Google Adsense

Tampil Modis Saat Makan Malam dengan Patner Bisnis

Sumber:

Pernah pusing, saat memikirkan busana yang akan dikenakan ketika diajak makan malam sama partner kerja? Saya pernah. Awalnya saya tidak pernah memikirkan akan diajak makan malam. Karena, pekerjaan kami biasanya dilakukan pada siang hari. Normalnya di jam kerja secara umum (09.00-17.00). Ternyata, berbisnis bukan hanya mengandalkan intelektual saja, namun penampilan juga penting apalagi jika  dituntut untuk bertemu dengan klien. Meskipun hanya sebatas hubungan rekan kerja, tampil professional harus selalu diprioritaskan meskipun berada di luar kantor. Misalnya makan malam bersama dengan patner bisnis. Nah berdasarkan pengalaman  mengalami masalah dalam memilih busana untuk malam malam, saya menemukan beberapa tips yang bisa jadi solusinya.

Makan Malam Santai
Busana ekstra kasual cocok untuk sekedar makan malam ke restaurant yang sifatnya santai. Banyak pilihan model busana yang bisa anda pilih. Seperti menambahkan kardigan atau craft dileher dengan balutan sandal atau sepatu tanpa hak. Sehingga anda bisa tanpa semi formal. Walaupun santai, hindari memakai kaos ketat karena tampilan anda akan terkesan berantakan dan tidak sopan.


Makan Malam Di Kafe
Apabila anda diundang ke kafe baik itu indoor maupun outdoor, anda bisa menggunakan jeans dengan blus. Sehingga anda terlihat rapi. Untuk blusnya sendiri anda bisa memakai lengan panjang atau long top. Anda juga bisa menambahkan aksesori seperti gelang atau kalung dan sepatu hak berukuran 3 hingga 5 cm. Untuk sandal atau sepatu anda juga bisa menggunakan sandal atau sepatu semi formal.

Makan Malam Mewah
Menggunakan dress memang tepat jika anda diundang ke restaurant mewah. Pilih warna dress panjang warna hitam atau pilihlah warna yang sesuai dengan tempat tujuan anda makan malam. Selain itu pilih dress berukuran panjang hingga selutut. Jangan menggunakan model dress yang berlebihan. Gunakan saja dress simple yang ditambahkan kalung, gelang atau scraft dileher sebagai pendukung. Jika anda tak sempat membeli dress, anda bisa klik MatahariMall.com. Toko online ini banyak menyediakan koleksi dress wanita murah yang bisa anda gunakan untuk makan malam.


Dengan pilihan model pakaian ini tentu anda bisa menjaga profesionalitas meskipun berada diluar kantor dan diluar jam kerja. Rekan bisnis anda pun akan senang dengan menganggap anda professional dimana saja. 
Read More

Wajah Baru Stasiun KA, Maja, Parung Panjang dan Kebayoran

Di Stasiun Maja
Saya, salah satu masyarakat biasa yang sangat setuju dengan angkutan masal, seperti Kereta Api (KA).  Soalnya, saya sudah bosan dengan kemacetan yang menjerat  kota-kota besar. Saya bertempat tinggal di Tangerang. Sama seperti kaum urban lainnya, aktifitas saya banyak di Jakarta. Jarak tempuh yang tak jauh, namun akibat kemacetan membuat perjalanan menjadi lama. Banyak waktu terbuang dan bikin bĂȘte. Memang dengan adanya teknologi lewat telepon pintar dalam genggaman, saya masih bisa melakukan sesuatu dari atas angkutan. Tapi jika boleh berharap waktu tempuh perjalanan tidak lama, tentu akan meningkatkan kinerja dan perputaran ekonomi.

Sabtu, 7 Mei 2016, saya mengikuti #BloggerWisataStasiunDJKA  yang diselenggarakan TDB (Tau Dari Blogger) dengan DJKA Dishub. Perjalanan ini untuk melihat   tiga stasiun KA yang sudah selesai renovasi dan  akan diresmikan, Rabu 11 Mei 2016. Kerenkan? Keren dong, bisa menjadi satu dari  30 blogger yang mendapat kesempatan menyaksikan stasiun-stasiun baru.
Di Stasiun Parung Panjang, sepanjang naman stasiunnya
 Tiga stasiun itu adalah 1). Stasiun Maja, terletak di Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Terletak di antara Stasiun Tigaraksa – Stasiun Rangkasbitung.  2). Stasiun Parung Panjang, yang terletak di kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. 3).  Stasiun Kebayoran, yang terletak antara stasiun Palmerah – Stasiun Pondok Ranji,  berada di Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Stasiun ini berada di Jalur kereta api Tanah Abang – Merak.

