Program Nusantara Sehat Wujud Nyata Nasionalisme

Media sedang ramai memberitakan ajakan BELA NEGARA. Menurut Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu, Senin 19 Oktober  2015, Presiden Joko Widodo akan membuka panggilan menjadi Pembentuk Kader Bela Negara secara serentak di 45 kabupaten/kota. Alasan akan dibentuknya Kader Bela Negara, karena generasi muda dianggap kurang mecintai  Tanah Air. 

Benarkah generasi sekarang kurang mencintai tanah air?


Mengacu pada KBBI: nasionalisme/na·si·o·na·lis·me/ n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan



Menurut saya pribadi daripada mengeluarkan biaya lagi untuk mewujudkan Program Bela Negara, lebih baik Kementrian Pertahanan dan Keamanan berkolaborasi/bekerjasama dengan Kementrian-kementrian lain untuk mendukung program-program yang bisa menguji sekaligus menempa rasa nasionalisme/Cinta Tanah Air, dari setiap WNI yang terpanggil. Salah satu kerjasama, misalnya dengan memfasilitasi alat transpotrasi dan pengawalan untuk keamanan dan keselamatan.

Kementrian Pertahanan dan Keamanan mempunyai tim yang bisa digunakan hingga ke pelosok Indonesia Raya. Kementrian Pertahanan Lewat ketiga Angkatan Udara, laut, dan Darat, dapat membantu, mempermudah memperlancar perjalananan hingga tiba di wilayah yang menjadi target. 

Target Program Nusantara Sehat:
 44 Kabupaten di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)
Unit capaian: Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Jumlah capaian: 120 Puskesmas


Kementrian Pertahanan dan Keamanan bisa bekerja sama, salah satunya dengan Kementrian Kesehatan. Karena Kementrian Kesehatan memiliki program NUSANTARA SEHAT, yang memberi kesempatan kepada generasi muda (Usia di bawah 30 tahun) yang memiliki ketrampilan tersertifikasi dibidang tenaga Pelayanan Kesehatan, untuk mengabdikan kepada bangsa dan negara.

Salah satu indikasi kemajuan sebuah bangsa adalah indeks kesehatan masyarakatnya. Indonesia sebuah negara kepulauan yang keindahannya terkenal hingga ke luar negeri. Namun bentuk kepulauan juga menjadi salah satu kelemahan/kendala dalam mendistribusikan semua fasilitas. Terutama dikarenakan kondisi alam dan transportasinya. Rasaya nggak sebanding jika sebuah pengabdian terbentur pada tingginya biaya transportasi. 



Saya sudah mendengar program Nusantara Sehat sejak acara Ramah-tamah dengan Ibu Mentri Nila Moeloek (Agustus 2015).  Menurut Kepala Opini Pukom Kemenkes yang juga Blogger kesayangan Anjari Umarjianto saat Temu Blogger #SahabatJKN untuk mengenal Program Nusantara Sehat di Hotel Artotel, 13 Oktober 2015, Program Nusantara Sehat adalah Sebuah program jemput bola yang dilakukan Kementrian Kesehatan dari Jakarta. Bukan cuma mengirimkan instruksi atau fasilitas tapi juga kami kirimkan tenaga manusianya dari Jakarta. Kami didik/latih, kami pantau, kami awasi agar program ini berjalan dengan baik. 

Nusantara Sehat adalah program lintas kemenkes yang fokusnya tidak hanya pada kegiatan kuratif tapi juga promotif, preventif untuk mengamankan kesesehatan masyarakat dari daerah yang paling membutuhkan sesuai dengan Nawa Cita-Membangun dari pinggiran"

Menurut Staff ahli Kemenkes, Psikolog Diah Saminarsih: "Mereka yang terpanggil setelah melewati syarat administrasi akan menerima pelatihan selama 5 minggu. Pelatihan fisik dan mental termasuk  kertrampilan dalam mengatasi situasi dan kondisi alam." Tim akan melakukan pelatihan dan mempersiapkan peserta program, termasuk mencari solusi dalam menghadapi persoalan. 

Mas Anjari dan Ibu Ami mengatakan  jika ada dana, akan mengajak para blogger untuk melihat proses prekrutan dan  pelatihan. (Asyik, di tunggu nih janjinya).

Walau gaung Program Nusantara Sehat dan banyak program dari Kemenkes yang gaungnya tidak terdengar, bukan berarti Kemenkes itu nggak bekerja loh. Menurut Kepala Puskom Kemenkes Ibu drg. Utami Murti, biasa kami sapa Ibu Ami, ketebatasan dana sosialisasi dan publikasi yang menyebabkan gaungnya kurang nyaring. Sebetulnya pekerjaan yang dilakukan  nyaris membuat 24 jam sehari nggak cukup.

Inilah yang menjadi panggilan sekaligus tantangan buat kami para blogger untuk turut mensosialisasikan dan mempublikasikan kegiatan program-program kemenkes agar gaungnya terdengar keras. (Tamparan buat blogger #SahabatJKN-terutama saya. Peringatan keras, bahwasannya banyak yang bisa lakukan lewat tulisan di blog)




Gambar-gambar di atas dari Video Kemenkes, hasil wawancara Mas Anjari Umarjianto dengan Putri (foto diambil dari twitter putri) salah satu peserta Program Nusantara Sehat yang ditempat di Palangkarya. Perjalanan darat dan laut lebih dari 9 jam. Setiba di lokasi, tim diterima institusi kesehatan yang berwenang di Kecamatan Kota. Biasanya di tempat inilah para peserta Program Nusantara Sehat pada waktu-waktu tertentu datang kembali untuk melapor dan berkomunikasi. Karena di lokasi target, biasanya komunikasi lewat telpon/internet tidak bisa dilakukan. 

