Google Adsense

KISAH DI BALIK SEMANGKUK BUBUR MENADO


Bukber bersama Komunitas Kumpulan Emak Blogger.Dok: Irmas Susanti

Saya lahir dan besar di Jakarta, namun kedua orangtua saya asli dari Sulawesi Utara, Menado tepatnya. Ayah saya purnawiraan TNI AD dari KODAM XIII Merdeka sementara Ibu saya mantan guru bidang matematika dan bahasa Inggris.Jika memperkenalkan diri sebagai orang yang berasal dari Menado, maka sering saya mendapat tanggapan Bunaken, Bibir Menado dan Bubur Menado. Ada sebagian pendapat  yang mengatakan perempuan Menado cantik-cantik dan seksi. Tubuh bagus, wajah bagus dan harum. Pesta dan belanja menjadi dua kegiatan yang lekat dengan perempuan Menado. Saya tidak menyangkal tapi juga tidak membenarkan.

Jika saya menilik kebiasaan masyarakat Menado yang telah lebur menjadi budaya, adalah  banyak makanan dan kegiatan bermusik apapaun kegiatannya. Baik pesta pernikahan, pesta kelahiran atau kematian. Menurut cerita almarhum Ayah saya, semua semata ingin menunjukan rasa syukur. Di balik seiap kematian tetap ada syukur yang harus dinaikkan kepada sang Pencipta. Musik dan lagu-lagu yang dinyakikan adalah bagian dari ritual tersebut.

Saya menjejak kota Menado, saat  berdinas. Bisa dibilang semua saudara sekandung saya, bisa datang dan menjejak di Menado, setelah kami berkerja. Walau jarak memisahkan begitu jauh dari tanah leluhur kami, tapi adat kebiasaan terutama dalam hal kuliner tetap dihidupkan.Ikan bakar dabu-dabu iris, bubur Menado ayam tuturuga, ikan woku balanga, ikan/ayam rica-rica dan Rica rodo (berbahan terong). Sebagian menu kuliner Menado yang kerap tersaji di meja makan. Maka bisa dibilang lidah kami terbiasa.

Namun tetap saja kuliner Menado belum sefamiliar, nasi Padang, nasi gudeg, Soto Bandung atau laksa Betawi. Ini bisa dibuktikan jika ada festifal kuliner, masih sedikit sekali kuliner Menado yang dijual. Walaupun  kini sudah ada  yang menjual bubur Menado sebagai makanan sarapan, setara nasi
 uduk atau lontong sayur di seputaran Jakarta dan Tangerang.

Terkait mensosialisasikan kuliner Menado, kami kakak-beraiik rajin memperkenalkan lewat komunitas tempat kami beraktifitas. Saat bazar sekolah atau di perumahan tempat kami tinggal, kami biasa menyajikan Bubur Menado, Ayam rica-rica dan Ikan bakar plus dabu-dabu iris. Jika kami mengundang kawan-kawan ke rumah, kamipun menyajikan menu masakan Menado. Karena walau kuliner Menado terkenal pedasnya, sebetulnya sangat fleksible. Semua masakan bisa dibuat pilihan pedas dan tidak pedas. Tapi satu yang pasti sambal/dabu-dabu pedas harus selalu ada.

Kisah di Balik Bubur Menado

Dari cerita yang saya dengar  dari Ibu maupun tante-tante (saudara-saudara ibu) Bubur Menado tercipta dari situasi yang prihatin. Menurut Ibu  yang keluar masuk lobang perlindungan di jamam perang, kesulitan makan adalah hal biasa. Karena itu, hasil kebun dan hasil laut yang diasap supaya awet adalah sumber utama. Namun orang-orang Menado juga terkenal berdarah panas dan selalu harus menjadi penakluk. Ular, tikus pohon, rubah, monyet, anjing termasuk hewan yang dengan mudah diolah menjadi makanan.Hukum alam, yang kuatlah yang bertahan, kelihatannya dipegang teguh orang Menado.

