Betadine Antiseptic solution, pertolongan pertama luka ringan di mana saja.


Betadine antiseptic solution, pertolongan pertama luka ringan di mana saja. Semenjak Pak Suami terkena stroke tahun 2017, saya seperti punya balita lagi. Dibilang merepotkan, nggak juga tapi dibilang nggak merepotkan, ya lumayan merepotkan. Kecelakaan kecil, kembali jadi makanan sehari-hari. Saya sangat mensyukuri stroke yang menyerang Pak Suami pertengahan 2017, telah 80 % membaik. Stroke yang menyerang Pak Suami, adalah penyumbatan syaraf yang mengenai syaraf, pengelihatan, bicara dan sedikit daya ingat. Awalnya bagian tubuh sebelah kanan melemah. jadi tangan nggak mampu mengangkat gelas, pun kaki tak mampu melangkah. Kondisi nyaris lumpuh ini, sekitar 3 bulan. saya dan dua anak merawat sendiri Pak Suami di rumah.

Selain perawatan medis, Pak Suami juga mengikuti terapi akupuntur, kebetulan terapisnya, adik kandung Pak Suami. Jadi bisa intesif dijalani. Sama seperti pandemi yang memaksa semua orang mengubah prilaku keseharian, pun kami ketika merawat Pak Suami. Tiap malam merapal doa, memohon diberi kesabaran seluas samudra. Nggak ada tangis, nggak ada air mata. Saya berpikir ini bagian dari janji menikah dulu.

 Dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, 

tetap saling mengasihi. 

Pak Suami terkena stroke di waktu yang menurut saya, saya nggak ikutan stroke saja, sudah bagus. Pak Suami terkena stroke di saat dua anak saya jelang ujian akhir SMP dan SMA. 8 hari dirawat di RS, menjadi cerita yang panjang dan melelahkan. Saya setiap malam berjaga di RS. Pagi menyempatkan diri pulang, mengurus sarapan dan anak yang akan bersekolah. Mereka berangkat, saya mencuci pakaian, lalu kembali ke RS. Nggak masak demi pertimbangan praktis. Pulang sekolah anak-anak ke RS, makan siang beli. Saya pulang untuk istirahat. Jelang jam berkunjung sore, saya kembali ke RS, gantian anak-anak yang pulang.

Saat Pak Suami sudah boleh pulang, cerita berlanjut dengan tuntutan kesabaran yang seluas samudra. Pak Suami dengan emosi yang tidak bisa dikorntrol, katanya orang yang sudah kena stroke, nggak mau marah saja tetap marah. Kebayang nggak, yang merawat dan melayani sudah lelah harus menahan emosi untuk tidak terpancing ikutan marah? Bungsu saya, gadis remaja perempuan bahkan sempat deprsi. Dia menjerit di suatu sore sekuat-kuatnya. Dia berteriak, aku nggak kuat, aku nggak kuaaaattttt, Mama. Aku nggak kuat hidup begini. Mau nangis nggak sih? tapi nggak boleh nangis. Saya  memeluknya, mencium kepalanya dan berbisik. Tidak ada yang kuat tapi kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih kuat dari permasalahan kita.

Lalu Si Bungsu bertanya, bolehkah dia bawa motor sendiri? Saya kaget. Ternyata pemicunya, tiap pagi berantem sama kakaknya, Si kakak maunya anter adik sampai satu perempatan di mana si Adik tinggal sekali lagi naik angkut ke kiri dan si kakak ke kanan, arah sekolahannya. Rupanya si kakak karena harus mengantar adiknya, jadi tiba di sekolahnya nyaris selalu terlambat.

waduh, ada persoalan yang saya nggak tahu. saya diam dan merenung. Pertama. saya nggak tahu Si Adik bisa bawa motor. Kedua, ada aturan nggak boleh bawa kendaraan. Ya iyalah, anak SMP kan belum ada yang punya SIM motor. Wajar ada larangan bawa kendaraan motor. Ketiga, ya karena belum punya SIM itu, saya bagaimana mau mengizinkan? Dengan santai Si Kakak yang menjelaskan kalau Papa sudah mengajari Si bungsu bawa motor, jadi sudah dua bulan kalau antar jemput Si Bungsu, biasanya Si Papa yang diboncengin. Masalah nggak boleh bawa motor, agak jauh dari sekolah ada rumah yang terasnya dijadikan parkir motor, jadi nggak akan terlihat dari sekolah. Ketiga, Mama nggak punya pilihan, Si Kakak lelah tiap hari dihukum karena terlambat.

Dan dengan berat hati plus rerapal doa panjang, saya mengizinkan Si Adik mengendarai motor ke sekolah. Ini barangkali yang dibilang indah pada waktunya. Persoalan selesai satu persatu walau tetap ada aturan yang dilanggar.



