Google Adsense

MENGENALKAN MAKAN BUAH-BUAHAN PADA ANAK.

Buah-buahan adalah salah satu jenis makanan yang perlu di konsumsi. Dalam pedoman “Empat sehat lima sempurna”
Buah-buahan adalah sumber vitamin dan mineral yang wajib dikonsumsi untuk kesehatan tubuh. Persoalannya mengajar anak mengenal buah dan mengkonsumsi buah menjadi sebuah persoalan yang cukup serius.

Dalam pengetahuan makanan bergizi bagi bayi, sejak usia 6 bulan, bayi sudah boleh diberikan buah-buahan. Misalnya pisang, jeruk dll. Sebagai ibu, saya juga menerapkan hal yang sama. Bahkan karena saya lahir, besar dan hidup di Indonesia yang bisa di bilang surga untuk tanaman buah, macam-macam buah sudah saya kenalkan sejak anak-anak usia 6 bulan. Selain pisang dan jeruk, saya juga memberikan mangga Harumanis, alpukat, dan tomat. Seiring usai anak yang bertambah ragam buah yang saya berikan juga bertambah.

Dua anak saya mempunyai kesukaan yang berbeda dalam hal mengkonsumsi buah. Tapi dari observasi saya pola makan buah orang tua (Saya dan pasangan) sangat besar mempengaruhi pola makan buah kedua anak saya. Saya termasuk orang yang gemar makan buah, hampir semua jenis buah saya suka. Ini sangat mempengaruhi pola makan anak bungsu saya, Vanessa. Hampir semua jenis buah yang saya makan, Vanessa juga menyukai. Mungkin juga karena saya suka duduk bersantai nonton tv sambil makan buah, baik itu duku, salak atau apel.

Hal ini dimungkinkan selain karena Van banyak bersama saya, Van termasuk anak yang mau mencoba macam-macam termasuk buah atau jajanan. Van bisa mengkonsumsi jajanan seperti siomay, es teller, gado-gado atau soto. Berbeda dengan si sulung, Bas. Mengenalkan atau meminta Bas mencicipi jenis makanan baru atau buah harus tarik urat leher dulu. Bas tidak seberani Van dalam mencoba macam-macam makanan. Bas hanya mau mengkonsumsi makanan yang biasa di makan di rumah. Karena itu saya harus kreatif mengolah bahan makanan agar Bas mau mengkonsumi macam-macam jenis bahan makanan.

Seingat saya berdasarkan informasi dari ahli gizi dan kuliner Ibu Toeti Sunardi, pola dan jenis ragam makanan yang dikonsumsi sejak bayi akan melekat hingga usia si anak bertambah. Kenyataannya tidak demikian. Sampai usia 3 tahun Bas masih menyukai buah terutama jeruk. Saya pun lupa kapan kehilangan moment makan buah Bas. Sampai pada akhirnya meminta Bas makan buah sama seperti meminta Bas makan obat.

Bas akan menolak, berlari menghindar sambil menutup mulut. Mulanya saya dan pasangan tidak ingin memaksa, jadi kami meminta Bas untuk mencicipi sepotong saja. Reaksi Bas selalu sama “Enak!: ujar Bas sesudah mencicip. Tapi Bas tidak akan mau jika di minta memakan lebih banyak. Namun ketika Bas mulai terkena sariawan, membuat kami agak memaksakan Bas untuk makan buah. Bahkan Van ikut-ikutan membujuk. “Makan buah biar sehat kak. Biar mulutnya tidak sariawan!” Kata Van sambil menikmati pepaya.

Dalam keadaan nyaris putus asa karena Bas tidak suka makan buah, saya katakan pada pasangan saya. “Ini pengaruh dari kamu yang juga susah benar di suruh makan buah!”. Setiap saya membeli buah-buahan walau bertanya dulu pada suami, Bas dan Van buah apa yang mereka inginkan, pada akhirnya hanya saya dan Van yang menghabiskan. Biasanya suami saya berjanji akan makan buah supaya di contoh Bas.