Bubur Menado tercipta saat perang, di mana di situasi yang serba sulit.. Maka Hukum Tua (Sebutan bagi kepala desa) mengumpukan semua warga dan meminta kesediaan warga menyerahkan bahan makanan yang mereka punya.Maka terkumpullah berbagai sayur-sayuran, jagung, umbi dan beras

Para lelaki dan perempuan mebersihkan , mengupas bahan makanan, menyiapkan belanga/ buluh (bambu)  dan menyiapkan api. Sebagian memang di masak dalam belanga dan bulu (bambu). berbagai sayur  di masak menjadi satu. Siapa mengira terasa enak? Bubur berisi sayur-sayuran dilengkapi dengan ikan galafea/roa/cakalang yang sudah di asap. Semua orang bisa makan, dari anak-anak hingga orangtua. Karena lembut dan tidak pedas, sedangkan yang suka pedas bisa menambahkan dengan sambal/dabu-dabu. Entah sejak kapan dan seberapa persen kebenaran  cerita, saya  tidak tahu. Tapi kisah ini terus diceritakan ke anak-anak dan cucu-cucu. Sehingga kami percaya Bubur Menado adalah makanan sehat dan nikmat yang lahir dari keprihatinan.

Filosofi dibalik bubur Menado.
Yang utama adalah kebersamaan. Bisa di makan semua orang (halal) tidak ada unsur haramnya, terdiri dari beragam bahan makanan, menunjukan berbagai hal beda bisa bersama untuk satu tujuan dan dibuat dari bahan segar. Artinya bubur Menado adalah makanan yang bisa buat siapa saja dan sehat. Enak seharusnya menjadi syarat utama sebuah makanan tapi ditambah sehat, makanan tersebut menjadi sempurna. Karena banyak makanan enak yang bisa menjadi pemicu gangguan kesehatan. Tidak banyak makanan enak yang sehat dan salah satunya Bubur Menado, atau di Menado biasa disebut Tinutuan.

Beberapa waktu lalu saya ikut dalam acara Buka Bersama dengan Komunitas Kumpulan Emak Blogger. Seperti biasa saya mensosialisasikan kuliner Menado. Maka saya berjanji memasak dan membawakan Bubur Menado. Jujur agak deg-deg an karena tidak semua oang kenal. Dan kenal pertama belum tentu suka. Tapi saya meyakini, Bubur Menado sehat dan enak dan kali ini reputasi saya memasak dipertaruhkan (Jiaah kayak yang sering masak aja!) 

Hari itu, pagi-pagi saya langsung belanja. Selesai belanja, saya menyiapkan sarapan buat suami dan anak-anak yang sedang libur. Selesai menyiapkan sarapan, saya membersihkan rumah dan mencuci baju. (Maklum Wonder woman, disayang iya tapi tetap bertugas menyapu dan mengepel, haishhh kibas serbet di pundak!)
 
Lega rasanya, ketika yang baru kenal dan baru pertama mencoba bubur Menado ternyata terasa pas di lidahnya. Bubur Menado yang saya bawa ludes. banyak yang ingin membawa pulang tapi tak bisa karena kehabisan. senang rasanya mereka suka bubur Menado dan saya berjanji dengan senang hati akan memasaknya lagi.




Ok. ini rerep buat yang ingin mencoba Bubur Menado ala Mamavanenbas
Untuk 10 porsi ukuran sedang.
Bahan Bubur Menado:
- 2 cangkir beras
- 2 ikat sayur kangkung (Bersihkan)
- 2 ikat kacang panjang (kira-kira 20 batang) potong-potog sepanjang 3 cm
- Daun melinjo muda  (Rp. 3.000 aja)
- Daun kemangi 5 ikat
- Jagung 2 buah (Lebih enak jagung lokal)
- Ubi jalar 3 buah ukuran besar
- 6 batang sereh bagian yang putih di keprak
- Jahe dua ruas
- garam 1/2 sendok makan
- merica setengah sendok kecil

Bahan sambal
- 1 ons cabe rawit pedas
- 2 buah tomat
- terasi seruas jempol
- 1 ons ebi
tanpa garam karena ebi sudah asin. Kalau aslinya pakai ikan roa yang sudah di tumbuh halus. Tapi agak sulit dapat ikan roa di Jakarta.

