Google Adsense

Kisahku: KEKUATAN DOA

KEKUATAN DOA

Kisah ini kutuliskan sebagai bentuk kesaksian karena aku ingin membagikan sukacita yang kualami karena kekuatan doa. Doa, bagiku adalah waktu aku berkomunikasi dengan Tuhan. Aku dapat berdoa dimana saja. Kadang-kadang panggilan untuk berdoa bisa kurasakan begitu saja. Sehingga seperti ada satu kekuatan yang kupikir ini panggilan Tuhan untuk bercakap-cakap denganNya. Dan jika rasa itu datang, aku segera datang dan berdoa. Biasanya jika di kantor, aku bisa memejamkan mata begitu saja dan berbicara dalam hati dengan konsentrasi penuh pada Tuhan.

Tidak butuh waktu lama untuk berdoa. Jadi kapan aku mau berdoa aku bisa melakukan termasuk jika sedang duduk di atas sepeda motor. Jika kurasakan panggilanNya aku langsung berdoa. Mungkin anda bertanya, rasa seperti apa? Jujur aku tidak bisa menjabarkan rasa itu seperti apa. Aku tahu begitu saja jika rasa itu datang. Pokoknya kuanggap Tuhan ingin aku berkomunikasi denganNya.

Seringkali aku merasakan betapa Tuhan sangat mencintaiku. Berkali-kali Tuhan ada di saat aku membutuhkan. Jika aku sedang mempunyai masalah, Tuhan tak pernah jauh. Ya karena Tuhan hanya sejauh doa. Sebaliknya jika aku bersenang, seakan kulihat Tuhanpun tengah tersenyum padaku. Sehingga kerapkali aku merasakan Tuhan di setiap tarikan nafas. Aku bukan orang yang menjalani ritual agama dengah baik. Artinya aku tidak seperti kebanyakan orang yang berusaha menjalani ibadahnya seperti apa yang sudah dibentuk lama atau yang sudah ditradisikan sebagai pola kebiasaan.

Karena aku percaya, hubungan manusia dengan Tuhan, ditentukan si individu sendiri. Manusia sebagai mahluk paling mulia karena berakal dan berbudi senantiasa membuat kebiasaan termasuk kebiasaan dalam beribadah. Akibat kebiasaan-kebiasaan yang mulanya diciptkaan atau dilakukan oleh manusia itu sendiri,membuat manusia terjebak pada kebiasaan yang dibuatnya. Karena pada akhirnya aku melihat kebiasaan-kebiasaan itu yang mengatur manusia.

Aku tidak mau seperti itu. Hal yang tetap aku lakukan karena aku yakini adalah berdoa. Dengan doa, aku bisa bercerita dengan Tuhan tentang apa yang aku alami, apa yang aku ingini dan apa yang aku sedihkan. Selesai berdoa, aku merasa bersukacita karena aku yakin Tuhan mendengar doaku.

Mungkin bagi sebagian orang terdengar seperti aku mengada-ada. Tapi ini bukan sesuatu yang diada-ada. Aku mengalami banyak mujizat dalam hidupku. Diantaranya berkat atas orang yang menikahiku. Laki-laki ini adalah lelaki yang ada dalam kriteriaku. Aku yakin setiap wanita remaja dan dewasa pasti mempunyai kriteria akan lawan jenis yang diharapkan menjadi pacar/pendamping hidupnya nanti. Hingga sekarang aku tetap merasa suamiku adalah suatu mujizat dalam hidupku. ‘

Bagaimana mungkin aku bisa mengenalnya, berhubungan dalam waktu yang cukup lama dan akhirnya menikah. Padahal kalau dilihat dari fisik, tak berani aku berharap laki-laki itu menjadi pendamping hidupku. Bahkan ketika kami mulai pdkt, aku berdoa Tuhan jauhkan laki-laki ini jika bukan dia jodohku. Padahal, pernikahan adalah sesuatu yang belum terpikirkan. Tapi niatku ketika berpacaran bukan just having fun. Aku ingin menjadi sesuatu yang serius. Dan laki-laki ini adalah laki-laki pertama dan kuharap juga menjadi yang terakhir .

Gagah, pandai, bintang lapangan. Jaman mahasiswa, nintang lapangan adalah idola. Laki-laki ini menguasai semua olahraga permainan. Bukan aku mau menyanjung karena kini aku sudah menikah dengannya. Tidak! Hingga detik ini aku tetap mensyukuri berkat Tuhan pada hidupku atas laki-laki ini.