Titik kumpul di stasiun KA Palmerah, yang sudah duluan menjadi contoh stasiun KA yang modern. Seperti biasa, blogger kalau nggak foto-foto narsis bukan blogger namanya. Maka setiap sudut bisa menjadi spot cantik berfoto. Sebelum berangkat kami mendapat sedikit pengarahan dari Kepala Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Joice Hutajulu. Beliau juga menjelaskan kalau stasiun Palmerah inilah yang menjadi percontohan pembangunan stasiun lainnya, seperti yang akan kami kunjungi.


 Welfie bersama Kepala Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Ibu Joice Hutajulu

Di bilang modern dan megah karena banyak fasilitas baru yang dibuat untuk kenyamanan penggunaan angkutan KA. Ketiga stasiun KA yang kami kunjungi, memiliki dua lantai, lengkap dengan tangga berjalan, dan lift yang akan mempermudah kaum lanjut usia atau saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus.
Di stasiun Kebayoran


Fasiitas lain, Toilet yang bersih (Lagi-lagi, mungkin karena masih baru, entah kalau sudah sebulan dua bulan) Juga ada Toilet khusus penumpang berkebutuhan khusus dan Ruang Kesehatan (P3K) bagi penumpang yang mengalami sakit atau kecelakaan di stasiun tersebut. Ada ruang Menyusui untuk Ibu-ibu yang yang ingin memberikan asi. (Buat saya ini kemajuan, ada perhatian yang lebih baik bagi kaum ibu terutama ibu menyusui) Tempat ibadah/musholah walau tidak terlalu luas dan letaknya masih tersembunyi. Ada juga tempat-tempat sampah yang sudah terbagi untuk organic dan non organik.

Artinya secara keseluruhan, fasilitas yang ada sudah memadai, namun yang perlu menjadi perhatian lebih adalah bagaimana menjaga semua yang ada agar tetap terpelihara dan ada pada tempatnya. Karena saya mendengar dari Ibu Joice, masih banyak tangan jahil yang bukan sekedar mencoret-coret fasilitas yang ada tapi juga memindahkan dari stasiun ke tempat lain alias dicuri. Lampu-lampu, misalnya.

Untuk mengatasi hal semacam ini, barangkali perlu diadakan semacam sosialisasi atau bincang-bincang dengah masyarakat yang bertempat tinggal disekitar stasiun untuk turut menjaga. Karena keberadaan stasiun juga menjadi pusat bisnis local yang berarti memberi dampak eknomi bagi masyarakat yang tinggal disekitar stasiun.


Saya angkat jempol dan salut atas upaya DJKA yang terus membenahi infrastruktur. Harapan ke depannya, KA benar-benar menjadi angkutan masal yang berkwalitas dan memberi dampak positif bagi keseluruhan sarana dan prasarana transportasi yang ada di Indonesia. Karena bukan hal yang mustahil, adanya KA di seluruh wilayah Indonesia, mempermudah masyarakat mengunjungi seluruh pelosok negeri.  Dengan mengenal lebih dekat negeri sendiri, dengan sarana transportasi yang memadai, maka mengenal dan mencintai negeri sendiri akan menjadi penguat nasionalisme.
Read More

Wings dan Econity 90, Wujudkan Sekolah Di Negeri Sampah

Lurah Sumur batu, Ketua Econity90, Rahmat Susanta dan Ibu Gabriela dari Wings
(Dok: Elisa Koraag)
Komitmen Yayasan Wings Peduli Kasih dan Yayasan Econity90 terus berjalan. Kali ini adalah kali ketiga. Kegiatan pertama bisa di baca di Catatan saya di sini dan Kegiatan kedua bisa di baca  Catatan saya di sini.

