
2. Mendapat banyak ilmu. Sejak saya bergabung dalam berbagai komunitas blogger, saya banyak mendapat undangan Talk Shiw, Seminar, WorkShop atau gathering. Semuanya asyik. Bertemu, berdiskusi langsung dengan pakar berbagai bidang. Bertemua banyak blogger, makan enak dapat goodie bag lagi.
3.Mendapat kebahagiaan. Mempunyai banyak kawan, membuat saya bersukacita. Banyak kisah-kisah kawan-kawan blogger yang sangat menginspirasi.
 4. Menenangkan jiwa. Kawan-kawan blogger menjadi tempat curhat dan berbagi kisah kehidupan. Beban bisa menjadi lebih ringan. Bersama kawan-kawan blogger, hidup seolahmudah. Persoalan berat ditanggapi dengan santai dan penuh canda. Membuat saya terbebas dari  tekanan/stress.

Bahkan lewat ngeblog pula, saya diberi kesempatan hadir di acara Blogger Nusantara 2013 di Yogyakarta. Bertemu blogger se Indonesia raya, keren kan. Kalau materi, nggak perlu dijabarkanlah. Yang pasti dengan rajin update blog, blog kita akan banyak dikunjungi orang. Makin banyak dikunjungi orang membuat pengiklan melirik blog kita. Job review dari pengiklan, bisa mendekati gaji saya sebulan, semasa kerja kantor. 

Kalau mau mendapatkan seperti apa yang sudah saya dapatkan, nggak susah kok. kalau kamu blogger, pasti sudah punya blog. Nah, kalau sudah punya blog ya di tulis dong. Dengan kata lain, kalau mau mendapatkan banyak keuntungan dari ngeblog.

1. Rajin menulis di blog (So pasti). Masa blogger nggak suka nulis di blog? Apa kata Bblogger?
2. Bergabung dengan komunitas (Ini akan memperbanyak jaringan dan peluang dapat job review) dan bisa mengikuti lomba blog. Gabung deh di Bblog, yaitu sebuah blog network terbaru khusus Indonesia yang dioperasikan oleh CyberBuzz. pemain blog network No. 1 di Jepang dari Grup CyberAgent Inc.Bina Blog Indonesia ini baru hadir Januari 2014. Kehadirannya tentu saja disambut positif para blogger. Jadi jangan ragu untuk bergabung di Bblog. Kamu bisa mendaptkan manfaat dengan menjadi member B Blgo, seperti:
-  Dapatkan akses untuk berkolaborasi dengan premium Advertisers, termasuk brand bermutu yang antusias bekerja sama dengan para member B Blog 
-  Log in ke sistem kami, yang sudah terbukti manfaatnya bertahun-tahun oleh CyberBuzz Jepang – sistem yang mudah digunakan namun canggih membantu Anda mengatur jenis kolaborasi, track results, dan raup manfaat berkolaborasi dengan berbagai macam Advertisers. Setelah resmi berkolaborasi, dapatkan kiriman exclusive sampling products maupun jenis rewards yang Anda inginkan. Nah, terbuka kan peluang dapat "materi" dari ngeblog. 

Mau dafatr? Silahkan di sini  Buruan, jangan di tunda-tunda. Daftarnya GRATIS.

3. Hadiri kopi darat. Walau kita blogger yang terkoneksi lewat dunia maya tapi bertemu langsung juga penting. Ini untuk menunjukan kredibilitas kita. Kalau kita ada dan nyata.
4.Rajin-rajin blogwalking. Ini bukan sekedar menyambung silahturahmi tapi juga memberi kita banyak pengetahuan. Baik dari sisi ilmu maupun gaya kepenulisan. Kalau kamu mengunjungi blog kawan-kawanmu, jangan lupa menjejak. Karena setiap jejak yang kamu tinggalkan, akan membawa mereka mengunjungi blog kamu juga.
Sumber:


Jadi ngeblog itu bikin happy. Dulu saya pakai tag line: Saya ngeblog maka saya bahagia. Dan itu menjadi kenyataan loh. Saya memang berbahagia dengan ngeblog.

berpartisipasi dalam B Blog’s, I A.M a Blogger [4]

@princess_butik
@japansoftlens
@keziashop
@kissindonesia
@lumiere_corner
@galerikuku

Temukan dan Basmi Tubercolosis Sekarang Juga!