Cara membuat bubur menado:
Rebus beras dan jagung yang sudah dipipil, masukan juga jahe dan sereh dengan air tiga liter, hingga menjadi bubur dengan api kecil agar bubur tidak hangus/gosong. Sesekali diaduk. Kalau sudah menjadi bubur, masukan merica dan garam. Aduk lagi, lalu masukkan semua sayur kecuali kemangi dan tambah etengah liter air. Aduk sampai sayuan berampur denagn bubur nasi dan jagung. Tunggu hingga sayuran kayu lalu masukkan kemangi, aduk merata, diamkan dua menit lalu matikan api.

Cara membuat sambal.
Panaskan wajan dengan dua sendok minyak, masukkan cabe, tomat, terasi dan ebi, lalu masak hingga layu dan ebi matang. Tumbuk/uleg hingga halus dan menyatu. 

Bubur Menado disantap hangat dengan sambal dan ikan. baik itu ikan roa atau ikan cakalang tapi kalau tidak ada, teri medan atau teri jengki yang digoreng garing juga nikmat menjadi pelengkap.

Selamat mencoba dan menikmati.

Artikel ini untuk
berpartisipasi dalam "EAT and Travel With B Blog" Competition




.

18 comments:

  1. Saya suka makan bubur Manado
    terima kasih resepnya, entar biar dicoba oleh isteri saya atau Sandy
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Ngileeeer aku mak icha... T_T

    ReplyDelete
  3. aih mak elisa aku pngn donk nyobain bubur manadonya :)..maknyuss

    ReplyDelete
  4. Akhirnya aq bisa juga nyicip bubur manado ala mak icha...endaang rasanya, thx mak icha, jadi penasaran sm kuliner manado yg lainnya nih hehe.

    ReplyDelete
  5. enak kayaknya nih khas manado. Yuli pernah coba tapi ga pake ikan roa pake ayam :D

    ReplyDelete
  6. Aku suka banget, sayang at that day aku bukber bersama keluarga besar suami - dan mengemban "misi khusus" sehingga tak boleh absen ... iri banget liat kebersamaan kalian!

    ReplyDelete
  7. sebenarnya nggak sulit bahannya ya, mak.. dan sepertinya bikin penasaran, soalnya ada campuran sayurnya. selama ini, makan bubur aceh, bubur ayam, bubur jawa, nggak ada yang dicampur sayur. sip mak, resepnya insyaAllah dicoba :)

    ReplyDelete
  8. hampir 1 thun lamanya saya ngidam ini bubur menado..seneng banget akhirnya kesampean juga nyobain,dan bungkus bawa pulang ha ..haaa

    ReplyDelete
  9. maak Icha filosofinya kenaa banget. btw aku copas resepnya mak. aku juga penggemar bubur Mnado yang belum pernah ke manado.

    ReplyDelete
  10. sering baca dan lihat di tv tapi belum pernah nyoba langsung makkk....^^

    ReplyDelete
  11. wah enak nih sepertinya bubur manado mak icha

    ReplyDelete
  12. aku suka dan baru tahu ada filosofi di balik bubur menado ya mak...tengkyu :)

    ReplyDelete
  13. Sudah disimpan resepnya, Bun. Cuma pernah bikin ikan mas woku dan cabainya dikurangi. Gak kuat. :)

    ReplyDelete
  14. aku g dapet :(((( tapi mau coba aahhh... makasiihhh mak

    ReplyDelete
  15. hadeuuuhh mak elizaaa,...ini baca saat puasa dan terbayang enaknya bubur mak eliza kmn hari itu. Nyaris air liurku menetes....astagfirulllah xixixii...kayanya aku mau praktek deh :):) soalnya bubur menado salah satu makanan kesukaanku, alasannya ? SEHAT ;)

    ReplyDelete