Google Adsense

Belajar Sejarah Lewat Drama Musikal Khatulistiwa: Jejak Langkah Negeri

Mempelajari sejarah adalah upaya menentukan strategi hari ini untuk mencapai sukses di hari esok. Kata siapa? kata saya. Catat: Elisa Koraag. Berani-beraninya saya membuat kutipan? Nggak begitu juga sih. Saya menyukai sejarah karena dengan mengetahui sejarah, saya bisa mengetahui asal muasal peristiwa. Termasuk sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Bicara sejarah perjuangan berarti kita bicara asal muasal berdirinya negara RI. Bangsa ini berdiri di atas darah ribuan pejuang. Ada yang dikenal dan ada yang tidak dikenal. Jika kita melupakan sejarah, maka kita melupakan cikal bakal sebuah peradaban.
Terkait bicara sejarah dan peradaban, erat kaitannya dengan rasa nasionalisme atau kebangsaa. Di tengah kemajuan teknologi komunikasi, di mana berbagai informasi bisa dengan mudah dicari, justru banyak yang melupakan para pejuang. Adalah seorang perempuan Ibu Tiara Josodirdjo yang memiliki obsesi mengabarkan sejarah lewat pertunjukan musik. Nggak tanggung-tanggung, selama 9 tahun Ibu Tiara menyimpan obsesinya. Keterpanggilan jiwanya sebagai orang Indonesia membuatnya terus mencari jalan. Dengan jaringan pertemanan dan jaringan kerja yang dimilikinya, ia berhasil terhubung dengan Presiden Direktur CIMB Niaga, Bapak Tigor. M. Siahaan, yang  setuju merealisasikan obsesinya.

Maka jadilah kolaborasi antara CIMB Niaga, Josodirdjo Foundation dan Zigzag Indonesia selenggarakan Drama Musikal Khatulistiwa:  Mengenal Jejak Langkah Negeri. Jujur saya senang banget, soalnya saya termasuk yang gemar menonton pertunjukan baik, teater, musik atau campuran keduanya. 

Presiden Direktur CIMB Niaga, Bapak Tigor. M. Siahaan setuju merealisasikan obsesi Ibu Tiara karena melihat hal baik di balik niatan tersebut. Mengusung pesan moral yang kuat untuk meningkatkan rasa nasionalisme generasi muda.

Saat ini Drama Musikal Khatulistiwa masih dalam proses latihan. Ketika dipertunjukan secuplik penampilan mereka, dada saya bergetar hebat. lagu Tanah Airku, mampu menggedor syaraf nasionalisme saya. Memang ini bukan eranya angkat bambu runcing, tapi mengutip pernyataan Ibu Tiara, dulu dengan bambu runcing, para pejuang mampu mengusir penjajah yang bercokol 350 tahun. Sudah menjadi sebuah kewajiban kita mengenang perjuangan mereka dengan mengisi masa sekarang dengan pembangunan.




Potongan drama yang memperlihatkan Sultan Hasanudin dari Indonesia Timur melakukan negosiasi dagang dengan sudagar, Belanda, dan Portugis, saya diajak melempar ingatan ke masa penjajahan. Indah dan kayanya hasil alam Indonesia, mengundang bangsa asing datang dan akhirnya menjajajh.

Jika saya belajar sejarah dengan kedua anak saya yang kini duduk di SMP dan SMA, saya banyak mengambil dari cerita almarhum ayah saya yang seorang TNI AD dan turut manggul senjata. Kini Ayah saya sudah meninggal tapi kisah-kisahnya selama bertempur selalu menyulut rasa bangga, sekaligus terus mengingatkan saya akan pentingnya mengenang mereka yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa.

Adjie N.A, sang sutradara seklias menceritakan. Drama Musikal Khatulistiwa ini mengangkat sejarah perjuangan yang di mulai dari masa perdagangan jaman VOC sampai merdeka.

Asep Hambali, sejarahwan yang ikut mengaudisi isi skenario Drama Musika Khatulistiwa mengatakan, akan banyak kejutan di sana. Ada sekitar 37 Pahlawan nasional yang diceritakan di sana. Hal baru yang mungkin belum kita ketahui, bahwasannya Cut Nyak Dien, memiliki anak yang meneruskan perjuangannya.

Asep Hambali juga mengingatkan, sejarah penting untuk dipelajari. Karena bagaimana kita akan mengetahui mana yang lebih baik jika tidak belajar dari masa lalu? Nah kutipan di awal tulisan ini terinspirasi dari ucapan Asep Hambali. Kita tidak akan sampai di titik ini jika tidak melewati masa lalu. Begitupun dengan hari esok nggak bisa kita capai jika tidak melalui hari ini.

Cuplikan saat masyarakat melihat kedatangan kapal bangsa asing ke Tanah Sulawesi

Rencananya usai pertunjukan, Drama Musical Khatulistiwa ini akan di kemas dalam Cakram Digital (CD) dan akan dibagikan gratis. Ya, karena setiap orang berhak dan perlu menyaksikan pertunjukan ini, guna merefresh kembali ingatan akan perjuangan para pahlawan. Mendengar kata gratis, telinga saya langsung siaga. Pada kesempatan bincang dengan asep Hambali, saya mengusulkan agar diadakan nonton bersama CD tersebut lalu dilanjutkan dengan diskusi. Kita perlu mengukur reaksi penonton dalam menyimak tontonan tersebut.

Dulu jaman saya SD, ada Bioskop keliling yang memutarkan film-film di aula sekolah. Di zaman yang sudah canggih tetap bisa dilakukan dengan peralatan yang lebih modern. Nonton bersama dan diskusi, sekaligu bisa mengetahui penerimaan anak-anak sekolah/muda terhadap pesan yang dikemas alam pertunjukan.

Belajar sejarah bukan hal rumit tapi juga bukan hal mudah. Keterbukaan pemikiran dalam mempelajari setiap wacana akan memberikan pencerahan. Sejarah perjuangan, ada patriotisme dan nasionalisme yang harus terus dipupuk.

Drama Musikal Khatulistiwa akan dipentaskan di Taman Ismali Marzuki 19 dan 20 Nov 2016. Dalam satu hari akan dua kali pertunjukan. Tiket sudah bisa di pesan. Yuk beli, jangan lupa ajak serta keluarga. Menyaksikan Drama Musikal sekaligus jadikan hiburan sebagai wadah pembelajaran bersama.


7 comments:

  1. Bagus banget nih metodenya, anak jadi gak jenuh belajar sejarah. Peran sejarah itu sangat penting banget ya buat nentuin kearah mana generasi kita akan membawa bangsa ini...thanks

    ReplyDelete
  2. Ayoo catat tanggalnya jangan lupa nonton bersama keluarga, kita belajar sekaligus menikmati segala instrumen musiknya.

    ReplyDelete
  3. Yuuuuk bun nonton bareeeeng :)

    ReplyDelete
  4. Thanks for sharing, Icha...

    ReplyDelete