Google Adsense

NLF: SEHARI MENJADI PERAGAWATI



Saya sungguh tidak pernah mambayangkan menjadi peraga busana para perancang sekelas Itang Yunas. Secara,  dari dulu saya tahu saya tidak memiliki wajah atau postur tubuh yang "menarik". Keseharian yang tomboy, melabelkan saya jauh dari yang namanya dunia kecantikan. 

Sudah bisa jadi bintang iklankah?

Saya baru punya pemulas bibir, saat saya kuliah di tahun pertama. Saya ingat diajak mama ke Mayestik dan memilih satu buah. Rasanya cangguh tapi saya pilih dan ambil satu, warna merah. Sesampai di rumah saya coba, (jangan pada tertawa yah) bibir saya terasa berat dan saya tidak bisa mengatup. Saya merasa tidak nyaman.Waktu itu saya pilih sebuah pemulas bibi produksi perusahaan kosmEtik lokal yang kini pemiliknya sudah menjadi politikus.


Bersama Waya dan Nunik

 Tahun pertama kuliah, salah satu mata kuliah yang saya ambil namanya Ilmu Budaya Dasar. Untuk mendapakan nilai akhir kami satu kelas harus terbagi dalam beberapa kelompok dan memberikan sebuah pertunjukan. Di sinilah saya mengenal lebih jauh menata rias wajah. tapi karena buat pertunjukan, tata riasnyapun lebih untuk menonjolkan karakter. (Bukan untuk tampil cantik).

Saya tidak mengenal wajah di atas.
Tahun kedua, saya menjadi model dadakan sebuah produk kosmetik di sebuah mall di blok M. Dari sini saya memperhatikan dengan serius mulai dari membersihkan wajah, memoleskan pelembab, foundation, bedak hingga memberikan sentuhan eye liner, pemulas mata, pemulas pipi, juga membentuk bibir dengan pemulas bibir yang benar. Saat itu rasanya saya tidak mau pergi dari depan cermin. Selesai menjadi "korban",  saya mendapat satu set peralatan tata rias wajah.

Sampai di rumah benda-benda itu tetap di meja rias dan berdebu. Kenyataannya saya tidak punya keberanian menggunakan benda-benda tersebut. Selain itu, saya sudah menjadi reporter lepas saat masih kuliah. Dan waktu itu tidak ada reporter yang tampilannya feminim. Reporter lepas yang masih mahasiswa, dandannya khas, t-shirt, jeans, tas agak besar karena berisi buku kuliah dan kamera foto, plus sepatu kets (olahraga). Memakai pemulas bibir hanya dilakukan beberapa reporter perempuan, umumnya mereka yang merokok.

Kumpulan emak-emak blogger

Tahun berjalan, tanpa sadar saya suka mengemati pemilihan/lomba putri-putrian. Mulai dari None Jakarta, Putri Citra, Putri Wisata Bahari dll.. Saya selalu mendaftar untuk adik saya yang memang memiliki postur lebih ideal ketimbang saya. Tapi ketika Pemilihan Putri Wisata Bahari salah satu syararatnya adalah menulis tentang wisata bahari. Maka kali ini saya terjebak. Dengan modal nekad, saya mengirimkan karya tulis dan foto saya.

Jangan ditanya seperti apa perasaan saya. Tidak seorangpun di rumah yang saya informasikan kalau saya mengikuti pemilihan ini. Saya hanya ditemani seorang teman kuliah yang beberapa kali menjadi partner saya dalam menulis. Seleksi demi seleksi saya ikuti. (Ternyata saya sudah memiliki ketrampilan bicara yang baik) ini kata salah satu juri (Ratna Riantiarno). Akhirnya saya masuk menjadi salah satu dari 20 finalis. Dari kesempatan ini, saya juga mendapat tambahan pengetahuan mengenai tata rias wajah, rambut dan tubuh. (Syarat multak untuk menjadi putri, kali?) Sampai saat ini, saya masih bersahabat baik dengan salah satu finalis. Bahkan tahun 2010, ia mengirimkan foto kami diajang pemilihan Putri Wisata Bahari di pulau Ayer. Sayang tidak ketemu waktu saya cari, seingat saya pernah saya posting di fb.


Who am I?
Tapi pada akhirnya saya mulai memperhatikan perawatan kulit dan wajah, serta tata rias wajah saat tahun terakhir karena saya sudah mulai bekerja sebagai repoter tetap sebuah majalah. (Ceritanya mulai jaim) Karena kalau ke kantor  berdandan, akhirnya ke kampuspun mulai terbiasa berdandan. (Tapi tetap tomboy).  Ketrampilan dan ilmu dalam menata wajah semakin banyak saya dapati ketika akhirnya saya bekerja (setelah lulus kuliah) di sebuah stasiun siaran radio. (103,7 Pesona FM)

Di radio Pesona FM ada satu program siaran yang namanya Trend Kecantikan. Bertahun-tahun disponsori oleh Ristra. Dari konsultan kecantikan Ristra, para penyiar Pesona FM mendapat banyak pengetahuan seputar perawatan  dan tata rias wajah. Kami pun kerap mendapat voucher untuk menikmati produk perawatan di rumah Kecantikan Ristra (Ristra House). 



Another KEB

Akhirnya naluri perempuan saya muncul juga. Saya tidak tahu persis kapan mulainya, tapi yang pasti saya mulai memperhatikan keserasian tata rias wajah dan busana yang saya kenakan. Termasuk pemulas bibir. Awalnya cuma punya satu warna, dipakai dengan semua warna busana yang saya punya. Merah, kuning, hijua, hitam, coklat, putih bajunya, pemulas bibirnya tetap merah.

Saat kuliah, saya sering menjadi penerima tamu bagi teman dan kerbat yang menikah. Mulailah saya sering mengenakan tata rias wajah dan rambut secara lengkap. Termasuk ketika kakak-kakak saya menikah. dan akhirnya saat saya menikah.

Me and sister

Sehingga mendapat kesempatan menjadi peraga busana di Nova Ladies Fair 2012, serasa mimpi. Saat ada info undangan NLF dari Makmin Kumpulan Emak-emak Blogger, saya mendaftar. Semata karena ingin bertemu dan menjalin silaturahmi dengan kawan-kawan. Dan kebetulan letak gramedia tidak jauh dari rumah saya. Saya pikir, semua yang hadir di latihan pertama tidak menduga akan menjadi seperti apa pada saat Nova Ladies Fair digelar. Karena hingga hari ini, sudah hampir dua minggu NLF berlalu, saya tetap tak percaya pernah ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menatap foto-foto, ada sederet tanya dalam, akankah saya lakukan disaat usia saya muda?

Saya yakin, saya pasti menolak 100 %. Kalau sekarang saya mau melakukannya karena saya ingin meninggalkan jejak-jejak keberadaan saya. Saat ini, saya berpacu dengan waktu. saya tidak tahu kapan ajal menjemput. Kini mengikuti semua kegiatan yang baik dan berarti, membagi pengalaman, menebarkan semangat adalah hal-hal yang akan terus saya lakukan hingga tiba waktunya.


Another me
Saya ingin menjadi sesuatu yang berarti bukan hanya bagi orang-orang terdekat dalam hidup saya. tapi juga pada lingkungan yang lebih luas. Rasanya saya belum banyak berbuat sesuatu, maka kini saya akan terus melakukan banyak hal yang bisa berarti bagi keluarga dan orang lain. Semoga Tuhan memberi saya cukup waktu untuk membahagiakan orang-orang disekitar saya. 







No comments:

Post a Comment