Anak

Anak-anakku Jacko Mania!
Icha Koraag

Sebagai ibu, istri dan perempuan pekerja, waktuku sebagian besar tersita untuk urusan pekerja. Mulai bangun pukul 04.30, mempersiapakan keperluan anak dan suami, termasuk masak untuk sarapan dan bekal mereka. Berangkat pk. 7.30 sampai rumah kembali sekitar pk. 19.00. Nyaris setengah hari di luar rumah untuk urusan pekerjaan.
Dan biasanya kalau sudah pulang, bersih-bersih diri, istirahat sambil ngobrol dengan Bas dan Van juga papanya, lalau menyiapkan makan malam.

Pokoknya lewat pk. 21.00 aku nyaris kehabisan energy. Mau menulis? Begitu banyak yang ingin di tulis. Tapi kalau aku mengikuti keinginanku menulis, aku mengabaikan rasa lelah dan anak-anak terutama si kecil Van. Yang menjelang tidur masih memerlukan aku. Selain itu terkadang kalau Van sudah tidur, aku masih harus mengintip computer untuk mengevaluasi kerjaan. Biasanya pukul 22. 15 mataku benar-benar mulai sulit di buka. Dan jadwal itu berputar 5 hari. Sabtu dan Minggu agak lumayan bisa bangun lewat dari pukul 7. Karena di jam-jam itu kedua anakku sudah pasti minta susu atau sarapan.

Menulis bagiku adalah salah satu wujud kesenangan maka aku mengalahkan kesenanganku itu dengan merelakan diri bersenda gurau atau ngobrol dengan Bas dan Van menjelang mereka tidur. Dan biasanyapun aku ikut tertidur. Esok pagi, pk. 4.30 aku sudah harus bangun. Pendek kata agak sulit menyisihkan waktu untuk menulis.

Sebenarnya bukan aku mengabaikan menulis. Kadang tulisanku hanya tertuang sebagai catatan harian tanpa sempat aku postingkan di milis atau di blog. Sekarang aku mau sedikit bercerita mengenai dua malaikat kecilku Bas dan Van.

Kematian tragis King of Pop Michael “Jacko” Jackson turut menjadi perhatian Bas dan Van. Ini tak lepas dari peran media yang hingga lebih dari seminggu pemakaman Jacko, beritanya masih mewarnai televisi. Papanya anak-anak yang juga penggemar music, banyak bercerita pada Bas dan Van melengkapi berita seputar Jacko. Soalnya saat Jacko mengguncang dunia, aku dan suami masih duduk di SMA. (Waktu itu belum saling mengenal) Bahkan papanya anak-anak mampu menyanyikan syair lagu-lagu Jacko dengan baik.

Saat menjelang tidur, Van dan Bas dengan antusias menceritakan kembali apa yang didengar dari tv maupun dari papanya. Mereka berdua mampu bercerita seakan mereka yang berada di situasi saat Jacko mendunia. Ah dasar anak-anak. Jiwa dan pikiran mereka memang seperti spon, yang dengan cepat menyerap hal-hal baru, apalagi kalau mereka suka.

Keduanya memang sangat menyukai music. Buatku hal itu menyenangkan saja. Hampir sepanjang kegiatan mereka, aku melihat mereka selalu bersenandung. Bagiku sebagai satu pertanda perasaan mereka nyaman. Karena tidak ada seorangpun kalau susah hati atau tidak nyaman lalu bersenandung. Selain itu aku juga suka melihat mereka mengganti syair seiring dengan kegiatan yang mereka lakukan. Aku tahu untuk yang satu itu mereka meniru aku.

Saat Bas dan Van masih balita. Jika aku membawa mereka untuk menyikat gigi, aku selalu bernyanyi dari lagu “Kakak Mia” yang syairnya aku ganti.
Wahai kuman…wahai kuman
Jangan suka kamu sembunyi.
Itu yang gendut yang warna hitam
Ayo keluar dari gigiku.

Kerapk aku melihat kalau Bas dan Van sedang bercanda, mereka berbalas syair dengan mengganti syair semau-mau mereka. Kadang mereka cemberut kalau syairnya tidak bagus tapi sering juga mereka tertawa tergelak-gelak. Itu juga tanda yang meyakinkan aku, mereka berbahagia.
Lebih dari 2 jam mereka bisa asik mengulang-ulang nonton VCD Michael Jackson. Dan sesekali mengikuti gaya Jacko menari. Aku sempat geli ketika ngobrol dengan papanya anak-anak.
“Pa,,,edan juga si Jacko bisa lentur begitu menarinya!”
“Itu karena dia menekuninya dengan serius!’ Jawab suamiku
“Mungkin juga karena berkulit hitam kali….kan disana AfroAmerica memang pandai menari semua!” ujarku lagi
“Ya, enggaklah, Jacko berlatih sudah sejak usia 5 tahun, ma!’ bantah suamiku. Tiba-tiba Van angkat bicara.
“Iya ma, Jacko itu seperti aku, sejak 5 tahun sudah berlatih menari!’ Ujar Van serius.
Aku menahan senyum sambil bertukar pandang dengan suamiku. Jujur, geli benar mendengar Van berkata demikian. Saat itu lagu Heal the world berkumandang. Kembali Van berkomentar.
“Ini lagu aku suka banget. Suara piano dan gitarnya membuatku nyaman. Jacko menyanyikannya juga bagus banget!” Ujar Van . Aku jadi seriues mendengarkan, apa iya piano dan gitarnya terdengar nyata? Bagiku musiknya gabungan tapi memang Heal The world terasa menyihir pendengarnya.

Usai lagu itu, papanya anak-anak menterjemahkan syair Heal the world dan sedikit latar belakang mengapa lagu itu tercipta. Bas dan Van diam. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan namun aku tahu ada sesuatu yang mereka tangkap dan pahami. Ya, dari seorang King of Pop Michael Jackson banyak yang bisa kita pelajari. Pesannya lewat karya musiknya patut kita tiru. Hidupnya didedikasikan untuk music dengan membawa pesan perdamaian. Musik memang bahasa yang universal. Warna kulit boleh berbeda, warna rambut boleh berbeda tapi music perdamaian mampu menembus semua dinding perbedaan untuk wujudkan dunia menyadi tempat yang lebih baik untuk aku dan kamu..! 14 Juli 2009. Icha Koraag (Di sela-sela makan siang)

No comments:

Post a Comment