Karena saya sadar, pentingnya buah untuk Bas maka saya mengakalinya dengan mengolahnya menjadi sari buah. Trik ini akan lumayan berhasil. Selain itu, salah satu pelajaran di sekolah adalah mengenal nama dan rasa buah. Kesempatan ini tentu tidak saya sia-siakan untuk kembali mengajari Bas makan buah. Jadi akhir-akhir ini saya rajin membuat sari buah. Buah papaya dicampur jeruk dan nanas atau nanas dan strawberry, juga melon dan strawberry. Sekarang sedang tidak musim mangga. Mangga kalau di buat sari buah juga enak.

Sebenarnya buah-buah tersebut kecuali strawberry lebih enak dinikmati dalam keadaan utuh, namun karena susahnya Bas makan buah, jadilah buah-buahan itu diolah menjadi sari buah atau ku campur dalam pudding. Meminta Bas minum sari buah juga perlu tawar menawar. Mulanya setengah gelas sesudah makan, beberapa hari kemudian menjadi satu gelas sesudah makan, sebagai imbalannya Bas boleh menonton satu tayangan film kartun di tv.

Mulanya saya merasa jahat. Pedih hati ini melihat penderitaan Bas setiap kali harus minum sari buah. Wajahnya akan cemberut dan nampak sangat sedih. Tapi saya harus kuat hati. Kalau saya dan pasangan tidak membiasakannya dari sekarang, mungkin seterusnya Bas akan sulit mengkonsumsi buah di masa mendatang. Dan ternyata hanya beberapa hari saja reaksi Bas tidak menyukai. Sekarang setiap habis makan dan tiba waktunya minum sari buah, Bas tidak rewel dan menikmatinya sebagai bagian dari menu makannya. Bahkan kalau sehabis bermain bola, Bas juga mau minum sari buah. Ternyata usaha saya tidak sia-sia.

Membiasakan itu yang awalnya susah. Selain mengolah buah menjadi sari buah saya juga menceritakan pada Bas, kalau ia tidak makan buah-buahan sekarang, maka besok-besok buah-buahan hanya bisa di lihat di tv . Kita tidak tahu sampai kapan buah-buahan masih bisa kita beli dalam bentuk buah segar baik di supermarket atau di pasar tradisional.
“Mengapa begitu?” Tanya Bas ingin tahu
“Karena besok mungkin buah-buahan sudah di buat sabun mandi atau shampoo. Coba Bas lihat hampir semua sabun mandi dan shampoo tidak hanya mengandung harum bunga tapi juga buah, mulai dari pepaya, alpukat, jeruk, lemon, bangkuang.!” Ujarku menjelaskan.
“Jadi kita tidak bisa makan atau minum sari buah?” Tanya Bas
“Iya, sayangkan buah-buahan yang enak dan bergizi cuma jadi sabun mandi atau shampoo. Di sekolah Bas kan sudah diajarkan kalau buah-buahan itu banyak mengadung apa?” tanyaku setengah menguji Bas.
“Vitamin dan mineral!” jawab Bas.
“Pandai, jadi buah-buahan harus selalu melengkapi makanan utama kita!” kataku lagi
“Empat sehat lima sempurna, nasi, lauk-pauk, sayur, buah dan susu!” kata Bas.
“Itu namanya kakak hebat! Pujiku dengan bangga.
“Iya deh ma, mulai sekarang aku mau makan buah!” Ujar Bas sambil tertawa. Uh, luar biasa senangnya perasaanku. Memaksakan kehendak pada anak termasuk makan buah bukanlah hal yang bijaksana. Saya sudah membuktikan, bersabar dan konsisten adalah kuncinya. Anakpun bisa menikmati buah tanpa paksaan. Bahkan dengan suatu kesadaran buah itu memang perlu untuk tumbuh kembang tubuhnya. (2 Juni 2007)

No comments:

Post a Comment