Google Adsense

Kisahku: Rumahku Istanaku

Pepatah bilang Rumahku adalah Istanaku. Rumahku tak besar tapi tetap mampu menguras keringat ketika membersihkannya Biar kecil bahkan jelek tapi aku dan keluarga kecilku menikmati kebersamaan kami dalam rumah ini. Di rumah ini, aku dan pasanganku belajar saling mengenal lebih jauh pribadi masing-masing. Di rumah ini pula aku dan pasanganku menguatkan apa yang menjadi komitmen awal pernikahan kami. Di rumah ini pula, kami menangis kala harus kehilangan bayi yang tak pernah diduga ada di rahimku walau hanya satu bulan.

Rumah ini adalah rumah tempat kami berkumpul sebagai sebuah keluarga. Ada sosok papa, sosok mama, sosok kakak dan sosok adik. Yah penghuni rumahku lengkap dengan posisi dan peran masing-masing. Orang tua dan sepasangan anak. Aku sangat menyadari fungsi rumah secara fisik, sebagai tempat berkumpul dan beraktivitas seluruh anggota keluarga. Rumah juga tempat berlindung dari teriknya matahari dan dinginnya hujan.

Kehangatan seisi rumah ini terbangun dari hubungan antar anggota keluarga ini. Usai melahirkan anak pertama, aku pulang ke rumah ibuku untuk dua minggu pertama. Setelah aku yakin sehat dan kuat aku pulang ke rumah ini. Sedangkan untuk anak kedua, dari RS aku langsung pulang ke rumah ini. Walau anak kedua lahir dengan cara operasi juga tapi secara mental dan emosional aku lebih siap. Jadi walau ibu dan kakak-kakaku memprotes karena mereka menghendaki aku pulang ke rumah ibuku, aku tetap bersikeras membawa bayiku pulang.

Di rumah inilah aku dan pasangaku menikmati belajar menjadi orang tua. Terbangun di tengah malam karena si kecil hendak menyusui atau karena ngompol. Tersenyum bahagia saat melihat si kecil terlelap dalam buaian. Kesal karena mengantuk sementara si kecil belum mau tidur. Bertengkar dengan pasangan karena kami sama-sama mengkhawatirkan cara kami menggendong si kecil. Aku merasa pasanganku janggal dalam menggendong si kecil. sementara pasanganku merasa nyaman dengan caranya. Atau aku merasa kesal karena dipaksa makan dengan porsi yang lebih besar lantaran pasanganku khawatir dengan produksi ASI.

Di rumah ini juga kerap aku basah kuyup karena memandikan si kecil, baik karena cipratan dari bak mandinya maupun karena keringatan akibat deg-degan dan khawatir saat memandikannya. Walau ketika memiliki si kecil, aku sudah memiliki keponakan lebih dari 25 dan sebagian besar aku pernah memandikan para keponakan itu saat bayi tapi memandikan anak sendiri ternyata berbeda. Bahkan suamiku, memandikan sulungku saat si sulung berumur 5 hari. Dan kata suamiku, itu yang pertama dan yang terkahir. Yang penting sudah pernah mencoba memandikan anak sendiri.

Berbicara mengenai rumah, rumahku adalah istanaku bukan cuma ungkapan pepatah. Aku dan pasangaku juga dengan seluruh keluarga besar adalah kelompok orang-orang yang senang melakukan perjalanan berlibur. Tapi dari semua tempat yang pernah kami datangi dan menginap, tidur di rumah sendiri jauh lebih menyenangkan. Sehingga kemanapun kami pergi, keinginan untuk segera pulang dan beraktivitas di rumah sangat kami nantikan.

Kenyamanan rumahku bukan semata-mata karena fasilitas di dalamnya tapi lebih dikarenakan keberadaan masing-masing anggotanya. Tak selalu aku dan pasanganku tertawa atau sependapat dalam mengisi hari-hari. Ada kalanya kami silang pendapat dan pertengkaran ini tak pernah kami sembunyikan dari anak-anak. Kami,membiasakan Bas dan Van memahami bahwa tidak sependapat dalam sebuah persoalan bisa-bisa saja. Yang utama adalah konsisten dengan keputusan yang diambil.

Saat sulungku mulai memahami keberadaan kami sebagai orang tuanya, bila kami bertengkar dan cekcok mulut, suhu badannya akan meninggi. Yah sulungku akan demam. Mulanya aku dan suamiku tidak menyadari, lama-lama dari hasil obeservasi akhirnya kami tahu. Kami mulai mengendalikan diri bila bertengkar di depan anak. Tapi kami juga menjelaskan bahwa pertengakarn mama dan papa tidak perlu ditakuti, ini hanya bagian dari diskusi.

Hingga kini bila aku dan suamiku bertengkar, Bas atau Van akan bertanya “Ini diskusi?” Biasanya cukup ampuh meredakan kemarah kami karena mau tidak mau kami akan tertawa dan membenarkan bahwa pertengkaran ini adalah sebuah diskusi. Sekarang Bas dan Van terbiasa melihat kami berdiskusi baik untuk menyamakan pemahaman maupun bertukar pendapat mengenai situasi yang berlangsung di negara ini. Makanya tak heran Bas dan Van akan memanggil kami bila di tv ada informasi berita.

Lain lagi dengan Van, bila kami sedang bertengkar atau berdiskusi Van akan berdiam di sekitar kami. Van menyimak apa yang kami bicarakan dan sebagian besar kata-kata yang kami gunakan suatu saat digunakan Van untuk berbicara pada kami. Hal ini membuat aku dan pasangan ekstra hati-hati dalam berucap karena kini sadar sepenuhnya kata-kata yang kami gunakan di serap dan ditiru langsung Van.

Di rumah inilah kami belajar bersabar dalam menghadapi sikap dan prilaku penghuni yang lain. Di rumah ini, aku dan pasangan mencoba mencontohkan aturan main kehidupan pada kedua anak kami. Bersikap sabar, sopan dan penuh kasih saying bukan hanya ditujukan pada penghuni rumah ini tapi juga perlu dan harus pada orang lain. Dengan memperlakukan orang lain dengan baik maka kita pun akan diperlakuikan dengan baik Tapi aku juga sadar kehidupan di luar rumah kami tak senyaman dan seaman dalam rumah. Karena itu aku dan pasanganku juga memberikan rambu-rambu pada Bas dan Van saat beraktivitas din luar rumah. Namun lebih dari itu aku hanya bisa berpasrah dan menyerahkan perlindungan kami pada sang pemilik kehidupan.

Rumah kami hanya sebagian kecil dari sebuah dunia yang nyata. Suatu hari kedua anakku akan menapaki kehidupan di dunia nyata dan aku berharap apa yang kami bekali saat berada dalam rumah dapat menjadi modal keduanya untuk bersaing dan memperoleh yang terbaik. Doa orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya dan doa pula adalah rangkaian kata-kata ajaib jika dipercaya dapat menjadi sebuah kekuatan yang memotivasi diri. (Icha Koraag, 23 Mei 2007)

2 comments:

  1. Bi Icha, salam kenal. Wah, blog nya luar biasa. Inspiratif dan gaya bahasanya enak dibaca, mengalir, seperti mendengar teman di sebelah sedang bercerita. Keep on writing!

    ReplyDelete