Nasonalisme adalah menerima dan membaur dengan masyarakat setempat termasuk mandi di kali, tidur beralas tikar, makan sama dengan yang dimakan masyarakat setempat. Berjauhan dengan orangtua, adik-kakak juga sahabat sahabat. Dan yang meyakinkan saya nasonalisme seseorang teruji adalah ketika dengan sukarela  meninggalkan semua kenikmatan dan kemampan hidup untuk menyatu dengan saudara sebangsa dan setanah air, yang bisa jadi baru di kenal saat datang ke lokasi target.

Lalu siapa yang bisa bergabung dalam Program Nusantara Sehat?
Peserta program adalah para tenaga profesional kesehatan dengan latar belakang tenaga kesehatan yang berbeda yang terdiri dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian, dengan persyaratan usia di bawah 35 tahun dan bersedia mengabdikan dirinya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhan Kementerian Kesehatan. 

Peserta Tim Nusantara Sehat melalui proses seleksi administrasi dan seleksi psikologi (test psikologi, FGD, dan wawancara). Peserta yang lolos seleksi adalah peserta yang memperlihatkan kemampuan sosialisasi dan berkomunikasi yang baik, memperlihatkan inisiatif dan pengambilan keputusan yang baik, serta berkomitmen terhadap tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.


Kemenkes senantiasa mendorong seluruh tenaga kesehatan profesional untuk ikut serta dalam program Nusantara Sehat dengan mendaftarkan diri baik secara online melalui situs resmi Nusantara Sehat di   www.nusantarasehat.kemenkes.go.id  Sumber: 



Saya percaya dalam diri setiap individu ada sifat kepahlawanan, karena semua orang terlahir dengan sifat baik. Sayangnya tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk menunjukan sifat kepahlawanannya. Program NUSANTARA SEHAT adalah kesempatan bagi anda untuk ambil bagian menjadi pahlawan bangsa, mewujudkan nasionalisme. 

Ya, mewujudkan nasionalisme! Bukan sekedar punya kisah yang bisa anda ceritakan pada anak cucu. Lewat program NUSANTARA SEHAT, anda telah mengambil bagian, berperan nyata dalam pembangunan bangsa di bidang pelayanan kesehatan. Tidak ada penghargaan besar yang akan anda terima, tidak akan ada medali atas keberanian dan kegigihan anda bertahan di pedalaman, apalagi gelar karpet merah.

Tapi satu hal yang saya percaya, Tuhan tidak pernah tidur. Apa yang anda berikan saat ini, akan anda tuai, saat melihat masyarakat yang anda bantu bisa menjalani dan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) sehingga meningkatnya kwalitas hidup. Bukan sebuah harapan dan cita-cita yang muluk jika kita ingin melihat saudara-saudara sebangsa dan setanah air mempunyai kehidupan yang lebih baik. Karena saat masyarakat sehat, maka semua bisa melakukan aktifitas dengan baik. Bisa bekerja lebih baik.Otomatis Indonesia menjadi lebih baik.

Jangan  anda berharap saat mengikuti Program NUSANTARA SEHAT anda akan menerima fasilitas luar biasa. Sebaliknya, anda akan dihadapi pada kondisi memprihatinkan, bukan hanya kondisi transportasi dan jalanan yang jauh dari memadai. Bisa jadi anda akan menerima penolakan dari masyarakat setempat. Tapi percayalah TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. Jika anda menjalani dengan ikhlas disertai niat tulus, semua kendala bisa diatasi. Kalau kata Kang Maman, Pengamat publik yang biasa menjadi notulen dalam sebuah program di salah satu stasiun televisi swasta, "Kuncinya CINTA, Cinta memiliki kekuatan yang dasyat, dengan cinta anda pasti bisa mengatasi semua masalah". Iya juga sih, lihat saja mereka yang sedang jatuh cinta, apapun dilakukan. Kuncinya mencintai yang kita lakukan dan lakukan apa yang kita cintai.

Dengarkan panggilan negara, buka hati buka pikiran, Indonesia menunggu anda. Segera bergabunglah di Program NUSANTARA SEHAT. Waktu tidak pernah menunggu, kesempatan baik tidak pernah datang dua kali. Percayalah, anda pahlawan. Buktikan anda memang pahlawan.


6 comments:

  1. aku juga berpikir sama, kenapa ngak hanya soal kesehatan saja tenaga relawan...bisa dalam soal pendidikan, sosial,dll yang bisa hemat biaya..

    ReplyDelete
  2. benerr,, jadi relawan Nusantara Sehat ini saatnya diuji kebesaran cintanya pada negara (at least pada pekerjaannya) ya mbak

    ReplyDelete
  3. Kebayang kalau semua pemuda-pemudi Indonesia masih punya idealisme tinggi yaa, negara akan sejahtera mustinya

    ReplyDelete
  4. Anonymous7:52 AM

    Salut untuk mereka. Tapi jangan lupa untuk penuhi hak-hak hidup mereka juga. Sebab sudah berjibun cerita ttg memelasnya kehidupan mereka di daerah perbatasan atau pulau terluar RI. Semisal tenaga medis, paramedis, atau penunjang medis lainnya.

    ReplyDelete
  5. Bagi yang peduli terhadap lingkungan sebaiknya menggunakan packaging makanan yang ramah lingkungan. Misalnya http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete