Google Adsense

Aku, Puisi dan Dead Poets Society


Sumber:

Kecintaanku pada sajak dan puisi, sudah sejak aku masih anak-anak. Buku tulisku penuh dengan tulisan puisi-puisi pendek / sajak. Suatu hari Mama memberiku sebuah buku yang berbeda dengan buku tulis yang biasa aku pakai belajar. Buku itu tebal, bersampul kotak- kotak. Dalamnya sama dengan buku tulis biasa. Mama mengatakan: "Tulislah semua yang ingin kamu tulis di buku ini, jangan di buku tulis sekolahmu."

Sayang catatan itu hilang entah ke mana. Menurutku, kedua orangtuaku adalah orangtua yang luar biasa. Mereka mendorong dan mendukung kesukaanku menulis dengan memberikan banyak buku bacaan, yang pada saat itu bisa dibilang kesukaan yang ajaib. Saat itu usiaku delapan tahun. Kawan-kawanku bermain masak-masakan atau jual-penjualan, aku memilih menulis.



Saat aku menjadi mahasiswa, beredar film Dead Poets Society yang dibintangi almarhum Robin Williams. Film ini ini menjadi inspirasi, sekaligus merobek pakem yang selama ini aku jalani. Kedua orangtuaku mengijinkan dan mendukung kesukaan menulis puisi dan lain-lain. Tapi kedua orangtuakku berbicara dan menjelaskan (saat itu) menjadi penulis belum bisa diharapkan memberi kebebasan keuangan. Belum ada penulis yang menjadi jutawan. JK Rawling, Andrea Hirata, Tere Liye, Asma Nadia, baru ada beberapa tahun kemudian.  Penulis / penyair seperti Chairil Anwar, WS. Rendra, Sutarji Calzoum Bahri hidupnya pas-pasan.


Tapi kedua orangtuaku mengijinkan aku menekuni kegiatan menulis namun mereka mengarahkan aku untuk memiliki ketrampilan lain yang bisa dijadikan sumber keuangan. Maka aku kuliah, lulus lalu bekerja. Masih di seputar dunia menulis, ya bidangku jurnalistik. Tapi sejujurnya, aku tetap tidak merasa bebas. Karena yang aku tulis, hampir semuanya karena ditugaskan. Demi gaji bulanan.


Sumber:

Saat film Dead Poets Society diluncurkan, aku mendapat pencerahan yang luar biasa. Tidak penting apa latar belakangku atau apa pekerjaanku. Yang terpenting adalah kebijakan berpikirku dan aku mau ke mana? Film yang menceritakan Robin Williams sebagai guru di sebuah sekolah unggulan menengah atas khusus laki- laki, di mana dulu ia bersekolah di situ.  Bercerita tentang sistem pendidikan tahun 70 an di Inggris.  Sebagai sekolah unggulan dan terhormat sekolah ini (Welton Academy) menjunjung nilai- nilai: Kehormatan, Disiplin, Keunggulan dan Tradisi. Sudah bisa dibayangkan bagaimana kakunya, sistem yang terjadi. Sebagian besar siswa yang bersekolah di sekolah ini karena turun temurun keluarganya bersekolah, sehingga menjadi tradisi yang dilanjutan.


Robin Williams sebagai John Ketting datang dan mengajar dengan tehnik yang sangat out of the box. Bahkan bisa dibilang nyeleneh. Awalnya para murid terkejut dan beranggapan John Ketting tidak normal, namun lama kelamaan para murid mulai memahami gaya pengajaran John Ketting. Bahkan para murid mulai menikmati. John Ketting sebagai guru pelajaran sastra Inggris, membuat puisi sebagai sumber pengajarannya. Sudah bisa ditebak, gaya John Ketting tidak disukai manjemen sekolah dan harus berakhir dengan dikeluarkan.



Pada saat berpamitan, yang diiringi dengan tangisan dan kesedihan para siswa, John Ketting masih meninggalkan pesan yang menjadi kutipan dibawah ini:








Jadi saat aku berkumpul dengan teman-teman akan selalu hadir kutipan di atas sebagai celetukkan.

Film ini meraih Penghargaan Oscar untuk kategori skenario asli, sutradara terbaik, film terbaik dan nominasi pemeran utama pria untuk Robin Williams. Film ini di kelas pelajaran Inggris di Amerika Utara menjadi film yang wajib di tonton.




 Dari film tersebut, aku menerapkan sistem pendidikkan santai dan lebih mengutamakan kenyamanan anak-anak.  Bahkan terkadang keluarga besarku dan suami suka mempertanyakan cara aku dan suami mendidik anak-anak. Bagi mereka gaya kami agak keluar dari pakem. Aku hanya tertawa, benar bahwa aku dan suami mendapat didikan dan nilai-nilai baik dari masing-masing keluarga. Tapi kami juga punya pola didik yang kami kembangkan dan disesuaikan dengan situasi di mana anak-anakku sekarang hidup.



Sejak menonton film tersebut, aku semakin mencintai kegiatan menulis dan membaca puisi. Aku meyakini puisi yang merupakan bagian dari sastra adalah salah satu gaya santun berbahasa. Dengan menulis puisi dan mensosialisasikan aku meyakini ikut melestarikan dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.







11 comments:

  1. Menarik Mbak tulisannya :)
    jadi tahu ada fim dead poets society

    ReplyDelete
  2. aku juga paling suka kalau film2 Hollywood lakon utamanya si Robin Williams yang total habis kalo main :) sukses untuk kontes blognya

    ReplyDelete
  3. Aku suka menulis puisi mba...tp udah lama bgt gak membacakan puisi sprti yg ada di foto2 di atas.

    ReplyDelete
  4. guru yg out of the box memang susah dilupakan...

    ReplyDelete
  5. waktu SD, saya juga suka sama puisi/sajak mba. Dan saya juga suka membaca puisi.

    ReplyDelete
  6. Film ini memang fenomenaaal... Gaya mba Ichaaa jugaaa asyiiik ;)

    ReplyDelete
  7. gara2 film ini juga, jargon 'carpe diem seize the day!' jadi terkenal banget yak. saya duluan baca novelnya nih, baru nonton filmnya. emang bagus banget!

    ReplyDelete
  8. waahhh ternyta udah cinta puisi sejak kecil ya mak :)

    ReplyDelete
  9. Kalau baca puisi, Mami menghayati bangeeet. Suaranya itu lhooo. Aku pernah dengar, tapi lupa di event apaa. Hahaha

    ReplyDelete
  10. wah, dead poets society, aku pernah ngulik sebentar, tapi habis baca tulisan ini aku jadi ingat. Mak Icha keren gayanya :D

    ReplyDelete
  11. keren deh mami icha, tekun banget mengembangkan kesukaannya, makasih ya atas partisipasinya

    ReplyDelete