Saya pilih jadi teman belajar gen Z

 


Saya menikah diusia yang lumayan tinggi dan  melahirkan anak pertama di tahun ke empat pernikahan, membuat saya memiliki anak-anak dari generasi Z atau Gen Z. Mereka adalah anak-anak yang dilahirkan dalam rentang waktu antara tahun 1995 sampai dengan  2010. Kedua anak saya terlahir tahun 2000 dan 2003. maka saya memiliki dua anak dari gen Z. Sebagai orangtua saya percaya, sebuah keharusan mengenali anak-anaknya. Walau susah dan tidak semua orangtua  mampu tapi bisa dilakukan. Bahkan bisa menggunakan institusi psikologi, jika diperlukan.

Saya bekerja sejak saya belum menikah dan berhenti bekerja berkantor ketika anak-anak berusia 10 dan 7 tahun. Semasa saya bekerja, saya sudah meninggalkan anak-anak sejak mereka berusia kurang dari 3 bulan. Jauh sebelum memiliki anak saya sudah belajar banyak untuk mempersiapkan diri. Salah satunya membangun komunikasi terbuka. Saya dan suami membangun komitmen bersama. Pertama dan utama adalah mengenali dan memahami karakter anak-anak. Awalnya jadi orangtua, sempat menerapkan value yang salah. Sempat beranggapan keduanya sama. Ternyata salah besar. Satu laki-laki-satu perempuan walau diberikan aturan sama, penerapannya tidak sama. komitmen lainnya, Kami  (Saya dan Pak Suami) sepakat hanya melakukan panggilan telepone jika ada masalah. Artinya jika semua ok, nggak perlu ada panggilan telephone. Termasuk saat berdinas ke luar kota. Cukup pesan singkat untuk saling memberi kabar situasi dan kondisi masing-masing. 

Hal ini berlaku sampai sekarang termasuk ke anak-anak. Kami bukan orangtua yang mengawasi atau mengontrol anak dengan sering-seriung telephone. Lalu bagaimana dengan proses pengawasan? Karena dari awal kami sepakat membangun komunikasi terbuka, memberi dan menjaga kepercayaan menjadi kekuatan. Kami membiasakan segala seusatu dibicarakan dan disepakati. Beda pendapat? ya gak apa-apa. Saya dan Pak Suami sudah terbiasa menerima ataupun menolak ide yang dijabarkan. Jadi segala sesuatu ada alasannya. Anak-anak tahu, kami tidak akan berkata tidak tanpa alasan. Termasuk dalam pilihan institusi sekolah dan cara belajar. 

Saat ini, sulung saya sudah di Perguruan Tinggi dan si Bungsu sedang persiapan masuk Perguruan Tinggi. Ketika pandemi covid 19 melanda lalu diterapkan pembelajaran jarak jauh alias on line, saya tidak terlalu kaget. Mengingat aktifitas saya yang sering ke luar kota, membuat proses belajar dengan anak sering on line. Tapi tetap butuh penyesuaian, mengingat intensitas pembelajaran itu sendiri. Sebagai anak-anak yang terlahir sebagai Gen Z, di mana situasi dan kondisinya, mau atau tidak mau harus menerima, anak-anak cenderung tidak terlalu sulit menyesuaikan dengan metode pembelajaran jarak jauh. Yang menjadi kendala adalah teknologi yang belum mendukung. Menjadi teman belajar Gen Z adalah pilihan saya dan Pak Suami. Mereka generasi yang mampu berargumentasi dan memiliki keyakinan kuat pada opininya.

Karena semenjak sebelum memiliki anak, saya ibu bekerja, Saya dan Pak Suami memiliki komitmen bersama dalam mendidik anak dengan melibatkan internet. Jadi kalau dulu cara belajar, anak membaca dua bab, lalu orangtua bertanya dari isi dua bab tadi. Saya dan pak Suami sudah menerapkan methode yang berbeda. Kami menerapkan, anak membaca dan mempelajari dua bab, lalu mereka menerangkan/mempresentasikan kepada saya/Pak Suami pemahaman atas bab pelajaran tersebut. Saya dan pak suami siap googling untuk memperkuat. Jadi anak tidak bisa mengelak lupa atau belum baca. Cara inipun sudah kami buktikan jauh lebih kuat diserap anak-anak.                      