Kali ketiga ini adalah penyerahan dan peresmian apa yang sudah di mulai pada Januari 2016 yang lalu. Ya Awal tahun 2016, Yayasan Wings Pedulis Kasih dan Econity90 meletakan batu pertama untuk membangun Sekolah Alam Tunas Mulia. Dan hari ini, sekaligus dalam mensyukuri Hari Pendidikan Nasional, Gedung Baru Sekolah Alam Tunas Mulia sudah bisa ditempati. Dalam sambutannya, Lurah Sumur Batu mengharapkan anak-anak kian semangat belajar. Karena pendidikan adalah salah satu kekuatan untuk mengentaskan kemiskinan.
Stake holder wilayah Sumur Batu, Anak-anak pengis acara
(Dok: Elisa Koraag)

Group Head of Marketing Communications PT. Sayap Mas Utama (Representative Yayasan Wings Peduli Kasih), Aristo Kristandyo, dalam sambutan tertulisnya mengatakan: Secara pribadi sangat terinspirasi dari kisah-kisah di buku Pak Nadam. Semoga langkah kecil yang dilakukan Wings dapat membantu dan memotivasi anak-anak Bantar Gebang, khususnya sekolah Tunas Mulia untuk belajar lebih giat dan kami menghimbau masyarakat lain di luar sana dari perusahaan maupun instansi pendidikan untuk turut serta memberikan sumbangsih dalam bentuk moral dan materi kepada anak sekolah Tunas Mulia demi masa depan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Kami juga mengapresiasi para guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mengajar anak-anak ini dengan kasih dan tulus ikhlas,”
 

Peresmian Gedung Sekolah Alam Tunas mulia,
Perwakilan Yayasan Wings Pedulis Kasih dan Yayasan Eonity90
(Dok: Elisa Koraag)

Ketua Dewan Pengurus Econity90, ujar Rahmat Susanta, mengucapkan banyak terima kasih ada Wings Group dan berharap kelas baru ini dapat menambah semangat belajar bagi generasi penerus bangsa di Sekolah Tunas Mulia ini. Masih sangat banyak anak bagsa dengan orang tua berpenghasilan rendah yang membutuhkan rumah tinggal layak, lingkungan sehat dan fasilitas pendidikan yang memadai. Maka dari itu selama masih punya kesempatan, kami akan terus memberi uluran tangan dengan mencari dan membantu masyarakat yang membutuhkan,”
Saya bersama Pendiri Sekolah Alam Tunas Mulia dan penulis Buku: Membangun Impian
dari negeri Sampah, Bp. NS Dwi Subekti
(Dok: Elisa Koraag)
Pada kesempatan ini pula Wings Corporation mendukung peluncuran buku “Impian dari Negeri Sampah” yang ditulis oleh salah satu pendiri sekolah Tunas Mulia, Bapak Nadam Dwi Subekti. Buku “Impian dari Negeri Sampah” karangan Nadam Dwi Subekti mengisahkan 43 kisah nyata mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Bentar Gebang yang dikiaskan melalui sebutan “negeri sampah.” 

Kisah-kisah menarik seperti awal mula anak Bantar Gebang mengawali mimpinya dengan bersekolah hingga berbagai permasalahan yang tak luput datang silih berganti di negeri sampah. Dari masalah longsor sampah, larangan sekolah, pernikahan dini, makanan dari sampah, temuan mayat bayi, penemuan sampah-sampah unik yang tidak biasa dan masih banyak lagi kisah-kisah nyata yang akan membuka mata pembacanya untuk mengetahui polemik kehidupan masyarakat yang tinggal tidak jauh dari ibu kota ini. 



Read More

Amaris Hotel Pancoran, Tempat Seru Buat Hangout


Bertemu kawan maya di dunia nyata adalah sebuah sukacita. Akhir April lalu, tanpa rencana dan semua terjadi begitu saja, saya bertemu dengan 9 kawan dunia maya di dunia nyata. Bermula dari kedatangan blogger Puertorico alias Purwokerto, Pungky Prayitno. Saya dan Pungky serta 20 blogger lain yang tersebar di Jakarta, Jawa, Irak serta New York, dalam grup WA, Em(b)ak Ceria. Kami sekumpulan perempuan, ada yang menikah dan ada yang belum, selalu ceria, berbagi telinga dan hati untuk semua permasalahan. Saling mendukung dan memberi semangat, rajin mengadakan kuis demi kegembiraan bersama. Itulah Kami, Em(b)k Ceria. 

Dan ketika mendengar Pungky akan datang ke Jakarta, tentu saja kami yang tinggal di Jabotabek, menyambut dengan sukacita. Kami ingin menjumpainya. Pungky Menginap di Hotel Amaris, Pancoran. Sebuat hotel yang masih dalam satu manjemen dengan Santika Hotel. Berada dalam naungan Kompas Gramedia Grup.

Namun demikian Hotel Amaris yang tumbuh pesat sejak delapan tahun terakhir adalah hotel yang bisa dimiliki dengan sistem frenchise. Kini sudah ada hampir 60 hotel tersebar di seluruh Indonesia, juga Singapur. Dan Amaris adalah hotel lokal yang go Internasional. Satu-satunya Hotel kepemilikan Indonesia yang ada di luar negeri. Gaya ya.



