Google Adsense

Waspada! Masakan Rumah, Bisa Jadi The Silent Killer.

Narasumber, Simphosium


Tepat di Hari Gizi Nasional, saya mendaptkan undangan dari Minyak goreng Sunco untuk menghadiri Simphosium dengan tema; 

Masakan Rumah, The Silent Killer? 

Simphosium digelar: Rabu,25 Januari 2017 di Ballroom Cheers Residental RSPP,Jakarta.
Menghadirkan narasumber:

1.  Dr. Entos Zainal,DCN,SP,MPHM dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi),
2. Theresia Irawati, SKM,M.Kes dari Kasi Kemitraan Subdit Advokasi dan Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat  Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
3. dr. Tirta Prawita Sari dari Ikatan Dokter Indonesia,
4. Brand Ambassador Sunco Christian Sugiono, 
5. Deputy marketing manager Sunco, ibu Mulina Wijaya,

Acara mundur dari jadwal, membuat peserta gelisah. Tapi  MC cantik Tata, mampu mengendalikan hadirin. Tata mengajak beberapa peserta yang hadir untuk bermain sebelum acara utamanya dibuka. Lumayan seru, karena Tata memberi waktu hanya 30 detik untuk peserta berselfie, sebanyak-banyaknya. Peserta di pilih berdasarkan wilayah tinggal, ada yang dari Serang, Bogor, Tangerang, Depok dan Jakarta Utara. Permainan mampu mencairkan kegelisahan peserta yang sudah datang sejak pk. 10.00

Moderator, Muhammad Dzulkifli  membuka dengan mengatakan Tema masih dalam bentuk kalimat tanya. Karena di simphisium ini kita akan membahas hal tersebut. Jujur nih, saya deg-degan, Kalau makanan rumah saja bisa The Silent Killer, mustinya ada yang salah. Selama ini, saya begitu yakin, sebagai istri dan ibu, saya selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga. Termasuk dalam hal masakan. Bukan hanya terbuat dari bahan pilihan tapi saya juga sangat memperhatikan kebersihan dalam pengolahan bahan makanan. Agar menghasilkan makanan lezat yang sehat.

Dr. Entos Zainal,DCN,SP,MPHM dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), menjelaskan peranan gizi dalam pertumbuhan otak, sejak masih janin hingga tumbuh kembang anak hingga 1000 hari pertama kehidupannya. Gizi makro (Energi, protein dan lemak) dan Gizi mikro (Vitamin dan mineral) sangat diperlukan.

Saya paham, dalam hal menyanjikan komposisi makanan yang sesuai kebutuhan keluarga. Untuk anak-anak (Usia jelang remaja) yang masih membutuhkan banyak asupan makanan, saya memperhatikan bukan hanya jenis yang dimakan tapi juga hingga jumlah yang dikonsumsi. Sesekali kami juga makan di luar rumah. Membeli dari restoran, kadang di bawa pulang, kadang makan di tempat.

Saat makanan di bawa pulang, terkadang sisa dan saya menyimpannya di lemari pendingin. Lalu jika ingin dimakan, maka dihangatkan kembali. Itu kesalahan besar yang berpotensi menjadi Sillent Killer. Ternyata jenis sayur-sauran termasuk makanan yang tidak boleh dihangatkan. Karena jika dihangatkan, maka kandungan gizinya sudah tidak ada. Kok bisa? Bisa. Karena gizi dalam makanan bisa menguap/hilang dalam proses memasak. Sayangkan kalau makanan tersaji enak tapi tak bergizi.


Christian Sugiono, Brand Ambasador Minyak Goreng Sunco
Hal yang bisa menyebabkan masakan rumah menjadi the silent killer, ketidaktahuan bahan yang akan digunakan. Di pasaran sangat banyak jenis minyak goreng. Sebagai Ibu rumah tangga, saya tahu banget, minyak goreng adalah salah satu penghuni tetap lemari dapur. Dalam proses memasak, minyak goreng, salah satu bahan yang selalu digunakan. Minyak goreng memiliki kandungan lemak. Dalam jumlah terbatas lemak diperlukan tubuh untuk membantu penyerapan vitamin A,D,E dan K.

Sayangnya, masih sedikit yang berpikir, memasak sehat. Soalnya berbanding terbalik dengan perinsip hemat para Ibu rumah tangga. Salah satunya dalam menggunakan minyak goreng, sangat tidak disarankan menggunakan minyak goreng berulang-ulang. Minyak goreng, maksimal digunakan hanya untuk dua kali penggorengan. Karena pemanasan minyak berkali-kali dapat menyebabkan lemak jenuh, sehingga makanan yang dimakan tidak sehat karena dapat menyebabkan penyumbatan aliran darah. Akibatnya terjadi penumpukan lemak dan jalan darah menjadi tersumbat. Ini yang kerap membuat serangan jantung atau tinggi kolesterol.

