Google Adsense

KARNA MENDONGENG SI BUNGSU CEPAT BELAJAR MEMBACA

Bersama anak dan keponakan


Kamar Bunda, 25 Oktober 2012.
Menjumpai Takita
di rumah.

Salam Damai dan Sejahtera.
Ananda Takita, ada perasaan haru membuncah dalam dada Bunda saat membaca suratmu. Perkenankan Bunda membalasnya.

Ananda Takita,
Dulu ketika Bunda masih kanak-kanak, Bunda tidak pernah mendengarkan orang tua Bunda bercerita/mendongeng. Menyedihkan yah? Tapi Bunda tak menyesal mempunyai kedua orangtua Bunda tersebut. karena Bunda mencoba memahami situasi dan kondisinya. Bunda terlahir di tengah keluarga besar. bunda anak ketujuh dari sebelas bersaudara yang semuanya perempuan.

Kebayangkan repotnya, Mama mengurus kami. Karena Papa bekerja, praktis Mama yang mengasuh dan merawat kami di rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga.Jarak usia kami antara 2 sampai 3 tahun. Jika mengingat masa kecil, yang teringat sekarang adalah kerepotan Mama saat mengurus kami, mulai dari menyiapkan makan atau menemani kami belajar.

Kami dulu kalau belajar, duduk mengelilingi meja makan yang besar. Kami tidak mempunyai meja belajar masing-masing. Jadi kami terbiasa belajar bersama-sama. Mama dan Papa mengajari kakak-kakak yang duduk di SMP dan SMA. Nah kakak-kakak itulah yang mengajari adik-adik yang masih duduk di SD. Mama dulu guru Bahasa Inggris dan Matematika, sedangkan Papa sangat jago pada pengetahuan umum (sosial) Alamarhum Papa pensiunan Angkatan Darat, dari beliau kami mendapat pelajaran sejarah kebangsaan. Ini mencakup PMP, PKN, dan IPS.

Cara Papa mengajar kami sangat asyik, kami mendengar Papa bercerita saat perang, bercerita para tokoh dan pemikiranya. serta apa yang melatar belakangi sebuah peristiswa sejarah. Bunda merasakan manfaat yang luar biasa dari cara almarhum papa mengajar. Karena lewat cerita Papa, kami lebih mudah memahami.


Kami sekeluarga
Kel. Frisch Y Monoarfa-Koraag

Ananda Takita
Bunda mempunyai dua orang anak, yang pertama laki-laki berusia 12 tahun dan yang kedua perempuan usia 9 tahun. jauh sebelum Bunda menikah, Bunda sudah mempunyai konsep bagaimana mengasuh dan mendidik anak-anak. Setelah Bunda menikah, Bunda sudah mengoleksi berbagai buku yang Bunda niatkan untuk mendongeng pada anak-anak Bunda.

Bunda sangat mengerti pentingnya mendongeng/bercerita langsung pada anak-aak. Bukan karena Bunda ahli tapi bunda sangat terkesan dengan cara bercerita almarhum Papa yang mengajar kami lewat bercerita. Bukan mengenai kisah binatang atau negeri impian tapi yang diceritakan almarhum Papa, adalah bagaimana kehidupan pada masa perang.

Keterbatasan segalanya pada jaman perang, membuat anak-anak tidak bebas mendapatkan pendidikan, bahkan susah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar sekalipun. Ini membuat kedua orangtua Bunda mengajarkan hidup prihatin dan mensyukuri apa yang kami miliki. Kami di didik saling membantu satu sama lain karena pekerjaan di rumah memang dilakukan Mama dan dibantu anak-anak.

Maka ketika Bunda mempunyai anak, apa yang tidak Bunda dapatkan waktu kecil, coba Bunda wujudkan pada anak-anak Bunda. Sejak mereka masih dalam kandungan, Bunda kerap memutarkan lagu-lagu klasik dan berbicara banyak hal pada mereka walau mereka masih ada di dalam perut. Bunda percaya mereka bisa mendengar.