Hotel Amaris Pancoran memiliki delapan lantai dengan total 90 kamar. Dengan rata-rata tingkat hunian lebih dari 85%. Sebagai hotel bintang tiga yang memproklamirkan sebagai hotel bisnis, Hotel Amaris memberikan layanan yang memenuhi kebutuhan dasar para pebisnis. Kamar yang nyaman dengan ac dan free wifi, kamar mandi dengan perlengkapan standar, plus sarapan enak. Letaknya yang starteggis di pusat kota, membuat hotel Amaris Pancoran menjadi andalan para pebisnis yang datang di Jakarta. Harga kompetitif dan layanan yang baik, membuat saya ingin kembali lagi.

Kami berkumpul sejak siang, ngobrol, makan siang, hotel tour dan foto-foto narsis menjadi acara pembuka.Lalu kami istirahat untuk mandi. Berkumpul kembali untuk santap malam. Kami makan siang masih di ruang meeting. Makan malam di Xpress Resto. Sajian bawal goreng lengkap dengan sambal dabu-dabu, sop buntut, udang goreng tepung, macaroni carbonara, sapo tahu dan buah segar, memberi kenikmatan yang pol!




Singkat cerita dari 10 blogger yang berkumpul, tiga diantaranya tidak bisa bermalam. Kami bertujuh bermalam di empat kamar. Oh ya, ada 3 tipe kamar, Kamar dengan twin bed, single bed dan kingsize bed. Terdiri dari kamar dengan smooking area dan no smooking area. Bermalam bersama, tentu tidak lantas kami habis dengan tidur begitu saja. Kami berkumpul di satu kamar dan pilihan jatuh di kamar saya. Kami bertujuh, bertukar cerita, tertawa tergelak-gelak. Dari kantuk yang datang karena perut kenyang hingga gelak tawa menghilangkan kantuk, sampai datang lagi karena waktu memang kian larut. Rasanya belum  puas, ketika kami semua harus menyerah lelah dalam kantuk, Kumpul-kumpul bubar. Kami tidur dengan senyum mengembang di bibir. Karena pertemuan yang menyenangkan dan tempat tidur serta kamar yang memang nyaman.

Lelap di tempat yang nyaman, berdampak pada kesegaran saat bangun. Sukacita memenuhi diri, saya bergeas mandi. Usai mandi sebelum turun sarapan, saya menikmati dengan berselfie. Lalu packing, supaya saat turun sarapan, bisa sekalian check out. Sarapan di Xpress resto dengan prasmanan. Nasi goreng, nasi putih, sayur, kering tempe, udang goreng tepung dan anek sambel plus kerupuk. Ada omelet, roti panggang, bubur ayam juga buah segar. 

Ternyata hangout di hotel itu seru. Hotelnya nyaman, bagaimana nggak nyaman, justru diakhir pekan semua santai. Sebagai konsumen yang menginap, saya merasa enjoy. Sebelumcheck out, kami masih melakukan beberapa sesi foto di halaman. Pokoknya hangout di Hotel Amaris Pancoran, membuat kami berencana untuk kembali dan berkumpul lagi.


Read More

Ida Tahmidah, Mompreneur Peduli Keluarga

Ida Tahmidah, seorang ibu dengan 5 anak (3 putri, 2 putra). Mengaku memang senang menulis, namun baru sadar saat hamil anak ke-4. Sumpah, saya tidak bisa membayangkan, jika kesukaannya pada aktifitas menulis, disadari sejak masa sebelum menikah, entah berapa buku akan tercipta dari tangannya.  Pasti akan banyak kisah tercipta dalam bentuk tulisan. Mengingat Ida Tahmidah memiliki banyak pengalaman. Yup, menyusuri blognya, membuat saya memberi judul tulisan ini: Ida Tahmidah, Mompreneur Peduli keluarga.

Sumber foto: 


Baca terus yuk. Ida bercerita, setelah lulus kuliah sempat kerja di beberapa yayasan Islam yg bergerak di bidang pendidikan, kemudian pindah ke perbankan dan pindah lagi ke Rumah sakit. Setelah hamil anak pertama, baru memutuskan berhenti bekerja.

Ida termasuk orang yang cepat memanfaatkan situasi. Karena tempat tinggalnya di Cimahi dekat dengan kos-kosan mahasiswa, Ia  memanfaatkan peluang yang ada dengan  menjalani usaha laundry kiloan. Istri, ibu dengan lima anak, mengelola usaha laundry kiloan dan ngeblog, oh my God. Darimana perempuan ini mendapat energi menulis?

