Pasien TBC Bisa Sembuh


Pasien pengidap penyakit TBC bisa sembuh asal diobati.  Tak perlu malu atau khawatir, penyakit TBC bisa terkena pada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, profesi  maupun jabatan. Presiden RI ketiga BJ, Habibie adalah salah satu mantan pasien TBC,  Jenderal Sudirman, Nelson Mandela,  Pemimpin Afrika Selatan, Musisi Santana, dan Penyair Chairil Anwar, adalah contoh-contoh pasien TBC dari berbagai golongan.  Pengobatan TBC  harus dilakukan secara terus menerus, tidak boleh putus antara 6-9 bulan.

Saat mengikuti worshop TBC yang diselenggarakan Kemenkes RI, seorang mantan atau baiknya disebut survival TB/ Pejuang TB: Edi Junaidi berbagi kisah hidupnya. Beliau terkena TB MDR-Medical Drug Resistance.  Di mana pasien kebal terhadap obat awal yang ringan. Ini biasanya disebabkan karena pengobatan yang terputus atau tidak tuntas. Atau karena minum obatnya tidak terus menerus.

Pada pasien TB biasa, agar tidak meningkat menjadi pasien TB MDR, harus ada PMO-Pengawas Minum Obat. PMO, biasanya anggota keluarga yang bertugas mengawasi dan mengingat jadwal minum obat. Pada pasien TB MDR, PMO bukan lagi anggota keluarga tapi petugas kesehatan. Makanya pasien TB  MDR, tidak dapat melakukan aktifitas lain selama dalam proses minum obat. Yang sekolah, yang bekerja atau memiliki kegiatan apapun, terpaksa harus dihentikan demi menjalani pengobatan.

Pasien harus minum obat di Pusat layanan kesehatan atau RS di bawah pengawasan petugas kesehatan. Dan obat yang dikonsumsi sangat banyak.  Obat-obat tersebutpun menimbulkan banyak dampak, mulai dari pusing, mual, halusinasi dll. Survival Edi Junaidi, berbagi kisah hidupnya. Beliau menceritakan bagaimana harus melalui hari –hari yang berat. Sehingga kerap kali terlintas ingin mengakhiri hidup karena sudah bosan dan putus asa. Pengobatan yang dijalani Pak Edi, total 21 bulan.  Termasuk selama 8 bulan dengan suntik dan setiap hari minum obat 13 butir. Memang lama dan berat. Dengan pendampingan petugas kesehatan dan anggota keluara, akhirnya Pak Edi Junaidi sembuh. Ditandai dengan penyerahan sertifikat  yang dtanda tangani dokter. Pasien TB tidak bisa menyatakan sembuh  sendiri.



Dr. Anung Sugihantono, Dirjend Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI menegaskan, Pasien TBC bisa disembuhkan dengan penanganan yang baik dan minum obat terus menerus secara teratur. Tanggal 24 Maret setiap tahun diperingati sebagai hari TB sedunia.  Penyakit TBC disebabkan kuman Tubercolosis, yang umumnya menyerang alat pernapasan daam hal ini paru-paru. Namun kuman TB dapat juga menyerang tulang, usus, getah bening dll. Namun yang terbanyak menyerang paru-paru.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan beban TB tinggi. Kejadian TB pertahun di Indonesia, 1.020.000 kasus.   Dari 1.020.000 penderita TB, baru (sekitar) 427.000 kasus ditemukan. Untuk berhasil mengeliminasi TBC di Indonesia maka hal  pertama yang  perlu dilakukan, adalah menemukan penderita TB agar bisa segera ditangani. Tak heran pemerintah dalam hal ini memberi perhatian besar pada kasus TB. Karena pengobatan yang lama menyebabkan pasien tidak produktif. Selain itu, pemerintah juga menanggung biaya pengobatan yang banyak. Tentu ini akan menggangu keuangan Negara dan sumber daya manusia.

Pengobatan penderita TB musti tuntas, pengobatan tidak tuntas menyebabkan pasien  resistan. Jika penyakit tidak sembuh , pertama   dapat menular ke orang lain dan kedua  Penyakitakan  bertambah parah dan bisa berakibat kematian. Obat Anti TBC (OAT) biasa tidak dapat membunuh kuman, sehingga pasien tidak bisa disembuhkan.  Kalau masih bisa disembuhkan memerlukan Pengobatan lebih lama sekitar 2 tahun dan otomatis biaya pengobatan  lebih mahal.

Karena itu Indonesia, terus berupaya mengeliminasi Tuberkulosis dengan cara:
Memperkuat semua jenis layanan yang terintegrasi di semua wilayah. Ini memerlukan kepemimpinan dan komitmen.
Memperkuat komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam tanggung jawab layanan TB di wilayahnya dengan mewujudkan Rencana Aksi Daerah.

Pemerintah terus lakukan terbobosan untuk mengatasi TB, yaitu dengan:

1. Penerapan public- private Mix berbasis kabupaten/ Kota, kerja sama dengan koalisi profesi sinkronisasi layanan dengan JKN.

