Koteka Trip: Tur Kemerdekaan, Menapaktilasi 3 Museum Jelang Detik-Detik Proklamasi 1945


Tahun ke tahun, bulan kemerdekaan, Agustus selalu di isi banyak kegiatan. Salah satunya tur dari museum ke museum. Mengingat rayakan Proklamasi RI ke 77 tahun 2022, Saya mengikuti kegiatan yang diadakan Komunitas Travel Kompasiana, Koteka.  kegiatan bertajuk tur kemerdekaan, mengunjungi 3 museum untuk menapaktilasi detik-detik Proklamasi 1945. 

Bagi sebagian orang, museum tempat yang kurang menyenangkan. Tapi bagi sebagian orang lagi, museum justru menjadi destrinasi wisata yang selalu dicari. Mereka adalah para pecinta sejarah. Buat saya pribadi, sejarah terutama sejarah kemerdekaan, sejarah kebangsaan adalah bahan utama untuk menjaga dan meningkatkan semangat nasionalisme.

GEDUNG JOEANG 45







Tur di mulai dari Jalan menteng raya 31, yang kini disebut Gedung Joeang 45. Dulunya gedung ini adalah Hotel Schomper dibangun tahun 1938 dan diberi nama sesuai pemiliknya  "L.C. Schomper", seorang warga negara Belanda yang lahir dan besar di Batavia. Tiang-tiang besar di depan gedung adalah ciri yang ada sejak dibangun. 

Hotel ini digunakan untuk peristirahatan/penginapan keluarga, kerabat dan para pejabat di masa itu. Saat Belanda kalah dari Jepang, semua warga berkebangsaan belanda harus angkat kaki dari indonesia termasuk LC Schomper dan keluarganya. 

Aset-aset Belanda yang disita Jepang dilakukan  Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendenbu) pada Juli 1942. Nah atas izin Gunseikanbu Sendenbu, hotel sitaan ini beralih fungsi sebagai asrama pemuda Indonesia, yang disebut sebagai Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama 31. 

Tempat yang fungsinya sudah berubah menjadi asrama, dimanfaatkan para pemuda untuk pelajaran/pendidikan politik. Kaum tua Bung Karno, Bung Hatta, Achmad Subardjo mendidik kaum muda, antara lain: Chairul Saleh, Sukarni. AM Hanafi,  juga Adam Malik. Gedung Joeng 45, bisa dibilang sekolah politik pertama bagi pemuda pada masa itu.

Di Gedung Joeang 45, tersimpan benda-benda dan catatan-catatan sejarah perjuangan. Termasuk Meja Baca Bung Hatta, penjelasan-penjelasan, siapa itu pemuda yang belajar di tempat itu. 

Oh ya, di Gedung Joeang 45 juga tersimpan mobil RI 1, termasuk mobil yang di lempari granat dan dihujani tembakan pada percobaan pembunuhan Presiden Sukarno saat akan menghadiri ulang tahun ke 15 sekolah Perguruan Cikini (Percik) tempat anak-anak Presiden Sukarno bersekolah, yaitu:  Guntur dan Mega. Presiden sukarno selamat tapi banyak korban berjatuhan.

MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI (MUNASPROK)


Dari Jalan raya menteng 31, peserta berjalan kaki menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi di jalan Imam Bonjol. Melewati kawasan yang juga memiliki catatan sejarah.

Lewat Pabrik roti jadul Tan Ek Tjoan, Hotel Cikini yang terkenal dengan Es krim Tjan nyan. Rumah Menlu RI Pertama Achmad Subardjo, Taman Ismail Marzuki yang dulunya kompleks perumahan milik pelukis Raden Saleh. kecintaan pelukis Raen Saleh, melukis hewan membuatnya memelihara hewan lalu,ketika banyak masyarakat ingin melihat koleksi hewan peliharaannya, Raden Saleh membuka gerbang dan mengizinkan orang-orang melihat. Inilah yang menjadi cikal bakal keboin Binantang Ragunan. 

Kebon Binatang pertama adanya di cikini di rumah Raden Saleh. yang pada akhirnya di serahkan ke pemerintah. Lukisan hewan karya Raden Saleh antara lain: harimau dan banteng dengan tema 'Perburuan Banteng,  lalu singa dengan tema 'Perburuan Singa'. 

Sebagian halaman rumah Raden Saleh kini menjadi Taman Ismail Marzuki. Di sekitar tempat kebon binatang dulu, ada tempat kuliner legendaris gado-gado yang terkenal dengan nama gado-gado Bonbin. 

Keistimewaannya sudah pasti rasanya. Bumbu kacang dari kacang mede bukan kacang tanah dan kerupuknya bukan kerupuk oranye kecil-kecil tapi kerupuk udang.  Sampai sekarang tepatnya nggak banyak berubah. kalau mau makan harus cepat karena yang antri banyak.

Munasprok, awalnya adalah tempat tinggal Laksamana Maeda, seorang Jepang yang bertugas sebagai penghubung Angkatan darat dan Ankatan Laut. Laksamana Maeda berkawan baik dengan banyak orang Indonesia termasuk Bung Karno dan Bung Hatta. karena itu beliau mengizinkan rumahnya dijadikan tempat berkumpul dan merumuskan naskah proklamasi.