Ketika mereka sudah lahir, Bunda kerap bercerita dan memperlihatkan film-film tentang aneka binatang. Bahkan si bungsu, bisa membaca jauh sebelum masuk sekolah. Si bungsu punya buku kesukaan dan dia tidak bosan mendengarkan buku itu dibaca Bunda berulang-ulang. Si Kakak dengan setia menemani dan bergantian dengan Bunda membaca. 

Dulu saat kakak kecil, Papanya yang sering membacakan cerita-cerita tentang kendaraan bermotor terutama kendaraan perang seperti Jip, pesawat, tank dan lain-lain. Juga jenis-jenis senjata api. Si Kakak kecil mengenal dengan baik jenis senjata api seperti FN, Revolver, AK 47, Magnum dan lain-lain. Dari sini jelas terbaca ambisi si papa yang menginginkan si kakak menjadi anggota militer. Karena yang dibacakan si Papa seperti itu, maka si Kakak tetap setia menemani Bunda saat Bunda mendongen untuk si Bungsu.

Suatu hari si Bungsu memberi Bunda kejutan. Si bungsu bilang, dia yang akan membacakan buku ke Bunda. Waduh! Karena kerap dibacakan, si Bungsu hafal dan mampu "membaca"kan buku itu ke Bunda karena dia sudah hafal ceritanya. Sampai akhirnya karena kegiatan mendongeng, si bungsu  bisa membaca sendiri. 

Ananda Takita
Sayangnya kegiatan itu terhenti seiring bertambahnya usia mereka. TV kabel dan Playstation mengubah segalanya. Benar banyak program anak-anak di tv kabel, lama-lama kegiatan mendongeng itu berhenti. Sekarang Bunda dihadapkan masalah membiasakan kembali kedua anak Bunda untuk membaca buku.

Memang kegiatan sehari-hari mereka sangat padat. Mulai bangun jam 5 pagi, siap-siap lalu ke sekolah. Tiba kembali dari sekolah sekitar pukul setengah tiga sore. Biasanya langsung mandi, terkadang tidak makan karena sudah sangat mengantuk. Bangun sekitar jam setengah enam. Lalu mereka akan sebentar nonton tv. Jam tujuh belajar. Jam delapan makan malam lalu kembali belajar/mengerjakan tugas sekolah sampai sekitar jam setengah sepuluh. Lalu santai 30 menit sebelum siap-siap untuk tidur. 

Melihat aktifitas seperti itu, Bunda terkadang hanya punya waktu 30 menit bertukar cerita, ya saat di tempat tidur itu. Bunda atau Papanya anak-anak secara bergantian menemani anak-anak tidur. Padatnya keseharian mereka, terkadang tidak tega mengganggu mereka kalau mereka sedang menonton tv atau main Playstaton karena waktunya juga tidak banyak.

Ananda Takita
Bunda tetap menyediakan waktu berbincang-bincang dengan kedua anak Bunda. Tapi kadang Bunda juga masih suka marah loh, pada mereka. Memang itu tidak baik tapi Bunda juga manuisa biasa dan Bunda pikir sesekali marah jika mereka tidak disiplin memang perlu. Tujuannya agar mereka lebih reaktif menghadapi sebuah situasi dan tahu aturan dengan baik. karena di masyakarakat lebih luas tidak memberi keistimewaan apa-apa pada setiap orang. Sehingga hanya yang berahlak, berprestasi dan beretika baik yang bisa di terima di mana-mana. Ibarat buah segar di segala musim, anak yang berahlak, berprestasi dan tahu membawa dirilah yang bisa diterima semua masyarakat.

Ananda Takita, 
sampai sini dulu surat Bunda, semoga bisa bercerita  di lain kesempatan. Bunda tetap berpesan pada semua kawan-kawan Bunda mengenai pentingnya mendongeng pada anak-anak. Karena selain mendekatkan diri orangtua dengan anak, lewat mendongeng anak juga belajar nilai-nilai kehidupan.


Salam sayang
Elisa Koraag
(Mama Bastiaan dan Vanessa)


No comments:

Post a Comment