Google Adsense

Obrolan Santai: KOMUNIKASI JAKA SEMBUNG
Icha Koraag


Menurut banyak konsultan pernikahan, faktor-faktor penting untuk menciptakan pernikahan yang bahagia adalah adanya faktor kepercayaan, pengertian, toleransi, keinginan membahagiakan pasangannya dan komunikasi.

Kalau mau ideal pastinya daftar tersebut masih bisa di tambah. Soalnya bohong kalau ada yang bilang bahagia walau tidak punya uang. Kenyataannya materi menjadi salah satu yang cukup menentukan. Persoalannya ukuran kepuasan materi itu yang relatif untuk masing-masing orang.

Bicara komunikasi dalam sebuah keluarga khususnya komunikasi suami-istri bisa di bilang gampang-gampang susah. Di bilang susah, seharusnya tidak karena dengan teknologi membuat kapan dan dimana saja bisa menjadi kesempatan berkomunikasi . Bahkan dengan teknologi generasi ketiga telephone seluler atau istilah sekarang Three (3) G teknologi , dua orang yang berkomunikasi bisa secara langsung bertatap muka. Jadi bisa saling melihat keberadaan pasangan bicaranya setiap saat dan dimana saja. Walau dipisahkan oleh benua.

Nah di bilang gampang ternyata tidak juga. Buktinya tidak sedikit penggunaa telephone seluler lebih mementingkan menggunakan HP ketika berbicara dengan pasangan atau bahkan dengan sms ketimbang berbicara langsung. Alasannya tentu bermacam-macam. Ada yang berkelit dengan mengatakan untuk apa punya HP kalau tidak digunakan semaksimal mungkin. Memang ada benarnya tapi yang kelewatan dong, kalau berada serumah masih bicara menggunakan HP?

Saya seringkali heran jika mendengar ada pasutri bercerai dengan alasan Komunikasi Jaka Sembung alias Komunikasi Gak Nyambung. Kok Bisa sih? Selama ini kemana saja atau ngapain aje? Kok bisa setelah sekian tahun melewati kebersamaan tiba-tiba sadar kalau Komunikasi Jaka Sembung? Ada pembanding? Dengan siapa ? Mengapa dibandingkan?
Bukankah proses pilih-pilih sudah selesai dengan diikrarkannya janji pernikahan?

Kalau kata orang bijak, “Sebelum menikah bukalah matamu lebar-lebar setelah menikah tutuplah matamu rapat-rapat”. Makna yang ingin disampaikan, sebelum terikat sebuah komitmen pernikahan, puas-puaskanlah melakukan seleksi berdasarkan kriteria yang kamu mau tapi setelah menikah proses itu sudah berhenti. Andai di luar ada yang memenuhi kreteria sudah tidak bisa karena dirimu sudah sold, sudah laku alias sudah ada yang punya. Jadi apapun alasannya, tidak ada pembenaran untuk membandingkan pasangan kita dengan orang lain. Apalagi kalau sampai hasil penilaian orang lain lebih bagus dari pasangan kita.

Habis bagaimana dong kalau Komunikasi Jaka Sembung? Komunikasi pasutri awalnya memang harus dibiasakan asal jangan jadi kebiasaan karena sesuatu yang menjadi kebiasaan alias menjadi rutin akan menjebak kita dalam kebosanan. Ujung-ujungnya kita berusaha keluar dari rutinitas itu untuk mencari penyegaran dan salah satunya timbul sifat membandingkan apa yang kita punya dengan kepunyaan.orang lain. Soalnya kita manusia biasa sehingga selalu melihat rumput tetangga nampak lebih hijau di banding rumput di halaman sendiri.

Kalau saja kita mau membiasakan diri terbuka dan berbagi pada pasangan kita mengenai pengalaman keseharian kita termasuk sosok-sosk kenalan kita pada pasangan, maka tidak akan ada Komunikasi Jaka Sembung.

Para suami berbagi pengalaman di kantor, di perjalanan atau saat makan siang, akan sangat berarti bagi si istri. Begitu pula si istri akan sangat menghargai kalau para suami mau menyediakan telinga dan hati untuk mendengar pengalaman keseharian si istri walau seumpama si istri cuma ibu rumah tangga.

Berbagi pengalaman keseharian dengan pasangan kita akan meningkatkan rasa penghargaan pada pasangan. Kebiasaan ini nantinya akan membuat kita semakin mengenal pasangan kita lewat segala prilaku, pola pikir dan perencanaannya. Kelak membuat kita peka terhadap setiap perubahan yang terjadi pada pasangan kita.

Menghindari Komunikasi Jaka Sembung, kuncinya ada di hati masing-masing. Keinginan mendengar, menghargai dan menjadikan pasangan sebagai partner bicara itu yang utama. Pasangan kita bukan hanya sekedar suami atau istri tapi seharunya juga menjadi pasangan sejiwa. Ketika kita ingin menikmati kebahagiaan dan kedamaian maka kita tahu itu pula yang seharusnya dirasakan oleh pasangan sejiwa kita. (11 Juni 2007)

Aku dedikasikan tulisan ini untuk mengenang 55 tahun pernikahan orang tuaku.
Walau alm Papa hanya menikmati sampai menjelang 35 tahun saja.
Beliau meninggal 20 Januari 1987.

Mama dan papa akan selalu menjadi panutanku dalam mengarungi lautan kehidupan dengan Bahtera Pernikahanku sampai maut memisahkan aku dan pasanganku, seperti mama dan alm. Papa.

1 comment:

  1. Mbak Icha sayang,
    aku mau komentarin tentang JAKA SEMBUNG ...
    People change mbak, dan terkadang pada sepasang suami istri, sangat bisa jadi perubahan ini terjadi tidak secara bersamaan. Misal: ketika sang istri terus menerus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri, misal dengan melanjutkan kuliah lagi, atau mungkin sang suami. Hal ini bisa membuat komunikasi tersendat karena pihak yang satu tidak mampu mengimbangi pihak yang berkembang dengan pesat itu.
    Ketidaknyambungan ini mungkin diperparah dengan banyak hal lain lagi yang bisa menyebabkan cinta yang (pernah) ada di awal pernikahan lambat laut menjadi hilang, apalagi dengan sifat yang mungkin kekanakan, tatkala ada masalah mereka berdua saling ngambek, dan bukannya langsung berkomunikasi bersama bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut akan meledak juga akhirnya.
    Atau, well, mungkin memang sebelum pernikahan mereka tidak benar-benar saling mengenal pasangannya, dengan berkomunikasi sampai mendalam. Setelah menikah, dan bertemu tiap hari, terpaksa berkomunikasi setiap hari. Nah, barulah mungkin pada aaat itu mereka menyadari ketidaknyambungan itu.
    Btw, aku rasa mbak Icha dan suami sudah menjalin komunikasi yang baik sebelum menikah, dan dilanjutkan setelah menikah. That's very good. Tapi di sekitarku (untuk tidak menyebut diri sendiri, huehehehehe ...) banyak contoh yang kutulis di atas terjadi. Akhirnya? Pihak perempuanlah yang harus selalu mengalah, karena didukung oleh kultur patriarki dimana laki-laki merasa HARUS SELALU MENANG.

    ReplyDelete