Sebenanya sejak kejatuhan Pangkalan miluter Jepang di  Asia Pasifik, Jepang sudah tahu akan kalah. Namun dengan berbagai alasan, salah satunya harga diri, Jepang mengkamuflase dengan seolah membantu Indonesia menyiapkan kemerdekaan, Jepang menyebut dirinya saudara tua. mempropagandakan Tjahaya dari asia yang menyia[pkan kemerdekaan Indonesia. Makanya dibentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dilanjutkan dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)

Diskusi persiapan kemerdekaan Indonesia dilakukan di rumah Bun Karno di Jalan Pegangsaan 56, dilakukan berhari-hari. Namun anak-anak muda, tidak ingin ada kekosongan pemerintahan ketika Jepang sudah menyatakan kalah. Sifat anak-anak muda, selalu sama, terkesan terburu-buru, emosional, merasa benar dan merasa hebat. 

Sifat ini mendorong anak muda pada waktu itu, "menculik" Bung karno dan Bung Hatta dan di bawa ke Rengas Dengklok, di Kawasan Kerawang, Jawa barat. 

Anak-anak muda mendesak Bung karno untuk memproklamasikan kemerdekaan. Bung karno juga Bung Hatta, orang-orang cerdas dan terhormat, mereka tahu mereka bukan siapa-siapa dan tidak punya hak atau legitimasi untuk memproklamirkan Kemerdekaan. 

Alhasil di Rengas Dengklok tidak ada yang dilakukan. Bung Karno di bawa bersama Ibu Fat dan Guntur, putra sulung yang baru dilahirkan. Bung Hatta bahkan ikut momong dan menggendong Guntur lalu diompolin. Bung Karno saat itu kurang sehat. 

Penculikan terjadi pada 15 Agsutus 1945, kemudian dikembalikan lagi pada tanggal 16 Agustus 1945. Lalu Bung Karno, Bung Hatta, Achmad Subarjo, dan banyak pemuda  berkumpul di rumah Laksama Maeda. 

Beliau berbincang sejenak dengan Bung Karno, Bung Hatta, di ruang tamu yang intinya mengizinkan beraktifitas di rumahnya dan beliau juga memerintahkan staf rumah tangganya untuk mempersiapkan makan dan minum. 

Banyak kepala, banyak pendapat, akhirnya disepakati Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subarjo berdiskusi di ruang sebelah. Merumuskan naskah proklamasi membutuhkan banyak energi, saat itu bulan puasa, jelang sahur. Beberapa kali ada kalimat-kalimat yang dicoret. 

Begitu teks jadi tidak langsung disetujui karena siapa yang harus menandatangani? Bung karno dan Bung Hatta, waktu itu bukan siapa-siapa. jika harus ditanda tangani oleh semua yang hadir akan memakan waktu. Akhirnya disepakati Atas nama bangsa Indonesia, ditanda tangani Sukarno dan Hatta.

Di ketik Sayuti Melik di dampiungi BM Diah. Usai mengetik naskah teks proklamasi, naskah tulisan tangan dibuang Sayuti Melik. INaskah itu di pungut dan dismipan oleh BM Diah, lalu dikemudian hari di serakan ke pemerintah sebagai benda bersejarah.

TUGU PROKLAMASI




 Naskah teks proklamasi sudah diketik dan siap dibacakan. Lewat radio sudah diumumkan akan dibacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sejak pk. 07.00 pagi masyarakat sudah turun ke jalan, sebagian mendengarkan radio. Tapi tidak ada tanda-tanda akan dibacakan teks proklamasi. 

Saat itu Bung karno yang memang kurang sehat, berjaga semalaman merumuskan naskah teks proklamasi, hingga kondisi sangat lelah dan bangun agak siang., tapi tepat pk, 10.00 Dihalaman rumah Bung Karno di jalan pegangsaan 56 yang kini sudah dibangun tugu proklamasi, dibacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. usai pembacaan Prolamasi Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno,bu Fat diarak keliling Jakarta. Indonesia Merdeka!

Sayang atas permintaan Bung Karno. rumah di jalan pegangsaan dihancurkan. pernah ada wacana akan diangun kembali tapi sampai saat ini, masih sebata wacana. saya pribadi berharap, apa yang menjadi bangunan dan catatn sejarah bisa dipertahankan dan dijaga aar kelak anak cucu kita, tahu asal muasal kemerdekaa Indonesia dan menjadi pengingat untuk tetap mempertahankan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.



Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Koteka Trip: Tur Kemerdekaan, Menapaktilasi 3 Museum Jelang Detik-Detik Proklamasi 1945", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/elisakoraag0958/6304e0e008a8b564e3741872/koteka-trip-tur-kemerdekaan-menapaktilasi-3-museum-jelang-detik-detik-proklamasi-194?page=3&page_images=1

Kreator: Elisa Koraag



No comments:

Post a Comment