2. Penguatan surveilans aktif (penyisiran kasus, pelaporan berbasis IT, penyederhanaan lapiran, mandatory notification.

3. Ekspansi laboratorium berbasis tes cepat molekuler (TCM), jejaring transport sputum.

4. Perubahan pengobatan TB RO jangka pendek dari 18 – 24 bulan menjadi 9 – 12 bulan.

5. Ekspansi layanan TB RO di 360 RS dan balai di 34 provinsi

6.Kerjasama lintas sektoral dan masyarakat untuk “public awarness” dan mobilisasi sosial.

7. Perencanaan dengan pendekatan multisektoral di Kabupaten/ Kota untuk penerapan SPM untuk TB

Penting diketahui,  gejala  TBC bukan hanya batuk. Batuk terus menerus selama dua minggu, adalah indikasi awal, maka perlu waspada dan segera lakukan pemeriksaan.  Gejala lainnya: Nafsu Makan Menurun, Berat Badan berkurang, Demam Meriang (demam yang tidak terlalu tinggi). Batuk Berdahak (dapat bercampur darah). Nyeri Dada. Berkeringat tanpa Sebab (terutama pada sore-malam hari).





Karena kuman TBC penularannya lewat udara maka ada beberapa etika batuk yang harus diingat. Pandu Riono, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menginformasikan  Etika Batuk, sebagai berikut:

Etika Batuk: Jika anda sedang batuk (walau bukan karena TBC),

Baiknya, gunakan masker., Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan lengan. Tutup hidung dan mulut dengan tisu atau saputangan dan segera buang tisu yang sudah dipakai. Cuci tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir.


Jika ada anggota keluarga yang terindikaasi gejala TBC, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjiut. Jika dinyatakan positif, dapatkan obatnya. Obat TBC bisa diperoleh secara gratis di Pusat Kesehatan Masyarakat. Jadilah PMO, Pengawas Minum Obat agar anggota keluarga kita bisa sembuh dengan tuntas. Kesabaran dan perhatian adalah salah satu penyemangat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah konsumsi makanan sehat sesuai porsi kebutuhan dengan gizi seimbang.

11 comments:

  1. Memang kalau batuk sebaiknya ditutup atau pakai masker ya buncha. Apalagi penderita TB, suka serem lihatnya. Makanya bawa anak ke Rumah Sakit, suka was-was kalau ada orang batuk, tapi nggak ditutup atau pakai masker.

    ReplyDelete
  2. Banyak ya tokoh tokoh besar yang pernah mengidap TB. Dalammkehidupan sehari hari Penderita TB kadang dijauhi padahal mereka butuh dukungan kita semua.

    ReplyDelete
  3. Edukasi ttg TB ini harus kian gencar ya Bun.

    Ini tante saya ada yg kena TB juga

    --bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  4. Bener banget, pasien TBC bisa sembuh. Adik saya udah membuktikannya di tahun 2001. Dengan pengobatan telaten selama 6 bulan dan lalu selalu menjaga kesehatan tubuh, dia bisa sembuh total sampai sekarang. Miris dengan kenyataan yang terjadi di sekitar Kita. Masih Ada penderita TBC akut yang sampe meninggal. Bahkan masih dianggap penyakit kutukan. Semoga sosialisasi yang terus menerus tentang TB ini bisa mengurangi jumlah kasus. Bahkan bisa menghilangkan penyakit ini dari negeri kita. Dan semoga tak ada lagi kematian yang diakibatkan TB. Aamiin...

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sekarang TB ada obatnya, bisa gratis lagi. Pdhl dulu denger kata TB serem banget. Meski demikian tetep kudu dicegah sih.
    Soalnya temen ada yang pernah kena TB C juga sembuh setelah berobat ke puskesmas TFS

    ReplyDelete
  6. wah, butuh kesadaran juga ya mbak..kalau batuk meski pakai masker

    saya sendiri juga belum ada kesadaran untuk itu. Karena tiap pake masker malah nggak bisa nafas

    ReplyDelete
  7. TB luar biasa ya . Semoga 2030 sesuai dengan yang dicanangkan Pemerintah Indonesia bebas dari TB

    ReplyDelete
  8. yoi.. TBC harus sembuh... dan mari basmi TBC dan jangan tinggalkan para penderitanya... #STOPTBC

    ReplyDelete
  9. TBC sebenarnya bisa sembuh asal mau diobati, tapi terkadang ada yg putus asa karena menganggap dirinya gak bakalan sembuh :(

    ReplyDelete
  10. Noted, buncha. Batuk harus selalu ditutup ya. Hidup sehat dan cuci tangan dengan sabun di air mengalir.

    ReplyDelete
  11. Harus berobat dengan rutin agar bisa sembuh. Kalo putus obatnya, mesti ulang lagi ya katanya, buncha?

    ReplyDelete