Sedari awal, saya dan Pak Suami bergantian mendampingi. Kedua anak saya mendapat smartphone pertama mereka ketika kelas 6 SD dengan pembatasan penggunaan internet. Seiring usia bertambah, kami sudah tidak membatasi tapi kami tetap mengontrol. Penggunaan media sosial tidak boleh ada yang di password. Kalaupun mereka membuka situs dewasa, terutama si sulung (laki-laki) saya dan Pak suami hanya menjelaskan. Mau lihat silahkan tapi nggak perlu. keinginan seksual ada, itu normal tapi belum waktunya. Ada resiko terjadi kehamilan, dan  mengidap penyakit seksual. Sebagai orangtua kami tidak akan meninggalkan kalian. tapi kalian akan kehilangan masa muda kalian. Karena terpaksa jadi orangtua atau harus menderita sakit sehingga tidak produktif dan tidak bisa beraktifitas.

Bisa dibilang, Saya dan Pak Suami memilih menjadi kawan dalam segala hal untuk anak-anak termasuk saat mendampingi belajar. Ketika mereka masih di sekolah dasar, kami belajar bersama 30 menit lalu jeda 15 menit. Boleh nonton tv, main game atau bercanda dengan kami, orangtuanya. Kami mengizinkan mereka belajar sambil mendengarkan musik. Buat kami, kebahagiaan mereka itu hal utama. Ketika mereka bahagia, mereka akan menyerap dengan senang semua informasi yang diberikan.

Bagaimana dengan kedisiplinan? Itu bagian dari kesepakatan. Kesepakatan mengenai aturan yang ada. kalau nggak disiplin, semua kegiatan tidak berjalan sebagaimana mustinya. Contohnya, pulang sekolah, mandi, ganti baju, makan lalu tidur siang. semua dijelaskan mengapa harus begitu. Dari luar, setelah aktifitas di sekolah, bertemu dan main, baju dan tubuh jadi kotor. masuk rumah harus segera bebersih agar kotoran tidak menjadi penyakit. Setelah bersih harus makan untuk mengganti energi yang dikeluarkan sesudah beraktifitas di sekolah. Sesudah makan perlu tidur karena seluruh organ tubuh perlu istirahat. Peraturan ini harus ditaati dan berjalan sampai sekarang. 

Saya ibu bekerja, saya sangat peduli pada apa yang dikonsumsi anak-anak. Saya membiasakan mereka memceritakan apa yang mereka makan dan minum selama saya tidak ada. Saya tidak bisa melihat, apakah asisiten rumah tangga (ART) di rumah memberi makan mereka cukup. Laporannya selalu, makannya habis, susunya habis. Saya menggunakan timbangan. setiap akhir pekan, dengan di lihat art, saya menimbang berat badan anak-anak. Kalau laporan makan dan susunya habis, saya percaya biar cuma 1 ons, berat badan mereka harus naik, minimal tidak turun. Untuk melengkapi gizi mereka, saya selalu menyediakan satu mangkuk es cream untuk sesudah makan siang dan malam. Sampai sekarang, saat mereka sudah besar tetap menunggu semangkuk es cream sesudah makan siang atau malam. Padahal dulu, saya sediakan karena saya khawatir protein makan dan susu mereka tidak tercukupi karena saya tidak di rumah. kalau sekarang? mereka sudah bisa membuat makan mereka sendiri sesuai selera. Tapi jenis makanan yang saya sajikan tetap menjadi utama di ingatan dan lidah mereka.

Sistem aktifitas dalam kehidupan di rumah kami berjalan begitu saja tanpa saya secara khusus mempersiapkan karena mereka Gen Z. Saya hanya orangtua yang tidak mau kudet, saya harus update agar bisa sejalan dan seiring dengan dunia kedua anak saya. 



Makanya saya senang ketika diminta berbagi pengalaman di acara webinar dengan tema: Kepoin Kebiasaan & Gaya Gen Z

Mendengar paparan Ibu DyaLoretta.,SE.,M.Ikom,CSP,CPM, saya sangat terpesona. Gen Z ini lebih dari 10 jam dalam sehari saat menggunakan internet. Jadi pertanyaan tuh, 10 jam ngapain saja. Jadi orangtua Gen Z sangat diharuskan update dan cerdas mengikuti zaman. Selain untuk fungsi kontrol pastinya untuk membentuk pola pengasuhan pada anak.

 Betapa peliknya Gen Z. Mereka memiliki dunianya sendiri tapi saya percaya semua itu kembali pada bagaimana masing-masing keluarga menerapkan value keluarga tersebut. Saya bersyukur, saya salah satu orangtua yang terbiasa dengan internet dari awal-awal teknologi ini masuk. Sehingga saya sudah membiasakan teknologi ini dalam keluarga. Saya dan anak-anak bisa saling mengisi/mengingatkan kalau ada yang belum paham. Enaknya lagi, banyak pekerjaan yang bisa dibantu kedua anak saya. Ketika mereka membantu pekerjaan saya, tema-tema tertentu menarik perhatian mereka dan menjadi ajang diskusi yang seru.