Perempuan yang sudah menulis sejak jaman multiply. Sama seperti kebanyaan blogger, pasang surut semangat menulis itu, pasti ada. Tapi motivasinya menulis bangkit kembali, manakala menyadari, ketika ia berhenti menulis, anak-anaknya yang suka menulis juga berhenti menulis. Berdasarkan hal tersebut ia kembali menulis, karena ia ingin anak-anaknyapun kembali menulis.  Si sulung bahkan sudah menerbitkan novel dan anak ketiganya juga memenangkan kompetisi menulis. Asli, ini keren banget, di dalam rumah, bisa saling menyemangati.

Housewife, Mother,Blogger, Mompreneur, Freelance Writer/Review Product, itu yang tertulis pada profile twitternya. Ketika saya mengunjungi blognya. Saya serasa memasuki dunia yang penuh kedamaian. Beberapa reviewe produk yang ditulisnya, memberikan informasi yang perlu diketahui banyak orang. Nggak semata-mata memuji atau mencela produknya. Sebaliknya catatan-catatan parentingnya, dituliskan dengan gaya yang alami.

Memasuki blognya, akan terbaca betapa ia blogger yang rajin. Rajin menulis, rajin mendapat job review dan rajin mengikuti lomba. Terlihat juga catatan-catatan dari gathering blogger yang dihadirinya. Benak saya masih mencari-cari cara ia membagi dirinya antara tugas dan perannya, sebagai istri, ibu dengan berbagai aktifitas yang dijalani. Kuncinya, komunikasi dan kerjasama dengan suami.

dalam salah satu postingan di blognya, ternyata ibu yang satu ini rajin hadir di blogger gathering dengan banyak prinsip berhemat. Pergi pulang, kalau bisa diantar suami. Kalau nggak bisa diantar, pilih naik angkot, supaya hemat. Sebagai tanda terima kasih untuk pengertian anak-anaknya yang sempat ditinggal saat menghadirkan acara blogger, Ibu satu ini membawakan oleh-oleh. Terakhir, jika punya voucher belanja dari goodibag acara blogger, ia belanja bersama anak-anak dan memberi penjelasan. Voucher itu dari berkah ngeblog. Anak-anak senang dan paham, jadi nggak protes lagi kalau sang ibu menghadiri acara blogger.

Kami sama-sama pernah mengiktui tantangan  menulis ODOP-One Day One Post dari Ani Berta. Saya gagal di 3 hari terakhir. Karena ke luar kota. Kesibukan di luar kota dan akses internet yang byar pet, membuat saya harus mengakui belum sekuat orang lain dalam mengikuti tantangan tersebut. Sedangkan Ida, tamat 14 hari dengan14 artikel. Kerenkan? Semangat model gini ini yang perlu saya contoh. Walau beberapa artikel, dituliskan jelang DL, (Itu mah, saya banget) Ida menyelesaikan tantangan ODOP dengan sukses.

Mau mengenal beliau lebih dekat? Kunjungi media sosialnya.




Read More

Ingin Batal NIkah


Saya mengurus sendiri pernikahan saya dan suami. Mulai dari mengurus administrasi di tingkat RT, kelurahan, catatan sipil hingga ke gereja tempat pernikahan kami diberkati. Jujur, mengurus administrasi pernikahan itu nggak ribet. Cuma memang harus menyediakan waktu. Karena Pak RT tidak 24 jam ada di rumah. Pun petugas kelurahan dan Catatan Sipil serta administrasi gereja. Semuanya, ada/buka pada jam kerja. Berarti harus izin kerja atau cuti.

Perencanaan pernikahan saya sekitar setahun. 6 bulan pertama hanya antara saya dan calon suami. Lalu 6 bulan berikutnya baru melibatkan orangtua dan keluarga besar. Tapi saya dan calon suami memegang kendali penuh. Saya orang yang tidak suka berhutang budi, walau itu pada keluarga sendiri. Saya merasa kalau untuk urusan pernikahan saja dibantu, berarti saya membuka cela orang lain ikut campur dalam pernikahan saya.

Sebetulnya bantuan keluarga besar adalah bagian dari gotong royong dan persaudaraan itu sendiri. Tapi entah mengapa, saya sangat takut kalau nanti urusan rumah tangga saya ada yang ikut nimbrung. Apapun bentuknya. Baik nasehat atau materi. Sehingga saya rela pontang-panting mengurus sendiri.

