Google Adsense

Inikah Cinta?


Sumber:

"Papa kamu mana? Aku mau kenalan sekalian pamit"

OMG, ini yang saya takutkan.  Sekujur tubuh saya mendadak kaku.

“May, ada apa? Kamu sakit?” Tanya Hernawan, sambil memegang lengan saya. Andaikan saya, seekor kura-kura, saya bisa menyembunyikan kepala. Tapi saya, Maya. Saya masih menunduk dan bisa dengan jelas memperhatikan sepatu kets,  pria  yang saya kenal di angkot, dua tahun lalu. Sepatu kets warna hitam dengan logo adidas merah.  Ke atas sedikit, celana jeans biru membungkus kedua kaki yang kekar, senada dengan kemeja denim yang saya kenakan.

“Maya, kamu sakit?”

Embusan angin sore seharusnya sejuk, tapi keringat dingin yang membasahi punggung dan kening membuat saya kedinginan. Pria yang mulai memasuki mimpi-mimpi saya, mengguncang lengan  dan mengembalikan ingatan yang sempat melanglang buana.

Saya berusaha mengangkat wajah dan menatap langsung ke mata pria di samping saya.

“Saya nggak punya Papa, tapi saya punya Mama yang hebat, masuk yuk” Entah darimana datangnya kekuatan yang memampukan saya bersikap biasa saja. Saya tak mengharapkan Hernawan mengantar pulang apalagi mampir. Tapi tak bisa dihindari. Saya harus menghadapi takdir saya.

Saya mengambil kunci dari tas dan membuka pintu. Sekilas saya menangkap keheranan di wajah Hernawan. Begitu pintu terbuka, sayup suara Engelbert Humperdink lewat lagu  Release Me, mengalun lembut.

Please release me, let me go,
For I don't love you anymore.
To live a lie would be a sin.
Release me and let me love again




Saya selalu membiarkan ada musik dan lagu yang tetap mengalun saat meninggalkan rumah. Supaya tak terlalu sepi, jika saya pulang.

“Silakan duduk Her, mau minum apa?” Saya mempersilakan Hernawan duduk/ Pria itu terlihat santai dan menjatuhkan bokongnya di sofa. Sekilas saya melihat ia memandang seisi ruangan, mulai dari foto berpigura di atas televise 14 inchi. Saya meninggalkannya dan langsung menunju lemari es.  Saya mengambil sebotol air dingin dan dua gelas dari atas lemari es.

“Adanya cuma air es, silakan minum”

Hernawan mengambil gelas yang sudah saya isi dan langsung meminumnya. Saya paham kalau dia haus karena jarak dari depan perumahan hingga sampai rumah saya, lumayan jauh. Dua tahun lalu ketika kami bertemu, ia berbelok ke rumahnya, hanya sekitar lima ratus m dari depan perumahan. Saya tersenyum sendiri, mengingat ia tidak menemukan rumah ini. Ya alamat yang saya kasih salah!

“Kok senyum-senyum, mana orangtuamu?” Tanya Hernawan

“Saya hidup sendiri, Papa meninggalkan saya dan Mama, saat saya berusia 2 tahun. Papa meninggalkan saya dan Mama untuk perempuan lain. Mama yang waktu itu belum genap berusia 20 tahun, depresi dan di rawat di RS Jiwa. Tapi cuma 6 bulan. Mama ditemukan gantung diri di pintu kamar mandi. Sejak itu saya dipelihara Oma dari Mama yang meninggal enam bulan lalu. Di sinilah saya seorang diri.

“Pantas kamu nggak mudah percaya sama orang” Ujar Hernawan pelan

“Maksudnya?”

“Ya, kamu memberiku alamat rumah yang salah. Itu bukti kamu nggak mudah percaya orang. Kalau waktu itu kamu beri alamat benar, saat Oma kamu meninggal, paling nggak ada aku, kamu nggak sendiri.” Hernawan berkata sambil menatap saya yang juga menatapnya.

Saya hanya diam, habis nggak tahu mau bicara apa. Mencoba menganalisa perkataan Hernawan, otak ini mendadak tumpul. Malah ada getar-getar aneh gitu di dada ini. Kayaknya perasaan saya nggak mendukung usaha saya menjaga sikap.

Tiba-tiba Hernawan memegang tangan saya dan bertanya: “Sekarang kamu mau, aku pulang atau kita sama-sama cari makan malam?”
Tiba-tiba ruang tamu rumah saya seperti ada pendar pelangi.
“Bagaimana kalau kamu menemani saya, menyiapkan makan malam untuk kita? Jelek-jelek begini aku lumayan jago masak dan stok bahanku lumayan lengkap” tantang saya sambil menatap Hernawan dengan berani.


Sumber



Cinta bisa datang tiba-tiba, prosesnya mungkin lama. Tapi jika cinta datang jangan ditolak. Siapa tahu Hernawan memang membawa cintanya untuk saya. Saya mulai lelah sendirian. Ah, mendadak lapar.  Apapaun rasa masakan saya nanti, semoga tidak membuat Hernawan kapok. Selamat datang cinta! Eh, apa iya ini cinta?

2 comments:

  1. Cinta....semoga bisa datang lewat perut juga ...

    ReplyDelete
  2. kaya lirik lagu ya cinta datang tiba-tiba :) good luck ya mami Icha. Jangan lupa ikutan GA aku juga ya

    ReplyDelete