Ke depannya, menurut saya proses pembelajaran jarak jaiuh harusnya bisa diterapkan karena generasi sesudah Gen Z akan benar-benar menjadi generasi tanpa batasan. Tanpa batasan waktu dan ruang. nah menariknya, rupanya, metode ini sudah dipahami oleh SMA pintar Lazuardi yang menerapkan

-Blended Learning SMA PintarLazuardi 

-LMS Pintar Lazuardi

 SMA Lazuardi mulai beroperasi sejak tahun 2021-2022 sebagai pengembangan dari sekolah Lazuardi Group. Sekolahonline, khususnya untuk universitas dan SMA, tampaknya akan menjadi trend sekolah alternatif yang takterhindarkan. Lazuardi konsisten akan ikut serta memberikan kontribusi pada sistem pendidikan di negeri kita, dengan menyelenggarakan SMAB lended Learning tanpa meninggalkan kreativitas secara optimum. Caranya dengan menambahkan aktivitas hands on mandiri siswa lewat project based learning. Juga dukungan Learning Management System(LMS) yang diberi nama Pintar.

Menurut Kepala SMA Lazuardi  Ibu SonyaSinyauri S

Gen Z terbiasa belajar audio-visual  bergantung pada teknologi digital dan streaming, mudah menangkap/ memahami pembahasan, berani mengemukakan pendapat dan kritis, punya rasa ingin tahu yang besar dan inovatif.



SMA PINTAR LAZUARDI-BLENDED LEARNING HIGH SCHOOL

menggabungkan antara kegiatan tatap muka dan pembelajaran online dengan prosentase pembelajaran online lebih besar. 

Kegiatan tatap muka akan dilakukan seminggu sekali di sekolah home based.

Kegiatan tatap muka di fokuskan untuk: 

 pembentukan karakter, 

 pengembangan keterampilan sosial, 

 coachingtentangkarir, 

 kegiatan praktikum yang tidak dapat dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran online.

 Untuk peserta didik yang berasal dari wilayah yang belum tersedia sekolah home based, kegiatan tatap muka akan digantikan dengan program pengayaan dan coaching yang dilakukan secaraonline.



Bagaimana dengan kurikulumnya? tenang, SMA Pintar lazuardi tetap mengacu pada kurikuum nasional. Cuma metode pembelajarannya saja yang lebih besar porsi on linenya. Cek deh:


LEARNING MANAGEMENT SYSTEM 

Pedagogical Intelligence Architecture (PINTAR) adalah sebuah strategi pedagogi (pembelajaran) yang diterapkan melalui sebuah Learning Management System (LMS) online yang memperhatikan keterikatan antara peserta didik dengan proses pembelajaran melalui feedback process. PINTAR (Pedagogical Intelligence Architecture) adalah LMS pendukung pembelajara nonline di SMA Pintar Lazuardi yang didukung oleh aplikasi yang canggih yang dapat diakses di mana saja dan kapansaja.


KEUNGGULAN LMS PINTAR 

 MULTIPART berarti materi disampaikan dalam bagian-bagian kecil dan dipilih hanya materi fundamental dari sebuah mata pelajaran.Upaya ini dimaksudkan agar mudah dipahami secara mandiri oleh siswa. 

 FEEDBACK SYSTEM akan memastikan peserta didik terlibat aktif, berinteraksi, saling memberi dan menerima umpan balik (feedback) untuk efektivitas belajar, mengetahui capaian hasil belajar, terbentuknya komunitas belajar, mendokumentasikan portofolio yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja. 

 DIFFERENTIATED LEARNING Dimulai dengan diagnostic assessment, sehingga dapat memandu learning path yang akan dilalui siswa dari urutan materi dan memungkinkan siswa memiliki tahapan belajar yang berbeda. 

 LEARNING PATH peserta didik akan memililki‘jalur/peta’untuk mencapai hasil belajar yang sesuai dengan kemampuan dan tujuan pembelajaran.

  MULTI-FRIENDLY CONTENT Materi dan media pembelajaran dikemas dalam beragam bentuk sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Disajikan sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh peserta didik. 

 GAMIFICATION Pembelajaran online juga mempertimbangkan kesenangan dan keseruan. Ini dilakukan dengan menambahkan unsur games dalam pembelajaran. 

SMA Pintar lazuardi dengan methode modern ini, bisa menjadi alternatif pilihan para orangtua yang mau memberikan pendidikan terbaik bagi putera-puterinya yang termasuk Gen Z.

Berikut 10 jernis pekerjaan bagi Gen Z

10 profesi favorit Gen Z:

- Data Analyst

- Digital Marketer

- Application Developer

- Praktisi Medis

- Akuntan

- Spesialis SEO

- Ahli Lingkungan

- Software Engineer

- Konstruksi dan Teknik

- Entrepreneur
















No comments:

Post a Comment