Google Adsense

DENDAMKU PADA COPET (Bag.2



Sejak nyaris tercopet di terminal Pasar Minggu saat aku mahasiswa, aku  lebih berhati-hati. Aku tidak lagi menyimpan uang dalam dompet. (Terus dompet gunannya untuk apa?) He..he..he. Aku menyimpan uang di selipan buku, di kotak pensil, dan di kantong bagian dalam tas. Dompet kugunakan menyimpan, ATM, kartu mahasiswa, KTP, pas foto, kartu anggota perpustakaan. Tapi semuanya aku copy dan laminating lalu aku simpan di dompet lain.

Saat menjadi mahasiswa selain  nyaris tercopet di bis, satu kali gelang emasku di jambret dan satu kali dompetku di ambil orang (mahasiswa yang punya kerja sampingan mencopet) Soalnya dompetku raib saat aku ujian di Kampus. Waktu dompetku di copet di Kampus. Aku sadarnya ketika sudah di rumah. Karena ongkos selalu aku siapkan disaku celana jeans jadi selama perjalanan ke rumah aman-aman saja. Tapi saat di rumah  mau mengambil uang untuk beli bakso, dompetnya sudah tidak ada. Padahal waktu mau ujian, aku masih mengeluarkan kartu mahasiswa dari dompet. Sejak itulah aku tak lagi menyimpan uang di dompet. Tapi itu jamannya mahasiswa.

Kali berikutnya nyaris tercopet terjadi saat aku sudah bekerja. Aku masih tetap punya kebiasaan menggunakan dua dompet dan menyimpan uang di kantong bagian dalam tas. Pagi waktu berangkat kerja, adalah waktunya berebut angkutan umum. Kebetulan jarak rumahku dan tempat kerja tidak jauh, hanya satu kali naik angkutan umum kira-kira 30 menit lamanya.

Seperti biasa, tak ada angkutan umum kosong diwaktu orang berangkat kerja atau anak-anak berangkat sekolah. Aku naik metromini 69  jurusan Ciledug-Blok M. Aku berdiri dengan membelakangi sopir dekat pintu depan. Di dekatku berdiri seorang laki-laki berpenampilan rapih membawa map. Anehnya laki-laki itu membawa tas kresk hitam yang disampirkan dilengannya seolah membawa jacket.
Di sini aku mau bilang, percayalah pada naluri. Saat itu naluriku sudah memperingatkan. Laki-laki ini tidak beres. Tapi apanya? Metromini sudah semakin penuh, penumpang masih terus bertambah dan dalam kewaspaadan penuh aku memegang erat tas. Eh kok yang copet ini nekat. Saat sopir berhenti ke sekian kali untuk menaikan penumpang, yang berarti terjadi geser menggeser penumpang  di dalam metromini, si pencopet beraksi. 

Aku menangkap tangannya. Menghentak dengan keras dan berteriak, Bapak ini pencopet sambil mengangkat tangan si bapak ke atas. Sopir menghentikan metromini menengok ke belakang, penumpang ribut. Si pencopet mencoba menarik tangannya. Aku mendorong hingga pencopet itu terdorong ke belakang, secepat kilat aku melompat turun. Di bawah kembali aku berteriak: “Laki-laki yang pakai baju garis-garis biru itu pencopet!” Lalu lagi-lagi dengan senjata andalan aku berteriak keras sambil  mengambil langkah seribu. Kok  aku yang lari? Aku sudah tahu pencopet itu tidak sendiri! Kok tahu?
Ya tahu, karena aku melihat sendiri. Saat aku pulang kerja, lagi-lagi di atas metromini 69 tapi kali ini dari Blok M menuju Ciledug. Mungkin sekitar pukul setengah tujuh malam, jam orang pulang kerja. Waktu itu sekitar awal tahun ajaran baru, jadi banyak calon mahasiswa dengan atribut macam-macam di angkutan umum.

Karena aku naik dari terminal maka aku dapat duduk. Aku duduk tepat di belakang supir, dekat pintu. Ketika di mayestik naik 2 laki-laki calon mahasiswa. Mencangklong tas terbuat dari karung goni, memakai kemeja putih, celana hitam dan kalung nama di lehernya yang menggunakan tali raffia. Nampak keduanya sangat lelah, sehingga kalung namapun tak di lepas. Keduanya duduk membelakangi supir, berhadapan denganku.
Metromini berjalan terhuyung karena sarat penumpang. Di depan ITC Cipulir berhenti. Aku memperhatikan aktivitas kerumunan depan ITC. Benar saja orang berteriak copet dan kerumunan itu berlarian ,  loh kok ke metromini yang aku tumpangi. Aku memutar kepala dan badan untuk melihat. Saat itu kondisi metromini tak terlampau penuh. Artinya penumpang yang berdiri tak banyak.

Beberapa naik dari depan , melemparkan pandangan ke seisi metromini. Aku masih melihat dan heran. Tiba-tiba seorang laki-laki menarik salah satu dari 2 calon mahasiswa di depanku. Keduanya yang terkantuk-kantuk, sontak kaget. Ini ni copetnya, ujar laki-laki berbadan besar dan berpenampilan garang.
Refleks aku berdiri dan memukul tangan yang memegang calon mahasiswa di depanku. “Apa-apan kamu? Anak ini naik dari mayestik di depan saya! Bagaimana bisa kamu menuduh dia pencopet?” Orang itu langsung melepaskan tangan dari lengan si calon mahasiswa. Penumpang lain diam termasuk supir dan kernetnya. 