Menurut Theresia Irawati, SKM,M.Kes dari Kasi Kemitraan Subdit Advokasi dan Kemitraan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat  Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, saat ini masyarakat sangat dimanjakan dengan gaya hidup yang ada. Segala sesuatu dimudahkan, hingga tidak perlu mengeluarkan banyak energi. Bahkan mau makan apa saja, tinggal tekan hp dalam tangan, makan siap saji bisa segera tersaji.

Padahal kondisi semacam ini membuat, orang tidak banyak bergerak, mengkonsumsi banyak makanan berlemak, akibanya penyakit datang silih berganti seperti Hipertensi, Stroke, Diabetes, Obesitas, Kanker, Lemak Hati dan Serangan Jantung. Semua itu termasuk  penyakit tak menular yang disebabkan pola/gaya hidup yang salah.


Hadir
November tahun 2016, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI, meluncurkan GERMAS- Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Pemerintah sudah melihat, gaya hidup masyarakat saat ini cenderung tidak sehat. Jika dibiarkan maka negara akan dirugikan, mengingat penyakit degeneratif karena gaya hidup banyak berdampak pada masyarakat usia produktif.

Karena itu GERMAS, menjadi sebuah Gerakan yang diharapkan bisa mengembalikan pola/gaya hidup masyarakat yang sehat. Ajakan GERMAS, secara garis besar ada 3, Yaitu:
1. Banyak bergerak/Olahraga Teratur
2. Meningkatkan makan sayur dan buah
3. Cek kesehatan secara berkala/rutin

Melengkapi ke 3 hal di atas, hindari rokok dan alkohol, istirahat yang cukup, jaga kebersihan (Cuci tangan, sebelum makan, cuci tangan sesudah BAK dan BAB) dengan sabun termasuk penggunaan jamban.

dr. Tirta Prawita Sari dari Ikatan Dokter Indonesia, menjelaskan seputar  lemak. yaitu, Lemak Tak Jenuh (Unsaturated Fats), Lemak Jenuh (Saturated Fats) dan Lemak Trans. Pada suhu kamar, lemak jenuh dan lemak trans berbentuk padat seperti butter sedangkan lemak tak jenuh biasanya berbentuk cair pada suhu ruangan, contohnya minyak zaitun atau minyak sayur, lemak-lemak tersebut memiliki pengaruh yang berbeda pada tubuh.  Masyarakat seringkali menganggap minyak goreng adalah hal yang tidak berbahaya. Jika digunakan dengan cara dan jumlah yang tepat, Minyak goreng baik untuk tubuh tapi perlakukan yang salah dan dalam jumlah yang banyak, akan membuat minyak goreng menjadi musuh bagi kesehatan.  

Mulina Wijaya, Deputy Marketing Manager Sunco mengingatkan: "Agar terhindar dari penyakit berbahaya, pastikan tidak menggunakan minyak secara berulang-ulang. Jika minyak sudah berubah warna akibat sisa makanan, sebaiknya ganti dengan minyak yang baru. Selain itu, hindari penggunaan suhu terlalu panas saat memasak, karena dapat membentuk radikal bebas yang merugikan kesehatan dan merusak kandungan vitamin dalam minyak goreng.”



Ciri – Ciri minyak goreng baik mudah dikenali, Yaitu: dikit nempel di makanan, bening, tidak mudah beku, nampak lebih encer dan tidak serik di tenggorokan. Minyak goreng yang lebih encer membuat minyak yang menempel di makanan menjadi lebih sedikit, otomatis lebih sedikit juga minyak yang terkonsumsi. Ciri-ciri lainnya, yaitu tidak mudah beku, yang berarti mempunyai kandungan lemak jenuh yang lebih sedikit. Sunco adalah minyak goreng yang baik. Untuk mengetahui lebih jelas, silahkan kunjungi: www.minyakgorengsunco.com

Ciri-ciri minyak goreng yang sudah tidak baik, adalah berubah warna. Perubahan warna pada minyak goreng adalah salah satu tanda minyak mulai mengalami kerusakan / oksidasi. Menghindari penggunaan minyak goreng yang sudah rusak dapat membantu menghindari resiko penyakit kanker.

Untuk mendapatkan resep sehat bagi keluarga silahkan ke www.resepsehat.com:

Yuk, ibu, kita jaga dan berikan yang terbaik bagi keluarga tercinta. Jangan sampai apa yang kita masak menjadi racun bagi keluarga. Sehat itu mahal, maka tak salah jika kita terus belakar dan mencari tahu, agar apa yang kita sajikan di rumah tetap sesuai tujuan, yaitu memberikan makanan yang lezat dan sehat.






2 comments:

  1. Aku udah beberapa bulan belakangan ini pake sunco, emang lebih jernih si :D

    Salam,
    Gianta

    ReplyDelete
  2. Emang Sanco Dari dulu udah pakai hehe Allhamdulillah

    ReplyDelete