Google Adsense

Catatan Perjalanan Icha: JAMBI DAN SULAWESI

Catatan Perjalanan Icha: JAMBI DAN SULAWESI
Icha Koraag.

Aku kembali mendapatkan kesempatan berkeliling pelosok Indonesia. Kali ini Jambi dan Sulawesi. 2 kota kabupaten di Jambi yakni Kuala Tungkal dan Muara Bungo, serta 18 kota se Sulawesi.

Senin: 11 Februari 2008.
04.10...

"Maa...bangun. Jaga anak-anak ada kebakaran!" Itu ucapan suamiku saat menyentuh ujung kaki. Dalam keadaan setengah sadar aku mencoba mencerna apa yang di ucapkan. Berat kelopak mata ini membuka. Soalnya hampir tengah malam, ketika aku merampungkan perlengkapan yang akan aku bawa ke luar kota.
"Kebakaran?" tanyaku. Suaraku sendiri mampu memulihkan kesadaranku. Reflek aku melompat dari tempat tidur dan menatap kedua buah hatiku. Linglung tak mampu berpikir. Suamiku tengah sibuk menelephone pemadam kebakaran. Aku menatap jam dinding di kamar, 04.10.

Lalu aku keluar, untuk melihat apa yang terbakar dan dimana. Persis depan pagar seorang ibu berpelukan dengan anaknya, menangis sambil berteriak tolong....tolong.
Aku mendekati dan mengajaknya masuk tapi ia menolak. Satu persatu masyarakat sekitar mulai terbangun. Saat itu api sudah membumbung tinggi,

Aku perhatikan yang terbakar letaknya persis hanya berjarak dua rumah dari rumahku. Tapi yang terbakar rumah dibelakangnya. Saat itu rasa takut menjalari seluruh tubuhku, ini adalah kebakaran terdekat yang ku alami. Walau bukan rumahku yang terbakar tapi kedekatan itu sungguh membuatku cemas. Aku bisa merasaan apa yang di rasakan si pemilik rumah yang terbakar.

Ak berlari masuk, menatap kedua anakku yang masih terbaring. Suamiku sudah mengeluarkan semua ember yang kami punya.
"Ma, jaga anak-anak!" Serunya. Aku tersadar, waktu tersu berjalan dan pagi ini aku harus ke airport Soekarno Hatta. Aku harus berangkat ke Jambi.
.
Kelegaan segera memenuhi diriku, manakala terdengar sirine pemadan kebakaran. Tak lama suamiku sudah masuk kembali ke rumah.
"Saya harus mandi pa!" Ujarku
"Ya, air panas juga sudah siap!" Ujarnya sambil melap wajahnya yang basah. Aku tertegun. Air panas? Jam berapa suamiku terbangun?

Aku tak sempat berpikir karena waktu berjalan terus. Selesai mandi, secangkir teh hangat sudah terhidang.
"Berapa lama dandannya?" Tanya suamiku
"Kenapa?" balasku
"Saya mau panggil taxi!' Ujarnya.
"15 menit lagi!" Jawabku.

Bas dan Van masih lelap di buai mimpi di balik selimut. Ku kecup kening keduanya dan berpamitan pada suamiku. Ah bidang dadanya selalu menawarkan kehangatan. Enggan ku lepaskan pelukannya, namun tugas menunggu.

Berjalan agak jauh dari pagar karena taxi terparikir di belakang mobil pemadan kebakaran. Aku sempat melihat api sudah mengceil tapi belum padam. Ku genggam tangan suamiku dan ku minta ia tidak mengantarku ke taxi karena Bas dan Van masih lelap. Tapi ia meyakinkan tidak apa-apa.

Masih terdengar raungan sirine pemadan kebakaran, ketika taxi yang membawaku meluncur meninggalkan rumah. Perasaan gundah gulana terus membebani bahkan hingga di dalam burung besi yang mengangkatku tinggi ke awan. tapi saat airport Jambi menyambutku, konsentrasiku sudah pada tugas. Sejenak ku lupakan apa yang kutinggalkan. Aku harus berusaha mengatur perjalanan karena Kuala Tungkal masih harus dilanjutkan dengan perjalanan darat 3 jam dari Jambi.

Panasnya kota Jambi berbanding terbalik dengan Jakarta yang masih terus di guyur hujan dan juga kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menumpang angkutan antar kota, bau asin air laut menyerbu hidung ketika Kuala Tungkal nampak di ujung. Kota kecil yang sepi namun terasa ada geliat ekonomi untuk membangun. Industri telekomunikasi mulai unjuk gigi, mengedukasi nelayan tentang manfaatnya.

Pukul 15.00 aku bertemu dengan wajah-wajah ramah yang ternyata bukan asli kuala Tungkal melainkan asli Jawa barat. Namun demikian budayanya sudah membaur. Aku menyerahkan surat tugas dan meminta dokumen yang harus aku audit. Karena hari menjelang sore, semua dokumen di siapkan dan aku memilih random 3, 5 dan 10 dokumen tiga bulan terakhir untuk setiap proses pekerjaan. Keseluruhan proses ada 10 berarti berkisar antara 50 dokumen yang harus aku periksa dan sesuaikan termasuk dalam sistem komputernya.

Pukul 17.00 aku diantarkan ke hotel. Dengan pengantar permohonan maaf karena air tidak bagus. Air sulingan dari air laut jadi agak kekuningan, Aku tertawa dan berterima kasih. Kehidupan lapangan bukan hal baru, jangankan mandi di kamar mandi, di tepi sungaipun tak masalah asal jangan ada yang meilihat. Karena bukan gadis desa yang sedap di pandang melainkan ibu dari dua anak.

Begitu pintu kamar tetutup, aku langsung membuka telephone seluler dan menghubungi suami serta kedua anakku. Sedikit melepas rindu dan bertanya kebakaran tadi pagi. Tabung gas pembagian pemerintah dalam prject konversi minyak tanah ke gas lah yang menjadi biang keladinya.

Tak banyak yang bisa aku bicarakan karena tiba-tiba kelelahan sangat membebani tbuh ini. Selamat malam dan cium kangen mengakhir telephoneku.

Besok aku masih di Kuala Tungkal tapi sore kembali ke Jambi untuk melanjutkan perjalanan ke Muara bungo!.................

1 comment:

  1. Wah, mbak itu aturan mampir ke tempat saya di Tungkal.
    Salam kenal.

    ReplyDelete