Di luar perempuan yang kecopetan masih menangis dan di kerumuni orang. Metromini yang kutumpangi kembali jalan. Hanya beberapa puluh meter mteromini berhenti dan menurunkan dua laki-laki yang duduk di samping supir. Ketika dua laki-laki yang turun tadi, Nampak menyebrangi jalan, supir metromini berkata: “Dua orang itulah pencopetnya!”
‘Lok kok bapak diam saja?” tanyaku heran
“Bu, yang nuduh anak ini pencopet masih kawannya mereka” Ujar si sopir lagi
Aku tenganga. Permainan macam apa ini? Pencopet menuduh orang mencopet. Sungguh keterlaluan. Perasaan kesal, gemes dan marah campur aduk di hatiku, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Dari kisah itulah aku tahu, pencopet tak sendiri.  

Berikutnya sekian tahun kemudian, copet sukses membawa kabur dompetku. Pertama berisi lumayan banyak, uang sisa perjalanan ke luar kota yang niatnya mau aku belanjakan keperluan bayiku. Yah saat itu aku masih mempunya bayi berusia 5 bulan. Sebagai ibu bekerja yang sering ke luar kota, maka si kecil terbiasa dengan susu formula dan popok sekali pakai. Rencana belanja gagal karena pulang kerja langsung evaluasi pekerjaan kemarin waktu di luar kota. 

Aku meninggalkan kantor saat jam menunjukan hampir pukul 9 malam. Saat jam segitu taksi dari Blok M malas menuju Ciledug dengan alasan macet. Aku yang sudah menyiapkan uang Rp. 100 ribu di kantong celana tak mau berlama-lama menunggu taksi, akhirnya begitu ada metromini, akupun bergegas naik.
Mengingat punya pengalaman dengan copet, aku mendekap tas di dada. Celakanya belum menyiapkan ongkos. Kernet suka marah kalau dibayar dengan uang besar. Terpasa aku mengeluarkan dompet dan mengambil uang Rp. 5.000. Saat mengambil uang Rp. 5.000 aku memasukan uang yang Rp. 100.ribu. Setelah dompet masuk ke dalam tas, segera kututup resletingnya. Tas kembali ku dekap di dada.
Kira-kira kurang dari 20 m menjelang aku turun, aku bersiap-siap mendekati pintu. Saat itu tas kulepas dari dekapan. Jadi tas tangan hanya tergantung di bahu. Metromini berhenti, aku melompat turun. Saat aku mendekat ke pintu ada beberapa orang yang juga bersiap, cuma tidak terlalu aku perhatikan.

Begitu tibda di rumah, setelah memberi salam, aku masuk dan meletakan tas di tempat tidur. Aku langsung merasa lemas, karena melihat retsleting tas sudah terbuka, apa yang aku takuti terjadi, dompetku raib. Bersama semua surat penting, ATM, Jamsostek, kartu kredit, ktp, kartu asuransi, kartu RS dll. Kontan aku menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Masalahnya hari itu hari Jumat, berarti besok aku tidak bisa mengurus semua surat-surat penting. Kecuali kartu kredit dan atm bisa lewat call centernya.

Aku merasa menjadi orang paling miskin sedunia. Anak tidak punya susu, tidak punya popok ganti, tidak ada uang di tangan. Suamiku memeluk dan mengusap-usap kepalaku sambil berkata “ Ikhlaskan, semoga yang mengambil karena memang membutuhkan!”
Masih dalam keadaan menangis sesenggukan, aku menghubungi mama dan menceritakan semuanya. Tidak sampai satu jam, dua orang keponakanku datang membawa sekotak susu  sebungkus popok segali ganti berisi 10 buah. Dan uang Rp. 100.000 dari mama dan kakak-kakakku. 

Malam itu juga salam doa rutin malamku, aku mohon ampun, atas semua kesalahan yang aku sadari maupun yang tidak aku sadari. Dan aku juga mohon ampun sempat mempertanyakan mengapa Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini. Selesai menaikkan doa malam, aku lega dan dapat tidur dengan nyenyak.

Aku terbangun di pagi hari saat HP ku berbunyi tapi bukan alarm memang panggilan masuk. Telepehone dari seorang kawan yang memberikan pekerjaan dengan upah sejumlah uang yang di copet semalam.  Sungguh besar kuasa Tuhan, Ia mengganti kehilanganku tidak sampai 24 jam, dengan jumlah yang sama. Sulit masuk nalar tapi ini kenyataan. Dan ketika  aku kecopetan untuk yang kedua kali, saat lapor polisi aku sudah bisa tersenyum dan yakin Tuhan punya rencana atas kehidupanku. Di copet ya dikhlaskan saja! Tapi the next tetap hati-hati.

Kamarku: 16 Maret 2012
Aku ngeblog maka aku bahagia.

No comments:

Post a Comment