Walau pak Suami sudah pernah terkena stroke tidak menjadi hambatan kami dalam menjalani hobi #NgetripCihuy. Setelah pak Suami stroke tahun 2017, kami masih melakukan trip ke Malaysia, dan Bali, sebelum akhirnya pandemi Covid-19 memaksa kami tinggal #dirumahaja

Sejak anak-anak bersekolah, selalu di antar dan di jemput Pak Suami. Kok bisa? karena Pak Suami punya usaha sendiri jadi memiliki waktu fleksibel. Sempat juga punya langganan ojek dan mobil jemputan saat saya dan Pak Suami harus ke luar kota. Dua bulan sebelum Pak Suami stroke, Pak Suami sudah mengajari Si Bungsu mengendarai motor. Padahal saat itu usianya masih 14 tahun. Saya nggak tahu dan nggak ada yang memberitahu. Jadi ketika Pak Suami kena stroke dan di rawat, maka Si Kakak kebagian antar si adik sebelum ke sekolahnya. Pas pulang Si Adik bisa naik angkutan umum dengan kawan-kawan atau naik ojek lagi. Tapi persoalannya arah sekolah keduanya bertolak belakang, akibatnya si Kakak nyaris tiap hari terlambat. 

Singkat cerita, recovery pak Suami terbilang cepat. Mungkin karena semangat untuk sembuhnya besar. Saat Pak Suami terkena stroke, Kedua anak kami, baru mau lulus SMP dan SMA, masih membutuhkan banyak biaya. Kehidupan jalan terus, Saya dan anak-anak mulai beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada Pak Suami dan Pak Suami mulai belajar untuk bersabar. 

Dalam keadaan normal, menahan sabar bukan pekerjaan yang mudah, apalagi buat yang kena stoke dan yang merawat. Bagaimana nggak akan emosi jiwa, jika berhadapan dengan penderita stroke yang menyerang alat bicaranya, sehingga apa yang ingin dikatakan tak bisa ditangkap orang lain? 

Tapi  yang terparah dari apa yang diambil dari penderita stroke 

adalah rasa percaya diri. 


Bagi orang yang tidak tahu kalau Pak Suami pernah stroke tidak akan percaya melihat penampilan dan caranya berbicara. sayangnya pak Suami tetap merasa, jika bertemu orang lain, pasti akan dikasihani karena pernah stroke. Jangankan dengan kawan, dengan yang terhitung keluarga saja, Pak Suami enggan bertemu.




Hari-hari sekarang, saya lebih sering melewati berdua dengan Pak Suami. Sebetulnya bertiga tapi karena si Sulung masih kuliah jadi lebih sering cuma saya dan pak Suami di rumah. sedangkan Si Bungsu  kuliah tapi di luar kota. Nah karena cuma berdua ini, sering terjadi kecelakaan kecil karena saya tidak bisa selalu melihat keberadaan Pak Suami. Terkadang saya di dapur menyiapkan dan memasak untuk makan, Pak Suami utak-atik motor. Tiba-tiba terdengar Pak Suami mengaduh. Kakinya terluka kesandung, peralatan. Pak Suami penderita diabetes, jadi kebayang kan rewelnya saya kalau dia terluka, sekalipun kecil.

Seperti di awal cerita, saya katakan memiliki Pak Suami yang pernah terkena stroke, ibarat punya balita. Mengenang punya anak balita yang ceria, lincah dan bahagia, hati Ibu harus tabah dan kuat. Anak terjatuh, terbentur, terluka adalah proses pembelajaran kehidupan. Baik di rak P3K di rumah maupun di tas saya selalu sedia "Dua Sahabat, Pertolongan pertama saat terluka di mana saja. yaitu Betadine plaster dan Betadine Antiseptic Solution.

Jadi kalau Pak Suami sudah mengaduh, saya nggak bertanya. Cukup ambil Betadine plaster dan Betandine antispetic solution. Pertolongan pertama, luka langsung tetesin betadine antispetic solution lalu tutup dengan plaster. Dah gitu saja, aman. Biasanya karena rasa bersalah Pak Suami akan bilang, Maaf yang sudah merepotkan. saya nggak lihat kalau kotaknya ada di situ. Kadang mulut bawel ini ingin bicara. Masa nggak lihat? Kan yang kerja di situ kamu. Masa nggak ingat dan seribu pertanyaan penuh kekesalan lainnya. Tapi sumpah, semua itu nggak ada gunanya. Karena kemampuan ingatannya menurun, demikian juga dengan kemampuan melihatnya. Sekarang untuk membantu pengelihatannya dibantu kacamata plus 3.

Supaya hidup ini berlanjut nyaman, saya menyikapi dengan santai. Menggenggam tangannya, menatap wajahnya sambil bilang, Its ok, the next lebih hati-hati ya. Lalu saya membereskan peralatan ke kotaknya dan meletakan di tempat yang tidak menghalanginya berjalan. Sambil berucapa terima kasih Tuhan untuk kesabaran yang diberikan dan terima kasih untuk dua Betadine  yang sangat membantu. Bersyukur membuat saya bahagia.


 





No comments:

Post a Comment