Calon suami saya itu, yang kini sudah menjadi papanya kedua anak saya, adalah orang yang sangat perhatian. Tidak romantis tapi selalu mau saya merasa nyaman. Seingat saya, dia memberi saya bunga hanya sekali, yaitu di hari ulang tahun di tahun pertama kami sepakat berjalan sama-sama. Selanjutnya tidak pernah sampai tahun ini, jelang 20 tahun pernikahan. Begitu juga hadiah atau surat, lelaki saya hanya memberikan saya dengan jumlah yang bisa dihitung dengan jari.

Ada satu catatan kecil yang dituliskannya dan disematkan di bunga saat saya ulang tahun 1988. Catatan itu tulis tangan dan dituliskan di atas kerts yang digunting berbentuk hati. Kalau lipatannya dibuka aka nada tiba bentuk hati yang bergandengan. Karena itu ucapan pertama dan isinya sangat-sangat manis, maka saya menyimpannya di dompet. Tapi akhirnya hilang karena dompetnya dicopet. Untungnya perasaan saya tidak ikut hilang terbawa copet.

Hal yang memalukan terjadi jelang kami menikah. Ingin rasanya membatalkan pernikahan. Kalau mengingat oeristiwanya, muka ini terasa menebal. Saya nggak tahu, Papanya anak-anak ingat atau tidak dengan peristiwa tersebut. Cerita pada hari dan waktu yang sudah disepakati, saya dan calon harus menghadap pegurus administrasi gereja, untuk membahas detil pemberkatan nikah.

Kami datang berdua dengan sukacita, pernikahan kurang dari sebulan. Nah saat menghadap pengurus administrasi, si pengurus mempersilakan kami duduk. Pengurus administrasi gereja duduk di balik meja. Di depan mejanya ada dua kursi di mana saya dan calon akan duduk. Ketika si pengurus mempersilakan duduk, saya langsung duduk tanpa melihat letak kursi. Karena saya tahu dengan persisi di mana kursinya. Tapia pa yang terjadi? Saya jatuh terjengkang. Di belakang saya nggak ada kursi. Saya yang saat itu pakai rok karena pulang kerja, jatuh dengan posisi yang aduhai.


Pengurus admnistrasi gereja dan calon saya terlihat panic. Tapi mereka segera membantu saya berdiri. Calon saya, terus-terusan minta maaf, sementara keinginan saya saat itu hanya satu-Hilang dari permukaan bumi. Ternyata saya bisa jatuh karena caon sayan tiba-tiba mejadi gentleman, dengan menarik kursi agar saya mudah duduk. Calon saya berpikir, letak kursi terlalu mempet dengan meja, sehingga menyulitkan saya duduk. Namun apa mau di kata, niat baiknya justru mencelakakan dan mempermalukan saya. Jangan membayangkan lalu tertawa yah. Itu peristiwa yang memalukan tapi mungkin karena saya mencintainya, pernikahan kami tetap dilangsungkan.
Read More

Mading Media Ekspresi Naksir Si Dia

http://sdisriati2.sch.id/info-88-berkreasi-lewat-majalah-dinding.html


Menuliskan tentang Mading-Majalah Dinding, saya seperti terlempar mesin waktu ke masa pra remaja. SMP tempatku menempuh ilmu memiliki kegiatan ekstra Mading. Rasanya, saat itu saya berasa menjadi orang hebat. Bagaimana enggak, seminggu sekali rapat. Sama-sama membicarakan tema Mading. Mading terbit, eh bukan terbit ya. Di pajang di salah satu sudut dinding sekolah. Materianya/isi diganti seiap dua minggu. Rapat pengurus Mading, untuk menetapkan tema, dua episode.
Dengan arahan guru bahasa Indonesia, saya dan kawan-kawan serius menggarap isi Mading. Secara garis besar Mading berisi.

1.        Info sekolah berupa pesan Kepala Sekolah/guru terkait aktifitas sekolah, termasuk jadwal test:

2.        Catatan/renungan terkait hari besar agama/Nasional. Biasanya ditulis oleh guru agama atau salah satu guru yang ditugaskan Kepala Sekolah.