Penyakit TB atau Tubercolosis, penyakit yang sangat menjengkelkan. Inilah nama kuman penyebab TB: Mycobacterium tuberculosis. Secara penyakit ini, bisa ada di mana saja dan dengan penyebaran yang cuma mengandalkan udara. Memang cuma infeksi saluran pernapasan. Eh tapi TB bisa menyerang kulit , getah bening,  ginjal dan tulang bahkan otak juga tapi kasus terbanyak masih  TB di paru-paru. Sebetulnya penyakit ini bisa disembuhkan dengan penanganan yang serius.  Bayangkan TB ini masih menempati urtan pertama sebagai penyakit pembunuh di Indonesia.
Ilustrasi penulis


Sangat mudah melihat penderita TB. Berikut Ciri-ciri penderita TB. Jadi mudah kalau mau dicari/ditemukan.

1.         Badan kurus kering

2.         Batuk terus menerus

3.         Mata cekung

4.         Terlihat layu/tidak sehat

5.         Susah makan (Gak selera)



Ilustrasi penulis
Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara:           

Pertama:  Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat). Vaksin ini secara rutin diberikan pada semua balita. Dulu saya memberikan imunisasi pada kedua anak saya mengikuti apa yang disarankan oarangtua dan dokter. Sempat juga berpikir, kasihan amat si bayi dan balita ini harus di vaksinasi. Tapi kenyataannya itu demi kesehatan mereka. Salah satunya Vaksin BCG. Kenyataannya, sangat besar berperanan memberi daya tahan bayi dan balita dari TB.

Kedua.   Vaksin saja tidak cukup. Karena kenyataannya gaya hidup sehat bersih serta makan bergizi sangat penting. Penderita penyakit TB memerlukan didet Tinggi Kalori dan tinggi protein, artinya dengan jumlah yang lebih banyak dari porsi normal dengan ualitas makanan yang ok, terutama kandungan proteinnya.

Ketiga. Ini yang rasanya sulit, apalagi bila kita tinggal serumah dengan penderita. Yaitu menjaga jarak. Jika ada anggota keluarga yang terkena penyakit TB, biasakan  untuk menggunakan masker. Ini sulit dan kenyataan saya gagal, menerapkan pemakaian masker. Suami merasa tersisih, anak-anak juga tidak nayaman. Akhirnya saya mengjinkan tidak menggunakan masker tapi harus menjaga jarak. Boleh memeluk, mencium sesekali, tidak sesering biasanya. Ini membuat suami sangat menderita karena dijauhkan dari kedua anaknya. Tapi saya sering memeluk dan menciumnya.

Gerah dan repot membuat enggan pasien TB pakai masker

Keempat. Olahraga dan makanan bergizi sangat penting. Karena tubuh yang memiliki daya tahan baik, tidak mudah terkena penyakit, apapun, termasuk TB. Umumnya pada pemilik tubuh sehat, kuman TB ada tapi tidak aktif. Jadi kuman TB bisa aktif dengan beberapa kondisi. Daya tahan tubuh turun dan tinggal di daerah kotor adalah dua hal yang paling sering menjadi pemicu “bangunnya” kuman TB.

Sudah lama dan sering disosialisasikan bahwa penyakit TB dapat disembuhkan. Jadi tidak perlu takut. Namun memerlukan keseriusan penanganannya, teruatama dalam mengkonsumsi obat. Pemerintah pernah mesosialisasikan penting PMO (Pengawas Minum Obat) pada penderita TB. Dan ini masih berjalan.

Saya adalah seorang PMO, sejak  Oktober tahun lalu. Suami saya menderita Diabetes Mellitus dan itu memacu keluarnya penyakit TB. Memberi obat, menemani ke RS untuk melakukan pemeriksaan darah dan rontgen hal mudah. Yang tidak mudah,  meyakininya untuk menerima penyakitnya dan serius menjalani perawatan dan pengobatan. Karena itu orang dengan virus TB harus ditemukan dan diobati. Basmi TB sekarang juga