Google Adsense

CATATAN dari Peluncuran Buku Romantika Orang Buangan.



Note:
Minggu kemarin, saya banyak kerjaan baik di kantor maupun di rumah. Saya belum sempat menulisan laporan mata dan telinga dari acara peluncuran buku Sobron Aidit dengan judul “ROMATIKA ORANG BUANGAN”. So better late than never, saya menuliskan. (Icha)

CATATAN dari Peluncuran Buku Romantika Orang Buangan.

Spanduk besar bertuliskan PELUNCURAN DAN BEDAH BUKU KUMPULAN CERPEN/ MEMOAR: ROMANTIKA ORANG BUANGAN KARYA SOBRON AIDIT, Terbitan Lembaga Humaniora, Depok. Kamis November 2006. di Gedung Joeang 45, Terpasang megah metarbelakangi podium, menyambut para pengunjung.

Sobron Aidit tampak berkemeja batik dengan nuansa coklat, senada dengan celananya. Ketika saya datang, sudah hadir terlebih dulu pak Djoko Sri Moeljono Ir.yang juga member mailing list Sastra Pembebasan dan pak. Harsutejo, sang editor dari buku Romantika Orang Buangan. Rencananya pak Harsutejo yang akan memoderatori acara malam ini.

Tak lama, muncul Rieke Oneng Dyah Pitaloka yang dikawal sang suami Donny Gahral. Rieke nampak sangat pucat, busana hitam yang dikenakannya membuat semakin kontras dengan kulit wajahnya. Maklum dari infoteinment yang saya dengar, Rieke sedang berbadan dua.

Acara berlangsung agak tersendat-sendat karena sound systemnya sangat tidak bagus. Setiap kali akan digunakan mike-nya bermasalahan. Dan itu berlangsung selama acara. Bahkan ketika giliran Rieke berbicara dan mike-nya ngadat, Rieke berkomentara ”Mentang-mentang gue istri supir bajaj, mikenya gak kompak!” langsung di sambut gemuruh tawa pengunjung.

Pembicara pertama Fay yang mengenal Sobron 10 tahun lalu tapi bukan sebagai Sobron melainkan salah satu dari 25 nama samaran Sobron. Jujur mengatakan ketertarikannnya mengenal Sobron karena nama belakangnya yang erat kaitannya dengan ketua PKI DN Aidit. Fay mengatakan untuk tidak percaya pada sejarah yang diceritakan orang. Hendaknya setiap individu mencari tahu sendiri dari berbagai sumber yang ada. Bagi Fay, para eksil adalah mata bangsa Indonesia di negeri lain. Dari para sastrawan eksil, kita mendapat kesan atau pandangan pertama dari orang yang merasakan langsung hidup di sana. Hidup menyatu sebagai komunitas bukan seperti turis atau orang yang melakukan penelitian. Tapi orang yang memang mengikuti semua aktivitas kehidupan karena memang hidupnya menyatu pada komunitas tersebut.

Dari sastrawan eksil atau para penulis eksil inilah kita mendapat infromasi mengenai kehidupan nyata dari tangan pertama yang merasakan kehidupan langsung di sana. Fay mengambil contoh dari Asahan Alham Aidit dengan bukunya; Cinta Perang dan Ilusi. Kita tahu Vitenam selama ini dari film dan buku tapi tidak ada yang menceritakan secara detil kehidupan perang di Vietnam. Dan Asahan membawa informasi itu pada kita. Bayangkan informasi seputar perang Vietnam kita ketahui tahun 2006 di luar informasi yang umum yang memang sudah kita ketahui seperti tentara Vietcong, misalnya.

Rieke “Oneng” Dyah Pitaloka mengaku kenal Sobron sekitar th 2002 dari situ pula titik awal perubahan pandangan Rieke terhadap sastrawan eksil. Menurut Rike Buku Sobron adalah bagian untuk memperingati sebuah kesedihan. Selama ini bicara seputar peristiwa ’65 para korban hanya sekumpulan angka. Para korban in personal alias tak berwajah atau .tak berbentuk. Dengan terbitnya buku-buku karya satrawan eksil hendaknya bisa mendorong semua yang mengetahui peristiwa ’65 juga mau berbicara bukan hanya para korban. Pada kesempatan ini, Rieke juga membacakan sebuah puisi karya Sobron yang berjudul November. Kata Rieke ini sangat Pas karena memang sekarang bulan November.

Pak Djoko memberi pernyataan yang tepat dengan mengatakan malam ini seharusnya hanya peluncuran buku karena bagaimana mungkin bisa dilakukan bedah buku jika orang belum membaca buku tersebut. Berhubungan Pak Djoko sudah membaca hingga tamat sehingga beliau bisa mengomentari isi, diantaranya keingin tahuannya mengapa dalam buku ROB, Sobron banyak memuji tuan rumah dalam hal ini RRT?

Menurut Sobron, tuan rumah memang baik dan memenuhi segala kebutuhan, kalau ditanyakan pernahkah tidak suka pada tuan rumah. Sobron mejawab: Sebagai manusia biasa ada juga kalanya ia jengkel atau dongkol dengan tuan rumah biasanya bila berkaitan dengan kebebasan. Karena di RRT semua bisa diperoleh hanya kebebasan yang tidak.