3.       Catatan pengurus OSIS terkait aktifitas sesama murid.

4.       Rubrik sajak/puisi

5.       Rubrik cerita remaja/cerita pendek

6.       Profile siswa berprestasi

7.       Kritik dan saran

Tuh, banyakkan isi Madingnya.  Pengurus Mading, memiliki tugas masing-masing yang kami kerjakan sepulang sekolah. Yang membuat kegiatan mengisi Mading seru karena di tulis tangan. Saat itu, ada dua teman saya yang memiliki kemampuan menulis indah. Terus ada juga yang mempunyai jiwa seni dalam menyusun Mading dan menghiasnya sehingga terlihat menarik.
Kalau pesan Kepsek atau guru biasanya di ketik. Juga pesan dari pengurus OSIS. Tapi kalau sajak/puisi/cerpen. Profile siswa berprestasi dan kritik-saran, semua tulis tangan. Menjelang ganti Mading hari Senin, biasanya pengurus Mading selalu datang ke sekolah di Hari Minggu. Saya senang karena berasa menjadi orang hebat.
Apalagi, jika Mading disinggung saat inspektur upacara member sambutan di upacara bendera, Senin pagi. Dada ini terasa panas dan sesak Karena jantung berdetak lebih kencang. Selain itu, saya suka membaca saja-sajak yang ditunjukkan pada seseorang yang ditaksir. Yang naksir menggunakan nama pena, sedangkan yang ditaksir disebut hanya inisal namanya tapi di sebut dari kelas berapa.
Nama-nama pena yang naksir ada Timah Putih, Black Mamba, Mistery Man, Pendaki Gunung dan lain-lain. Pokoknya seru deh. Menuliskan seputar majalah dinding, sisi hati saya terasa hangat. Kenangan-kenangan puluhan tahun lalu, berputar bagai video. Tringat kembali keresahan-keresahan yang membuat saya sulit tidur. Karena ada sajak-sajak yang dituliskan untuk saya, namun penulisnya hanya menuliskan : NNiYH-No Name in your Heart.
Kok tahu sajaknya untuk saya? Tahulah, karena isinya menceritakan kegiatan saya disudut pandangnya. Dan hingga kini saya tetap tidak tahu siapa NNiYH. Mustinya salah satu pengurus Mading. Karena dia tahu aktifitas saya dengan detil. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Kisah menjadi pengurus Mading dan my secret admire, biarlah jadi sepotong kisah dalam kenangan. Karena pada akhirnya Mading membuat saya memahami banyak perasaan orang lain. Membuat saya mengagumi kehebatan media. Mading-media sederhana mampu menghidupkan harapan-harapan.
Ketika saya SMA, Mading tidak terlalu istimewa karena trendnya berkirim surat dengan kertas surat yang harum . Mading tidak menjadi media ungkapakn perasaan naksir si Dia. Tapi kegiatan Mading tetap menjadi aktifitas menarik karena diberi kesempatan melakukan liputan ke sekolah lain. Menurut saya Mading mejadi kegiatan yang positif.
Saya sempat membantu si Bungsu Van, membuat Mading saat Van duduk di sekolah dasar.  Cuma berbeda pengerjaannya. Mungkin pihak seklah males. Pihak sekolah menyediakan etalase tertutup kaca. Tapi isi Mading tidak dilakukan berkelompok oleh satu kepengurusan. Madding dikerjakan oleh siswa kelas V dan VI, di mana dari setiap kelas, ditunjuk 2 orang membuat Mading lengkap di atas karton. Tema ditentukan, lalu siswa mengerjakan sendiri. Setiap Senin Mading diganti. Setia episode Mading ada 4 anak yang mengisi dan itu bergiliran.

Terlepas bagaimana pengaturannya, ada Mading di sekolah tetap baik adanya. Mading memberikan pengalaman batin yang kaya. Pengurus Mading diajar saling membantu dan saling mendukung. Lewat mading ada bibit keinginan menulis yang tertabur. Melihat Mading masih ada di beberapa seklah yang say temui, saya tetap senang. Bahkan Mading bukan Cuma di sekolah karena di perumahan/di desa Mading masih ada. Untuk melaporkan kegiatan warga termasuk pesan pemerintah lewat Camat atau RW dan Rt. Mading itu kegiatan yang seru.
Read More

Ira Guslina dan BPJS-Kesehatan


Sosok perempuan ini, tidak jauh berbeda dengan saya. Awalnya aktifis kampus, lalu menjadi pekerja dan akhirnya memutuskan menjadi fulltime Mom. Gue banget! Bedanya, perempuan ini, masih muda. Anaknya saja masih Balita. Th 2003-2007 saat dia masih berkutat di Kampus, saya sudah keliling Indonesia. Sebaliknya kelebihan perempuan ini juga banyak. Karena kegiatan penelitiannya, menghantarkan ia ke luar negeri secara GRATIS. Duh, saya kalau dengar kata GRATIS, kok agak-agak KEPO. Kok bisa ya? Soalnya saya termasuk yang sangat menyukai segala sesuatu yang GRATIS apalagi kalau ke LN.