Setelah orang tuaku, laki-laki inilah yang punya andil besar menjadikan aku seperti sekarang ini. Ia selalu mendukung dan memberi perhatian penuh pada setiap hal yang kulakukan. Termasuk pada hal-hal yang aku sendiri meragukan kemampuanku. Tapi ia dengan sabar dan tegas mengatakan “Percayalah, kamu bisa!” (Persis motonya sebuah minuman energi, Bisa!)

Di tahun pertama ketika kami belum memiliki anak, aku tidak terlalu menjadi beban. Dalam percakapanku dengan suamiku, sebelum menikah adalah menyatukan apa sih tujuan pernikahan kami.

Jawabannya sungguh luar biasa . “Karena ia ingin menghabiskan hidupnya bersamaku!” Kesannya gombal yah? Tapi tidak karena ketika aku mempertanyakan bagaimana dengan anak, aktivitasku dan lingkunganku. Laki-laki ini mengatakan: “Aku mencintai kamu, tidak ada anak bukan berati hubungan kita berakhir. Aku mengenalmu dengan berbagai aktivitas dan biarlah seperti itu. Aku tidak ingin mengubahmu untuk seturut denganku dan berharap kamupun seperti itu!”

Sehingga hal itu pula yang aku lakukan. Menikah dengan lelaki ini berarti menerima dengan sepenuh hati. Janji pernikahan untuk tetap saling mengasihi dalam suka dan susah benar-benar aku terapkan dan aku pegang teguh. Pernah juga aku mengeluh, dan bertanya pada Tuhan mengapa Tuhan membiarkan suamiku jobless justru saat aku hamil.

Siapa yang tak khawatir jika tahu dengan kehamilan pasti akan ada tambahan biaya hidup namun kenyataannya sumber penghasilan itu malah berkurang. Namun bila kurenungkan, Sungguh Tuhan ingin memberikan yang terbaik bagiku. Kebanyakan laki-laki di negeri ini, enggan menerima kenyataan istrinya mempunyai penghasilan lebih. Tidak bisa menerima kalau sebagai laki-laki tanpa pekerjaan dalam kehidupan berumah tangga bisa saja terjadi. Laki-laki di negeri ini dengan segala adat dan budaya merasa mempunyai harkat yang lebih tinggi dari perempuan.

Memasuki tahun kedua, naluri keibuanku mulai terusik. Tahun ketiga, aku berkaul. Aku hanya akan berkonsentrasi dalam berdoa pada Tuhan agar diberi kesempatan untuk menjadi ibu yang mengandung dan melahirkan.

Hampir setahun kaul itu kujalani. Doa-doa itu saja yang aku sampaikan setiap hari setiap malam menjelang tidur dan Tuhan menjawab doaku dalam kesempatan yang sangat luar biasa. Aku hamil tepat di hari ulang tahunku. Dan Tuhan memberikannya dua kali. Dua-dua kehamilanku adalah hadiah ulang tahunku dari Tuhan. Karena kedua kehamilanku, kutahu di hari ulang tahunku, 20 November. Sehingga kedua anakku terlahir di bulan Juli dengan selisih beberapa hari. Bas 27 Juli 2000 dan Van 31 Juli 2003. Sehingga kerap secara bergurau, aku dan suamiku beranggapan Juli adalah bulan luar biasa bagi kehidupan rumah tangga kami karena 8 Juli 1996 kami mengikat janji untuk bersama-sama mengarungi samudra kehidupan sebagai suami-istri.

Tuhan sungguh menjadi pengajar dalam kehidupan rumah tanggaku. Karenanya aku dan suami sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai tuntunan dalam menjalani hidup. Dibalikannya kondisi kehidupan rumah tangga kami dari kehidupan rumah tangga masyarakat umum yang biasa-biasa saja. Artinya yang biasa adalah suami kepala rumah tangga, istri menurut dan mengikut kehendak suami. Tuhan menguji aku dengan mengambil pekerjaan yang dimiliki suamiku. Tuhan memaksa suamiku menurut egonya ke titik yang paling rendah.

Aku, sebagai istri bekerja di luar rumah dan suamiku di rumah merawat bayi. Kami diajar bagaimana untuk tidak peduli pada omongan orang karena kehidupan rumah tangga kami terbalik dari kehidupan rumah tangga pada umumnya.

Itu tidak berlangsung lama, memasuki bulan ke enam usia Bas, suamiku kembali bekerja. Tapi kami sudah terbiasa membagi peran ayah dan ibu. Dan semua tidak menjadi masalah. Kini suamiku orang yang trampil mengurus dan merawart anak-anak. Karena aku percaya, kerapkali perempuan menuntut pasangannya untuk berbagi peran tapi sesungguhnya perempuan tersebut enggan perannya digantikan. Sehingga terjadi permasalahan yang seharusnya tidak perlu.

