Google Adsense

KESAN MEMBACA NOVEL DAN BROWN

Aku baru membeli tiga buku novel karya Dan Brown.. Bukan pemborosan, boleh dong menyenangkan diri sediri dengan menikmati sebagian dari uang pesangon. Soalnya selama ini aku hanya membaca hasil diskusi mengenai Dan Brown dan karyanya. Baik yang menghujat maupun yang mengaggumi. Karangannya sendiri belum pernah aku baca (Kasihan deh loh!)

Sebenarnya aku sempat melihat Da Vinci Code tergeletak di ruang tamu mertuaku di Bogor waktu tahun lalu. Aku tidak bisa memuaskan rasa ingin tahuku lantaran, bertandang ke mertua hanya sesekali, dan aku tidak ingin mendapat kesan tak peduli hanya lantaran ingin memenuhi rasa ingin tahu “ocehan” sahibul hikayatnya Dan Brown.

Ini, sekali tiga ada di mukaku. The Da Vinci Code, Angels & Demons dan Deception Point. Jangan Tanya perasaanku. Kemasan buku karya Dan Brown sangat menarik, kesannya mahal. Memang harus aku akui harga buku Dan Brown tidak murah. Menurutku memang seimbang harga dengan buku baik secara fisik maupun isinya. Tapi kalau bisa lebih murah, aku juga pasti lebih senang lagi.

Menurut beberapa informasi yahng pernah ku baca, harga buku di Indonesia terbilang mahal di banding beberapa Negara lain. Jadi alasan rendahnya minat baca, tidak selalu di pengaruhi karena adanya stimulus lain seperti tv, dvd player atau mall. Soalnya pada kenyataannya di samping harga buku tidak murah, di sebagian Indonesia raya masih sulit mendapatkan buku bacaan.

Tapi aku tidak terburu-buru untuk membaca buku karya Dan Brown ini. Alasannya sederhana saja, akukan memiliki banyak waktu, namanya juga pengangguran. Aku sedang menikmati peranku jadi ibu RT. Melayani anak & suami, membersihkan rumah, mencuci baju dan memasak. Jadi membaca bisa aku lakukan usai menyelesaikan pekerjaan tadi.

Suamiku sempat bertanya, kok aku tidak antusias membaca buku tersebut. Karena ia tahu, aku biasanya tak akan membiarkan buku diam tak terjamah. Aku Cuma senyum-senyum tak menjawab. Yah, aku punya banyak waktu.

Tapi perkiraanku meleset. Usai melakukan pekerjaan RT, Van sudah menanti dengan setumpuk majalah di tangan. Jadilah aku menuda membaca novelnya Dan Brown. Hari-hariku di penuhi dengan cerita Si kancil mencuri ketimun, Putri Salju, Legenda Tangkuban Perahu, Cinderella dan bermain masak-masakan dengan Van.

Seminggu sudah novel Dan Brown tak terjamah. Herannya juga aku tetap santai. Mungkin karena novel itu milik sendiri. Kemarin aku bertekad untuk mulai membaca. Jadi selesai berbenah, aku mandi dan mulai mengambil novel Dan Brown. Di banding menonton tv jelas aku lebih memilih membaca.

Dengan membaca, daya imajinasiku bisa mengembara membayangkan situasi dalam plot cerita. Ketika mulai membaca Da Vinci Code, jujur aku memulainya dengan berdoa, memohon kekuatan iman dan di bukakan mata hati untuk aneka infromasi dan pengetahuan baru. Geli juga, soalnya baru kali ini, aku berdoa untuk membaca sebuah novel.

Mulai dari lembar pertama, aku langsung terhipnotis. Bukan karena informasi yang mengguncang imanku sebagai umat Kristen. Aku terkagum-kagum dengan kemampuan Dan Brown meramu jalinan cerita. Banyak infromasi baru yang aku dapat. Aku takjub dengan kemampuan Dan Brown menggunakan fakta nyata yang dilebur dalam sebuah cerita khayalan.

Kemampuannya mengikatku sebagai pembaca sehingga benar-benar enggan meletakkan buku sebelum tamat. Tapi kekuatan Dan Brown meramu jalinan cerita untuk menahan pembaca tidak berhenti sebelum tamat masih kalau kuat dengan lengkingat Bas dan Van di muka pintu yang berteriak “Ma……ma aku pulang!”

Suara itu, mampu langsung menghentikasnku membaca dan meletakkan Da Vinci Code. Buah hatiku lebih segala-segalanya di banding novel Dan Brown. Dan sesaat aku meninggalkan Dan Brown di atas meja dekat tv.

Saat anak-anak istirahat siang yang berarti tidur, aku kembali melanjutkan membaca Da Vinci Code. Sepanjang membaca, benakku tak berhenti berpikir, kok ada yang orang sehebat Dan Brown. Aku bahkan sempat berhenti membaca hanya untuk memikirkan proses pembuatan novel ini. Dari satu buku yang mengulas latar belakang di buatnya The Da Vinci Code, di ceritakan sosok Dan Brown yang berhari-hari datang di museum di Paris yang jadi setting cerita.

Bahkan petugas museum sempat menganggap si orang America ini tidak normal.
Karena Dan Brown datang kadang beresama istrinya, kadang sendiri. Datang, duduk dan melihat-lihat. Berkali-kali, berhari-hari hanya itu yang dikerjakan. Siapa yang megira kalau itu bagian dari observasi Dan Brown.


Sama seperti John Grisham, Sidney Sheldon, Marry Higgins Clark, JK Rowling dan banyak penulis barat lainnya yang selalu mau melakukan serangkaian riset sebelum menulis. Tapi aku juga tak heran menilai kemampuan Dan Brown mengingat ia di dukung istrinya yang ahli sejarah, ibunya yang juga penulis dan ayahnya yang ahli matematika. Satu kombinasi pendukung yang sempurna. Itu dari keluarga dekatnya. Kalau baca halaman terima kasih dalam novel-novel Dan Brown, rata-rata lebih dari dua puluh orang atau institusi yang juga mendapatkan ucapan terima kasih atas dukungan mereka.

Novel-novel dan Brown di penuhi dengan sejarah, dan matematika. Usai membaca Da Vinci Code langsung aku sambung dengan Angels dan Demons. Latar belakangnya sama. Sama-sama sejarah dan matematika. Entah ini di sengaja atau karena kebetulan karena latar belakang yang di angkat Dan Brown ada kaitannya dengan sejarah dan ilmu pengetahuan. Yang pasti aku kagum dan mengakui Dan Brown memang hebat.

Di bagian ulasan, penerbit memuji kehebatan Dan Brown dalam The Da Vinci Code dengan meramu sejarah seni dengan teologia dan Andels & Demosn dari Sejarah dan pengetahuan.

Dan Brown mampu mengelola sebuah cerita khayalan dengan menyentuh unsur-unsur fakta. Jujur sekarang aku merasa geli bila mengingat bagaimana gemparnya pihak gereja menanggapi novel Dan Brown. Karena karya-karya Dan Brown merupakan kejeniusan seorang Dan Brown mengekspresikan daya khayalnya. Kok Khayalan saja di takuti. Yang pasti aku menikmati, sambil berpikir mungkinkah aku bisa seperti Dan Brown? (Icha Koraag, 6 Maret 2007)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...