Namanya Ira Guslina, memiliki  alamat blog di www.DuniaBiza.com yang berisikan catatan dunia parenting. Walau usia blognya belum lagi setahun, tapi catatannya tidak menunjukan hal itu. Catannya enak disimak. Saya juga seorang ibu, saya juga punya dua anak tapi saya nggak sedetil dirinya, dalam menuliskan dunia parenting. Untuk mengetahui, mengapa ia memberi nama DuniaBiza pada blognya, bisa diintip di sini:  http://duniabiza.com/…/reinkarnasi-mari-menulis-blog-yang-…/

Menurut pengakuannya, ia sudah bertemu dengan saya. Tapi saya nggak tahu. Di acara yang disebutkannya memang saya hadir, namun sulit bagi saya mengenali dirinya di antara 50 Emak Blogger. Ya, kami betemu di HUT Kumpulan Emak Blogger. Saya berjanji, jika bertemu lagi akan foto bersama.
Sebagai isti dan ibu dua anak, Ira juga peduli pada kesehatan keluarga. Sebagai warga negara yang baik, Ia menggunakan BPJS kesehatan untuk memelihara kesehatan keluarganya. Ikut perintah negara dan kantor, ujar perempuan berdarah Minang. Hmmm-kok sya terbayang rending?-Abaikan.

Ia berbagi pengalaman, ketika menggunakan BPJS. Menurutnya diperlukan kesabaran untuk pengurusan administrasi. Karena melewati beberapa “gerbang” dibanding berobat normal. Eh emang ada berobat nggak normal?  Just kidding. Ia melanjutnya, kalau tenis berobat (berusurusan dengan dokter) sama saja seperti menggunakan asuransi biasa.

Ira berpendapat: Prinsipnya dan dasar awal pemberlakuannya oke. Sayangnya kesiapan di lapangan tak secepat dan sesiap rencana. Misalnya jumlah rumah sakit yang menerima pasien BPJS kesehatan masih terbatas dan dengan jumlah pasien terbatas. Untuk pekerja swasta yang biasa menggunakan asuransi swasta jadi kesulitan dan kadang harus turun grade. Pengaturan adanya rujukan dan penentuan rumah sakit rujukan juga membuat tak nyaman peserta yg sebelumnya memakai asuransi swasta.  Sebenarnya bukan masalah bila diwajibkan pindah dari asuransi swasta ke BPJS asal rumah sakit yang ada dan aturan berobat juga siap.



Saya juga memiliki pengalaman serupa. Saat mengurus si Sulung yang menjadi pasien TB. Di Puskesmas, data semua sudah ok tapi begitu tiba di RS rujukan, masih harus mengisi data. Ini menimbulkan antrian lumayan panjang. Bukannya sudah system online ya? Memang perlu ada verifikasi data tapi seharusnya dengan system online, pelayanan bisa dipersingkat waktunya, dengan begitu, pasien bisa lebih cepat tertangani.

Ketika saya tanyakan. Dari skala 1 sampai 10 pelayanan  BPJS akan diberi nilai berapa? Menurut Ira, BPJS kan hanya metode pembayaran, kalau JKN, Ira memberi nilai 6. Memang sih BPJS harus ditingkatkan pelayanannya. Karena tujuannya kan untuk memberi layanan terbaik bagi masyarakat.

Berikut 3 saran Ira Guslina untuk BPJS.

1. Badan bertanggung jawab memastikan kenyamanan pasien. Jika ada pasien ditolak rumah sakit BPJS tidak boleh pura-pura tidak mengetahui dan hanya menyampaikan himbauan bahwa pasien tidak boleh ditolak.

2. BPJS Harus membuka mata bahwa  masyarakat antri, karena terbatasnya front desk yang melayani di RS.  BPJS harusnya bisa menambah tenaga sehingga tak terjadi penumpukan pasien? Rekrut tenaga kontrak untuk jangka pendek misalnya.

3. Perbaikan prosedur perpendek alur dan tingkatkan kapasitas layanan.

BPJS dibutuhkan dan saya tahu masyarakatpun membutuhkan. Perlu ada saling pengertian, antara masyarakat dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan agar proses pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan tingkat pertama, bisa sama baiknya dengan di RS rujukan. Caranya? 3 saran Ira barangkali bisa membantu.
Read More