Rasa sama yang pernah aku rasakan. Ketika kedua anakku mengucap kata pertamanya “Papa”. Haruskah aku sakit hati? Mulanya ya, aku sakit hati. Aku ibu yang membesarkan mereka dalam rahim selama 9 bulan. Menyatu dengan tubuhku, bernafas dengan nafasku. Tapi aku harus realistis. Usia Van baru 5 bulan ketika aku harus bertugas keluar kota. Perih dan sakitnya buah dada yang membengkak akibat ASI yang tak dikonsumsi tak seberapa perihnya dibanding ketika mereka mengucap “Papa” sebagai kata pertama.

Tapi aku harus mengucap syukur karena Tuhan memberi kesadaranku atas situasi ini. Aku dan suamiku berlomba menjadi yang terbaik bagi Bas dan Van dengan harapan mereka selalu mengingat kami sebagai orang-orang terdekat yang mengasihi mereka.

Sunguh luar biasa. Dan karenanya aku pun mempunyai tekad yang sama besarnya untuk memelihara apa yang sudah Tuhan anugerahkan untukku. Aku si pemalu, mampu mengangkat dagu untuk menantang dunia karena suamiku yang meyakinkanku kalau aku mampu. Dan ringan langkahku untuk beraktulitas karena ku tahu Bas dan Van ada di tangan yang tepat.

Aku tetap tidak tahu, apa rencana Tuhan atas hidupku. Tapi yang kutahu Tuhan punya rencana yang indah untukku. Dalam hidup keseharian, aku juga dihadapi persoalan keuangan yang kadang tidak mencukupi. Tapi entah bagaimana pada akhirnya selalu cukup. Mungkin juga setelah satu jawaban Tuhan atas doa permintaanku yang mencerahkan sekaligus merubah pola pikirku

Pernah aku meminta kekayaan karena aku ingin memiliki rumah, kendaraan dan uang yang cukup untuk biaya hidup, pendidikkan anak-anak serta jalan-jalan. Tapi Tuhan menjawab doaku lewat artikel yang dikirim seorang kawan lewat email. Intinya “Tuhan sudah memenuhi semua kebutuhan hidupmu? Kekayaan yang kamu minta hanyalah untuk memenui keinginanmu. Keinginan adalah sesuatu yang tak terukur tapi kebutuhan jelas terukur.!”

Aku menyadari, aku memang tidak punya rumah pribadi tapi aku masih bisa tinggal di sebuah rumah yang uang sewanya masih bisa dibayar. Artinya Tuhan sudah memenuhi kebutuhanku atas rumah. Begitu juga yang lainnya. Aku bekerja dengan upah bulanan Ketika upah bulananku sudah tak cukup untuk membayar beberapa tagihan lagi, aku hanya berdoa dan yakin Tuhan akan memberikan jalan untuk aku mendapatkann uang yang aku butuhkan.

Seperti bulan ini, aku sudah tidak ada uang untuk membayar uang sekolah anak-anak, Semalam ketika aku berdoa, itulah hal yang aku sampaikan dalam doaku. Pagi-pagi ketika tiba di kantor. Aku menerima telephone dari seorang kawan yang memberikan pekerjaan. Dan pekerjaan itu dilakukan nanti malam.

Aku langsung mengucap doa syukur dan menghubungi suamiku untuk menyampaikan kabar ini. Tapi Tuhan belum cukup memberi kebahagiaan padaku. Ketika ku buka email inboxku, ada satu email yang datang dari sebuah penerbitan di Jogya yang menawariku untuk menerbitkan isi blogku untuk menjadi buku. Dan aku meyakini semua itu terjadi atas kekuatan doa.

Karena itu, aku hanya ingin mengajak saudara-saudaraku yang beriman pada Tuhan, Mari gunakan doa sebagai senjata dalam menghadapi segala persolan hidup. Karena hanya Doa kepada Tuhan yang mampu memberikan semua apa yang diperlukan. Kepekaan kita terhadap teguran ataupun panggilan Tuhan hanya dapat di rasakan bila kita punya intensitas hubungan yang tinggi kepada Tuhan. Semakin baik hubungan kita dengan Tuhan maka semakin peka kita merasa dan membaca tanda yang Tuhan berikan. Semoga kisah ini bisa memberikan pencerahan bagi yang membaca. Salam Damai! (Icha koraag, 16 Sept. pk. 01.30 malam)

No comments:

Post a Comment