Namun keluarbnya Sobron dari RRT bukan karena sebel atau dongkol pada tuan rumah tapi lebih dikarenakan Sobron harus merasa tahu diri. Tahun 81 ketika Sobron dan kel meninggalkan RRT didorng kesadaran sendiri untuk meninggalkan RRT. Pada masa tersebut pemerintah Indonesia ingin memperbaiki hubungan dengan RRT dan salah satu opsinya adalah mengusir semua yang terlibat peristiwa’65 yang berada di RRT.

Kelihatannya sebagian besar yang hadir adalah mereka yang menjadi korban th 65. Terlihat dari fisiknya yang rata-rata sudah sepuh. Ini juga tampak dari apa yang mereka katakan ketika diberi kesempatan untuk bertanya atau mengapresiasi.

Putu Oka Sukanto (POS), yang mengaku 10 th di penjara orba malah mengatakan keliru jika banyaknya permintaan agar para korban’65 menuliskan sejarah. Justru menurut POS, generasi sekarang yang harusnya menuliskan sejarah berdasarkan persepsi mereka. Misalnya . apa persepsi mereka melihat relief di Lubang Buaya, salah satunya menggambrkan Gerwani telanjang menari-nari. Apa persepsi generasi sekarang melihat gambar tersebut. Apakah sesuai dengan adat ketimuran, perempuan telanjang menari-nari? Apa justru bukan sebalinya sebagai penginaan terhadap perempuan Indeonsia?

Budi Kurniawan, menceritakan ia baru saja kembali dari bangka belitung. Yang adalah tanah kelahiran dan para leluhur Sobron Aidit. Bahkan sempat mengunjungi rumah keluarga Aidit. Kondisinya tidak baik. Permandangan belitung indah, apakah Sobron tidak tertarik untuk menjadi Beitung sebagai sumber inspirasinya, Sobron mengatakan, jelas ia ingin menjadikan Belitung sebaga sumber inspirasi, bahkan kenangan pada Belitung dalam benaknya tak pernah pudar. Tapi memang perlu pertimbangan tersendiri untuk mengunjungi Bangka Belitung.

Budi mempertanyakan, apakah tidak ada keinginan Sobron untuk menulisan sejarah mengenai Partai komunis Indonesia. Menurut Budi saat ini terjadi kekosongan informasi mengenai sejarah bangsa yang ada kaitannya dengan komunis. Pernyataan Budi juga diperkuat Roy Pakpahan mantan wartawan yang kini menjadi aktivis PRD. Menurut Roy mengapa tidak ada yang mau menuliskan konflik apa sebenarnya yang terjadi seputar ’65. Apakah benar hanya pertentangan kader partai dengan elit politik atau yang lebih luas lagi antara kader partai dengan para pendukung Soekarno.

Sebagian besar yang bertanya dari para pengunjuang memang pada ahirnya tidak lagi berbicara ROB. Kebanyakan mempertanyakan apakah tidak ada keingnan dari seorang Sobron untuk menuliskan hal yang berkaitan dengan peristiwa’65. Sobron mengatakan dari dulu sampai sekarang beliau bukanlah orang partai dan berbicara politik sekalipun banyak tahu tentang kegiatan partai dan politik. Sehingga menurut Sobron tidaklah pada tempatnya jika ia menuliskan hal tersebut. Sama halnya ketika banyak watawan yang mengejarnya hingga ke Paris untuk membiacara ’65 dari sisi partai dan politik, Sobron dengan tegas mengatakan mereka salah orang. Baperki, pendidikan, lembaga persahabatan adalah hal yang melingkupi dirinya di seputar ’65. Dengan tegas Sobron mengatakan, ia hanyalah seorang budayawan.

Kelihatannya malam peluncuran buku ini, mungkin karena mendekati peringatan hari pahlawan, mungkin tanpa sadar rasa nasionalis setiap orang tergugaj. Teringat pada sejarah dan alam bawah sadar menghantar pada satu harapan di ungkpanya sebuah cerita baru yang bisa melengkapi potongan sejarah bangsa. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah tapi juga jangan sertiap pada ingatan sejarah. Sejarah ada fakta tapi bagaimana kita mengapresiasi harusnya disesuaikan dengan fakta itu sendiri, sehingga kita tidak terjebak pada kebohongan sejarah.

Kita masih punya tugas untuk menceritaan sejarah pada generasi selanjutnya, termasuk anak-anak kita. Di akhir acara Oneng mengatakan, sudah saatnya setiap orang tidak lagi untuk terus menerus merasa takut. Kini para korban ’65 sudah berwajah bukan lagi sekedar angka. Dan melalui buku seperti karya Sobron diharapkan dapat memacu setiap orang untuk berbicara, hingga pada akhirnya kebenaran akan terungkap. (Icha Koraag, 13 Nov 2006)

1 comment:

  1. Anonymous12:59 AM

    I love it Icha,
    Rgds,
    a

    ReplyDelete