RS Premiere Bintaro, Destinasi Wisata Kesehatan


Berwisata ke rumah sakit? Mengapa tidak?  Melansir magazine.medicaltourism.com, tujuan #wisatakesehatan dan kebugaran adalah perawatan medis dan kesehatan kecantikan, pemulihan relaksasi dan perawatan. Wellness tourism mencakup konsumen yang melakukan perjalanan untuk menjaga kesejahteraan dan kepuasan hidup mereka melalui pengalaman perawatan yang sehat.

Wellness Tourism Association melaporkan wisata kesehatan merupakan segmen yang relatif baru dari industri pariwisata yang sangat luas. Konsep perjalanan kesehatan ini mulai muncul sekitar 2004-2005 dan diluncurkan pada 2008.

Sumber:





Kamis, 9 Juni 2022, saya mengikuti Blogger & Vlogger Ggathering di RS Premiere Bintaro yang diikuti 50 Blogger dan Vlogger untuk diskusi kesehatan seputar Scoliosis. 

Tepat pk. 09.00 pagi kami di bagi menjadi 5 kelompok untuk mengikuti tur RS Premiere Bintaro. Memasuki lobby RS Premiere Bintaro, langsung berhadapan dengan Meja resepsionis yang rapi, bersih dan menarik. Di kiri kanan loby diapit, Klinik rawat jalan dan Skin and laser Clinik.




Memasuki area lobi ada robot Darby, Ikon RS Premiere Bintaro yang berbentuk rusa, lalu lalang siap menyapa dan membantu konsumen yang datang. Robot Darby bisa memberikan banyak informasi seperti yang terdapat pada Website RS. Premiere Bintaro. RS Premiere Bintaro bagian dari Ramsay Sime Darby Health care. Jadi pahamkan dari mana asal nama ikon RS Premiere Bintaro, Darby.

Pada robot Darby, konsumen bisa mencari informasi berbagai layanan, jadwal dan nama dokter sesuai tujuan. Robot Darby juga bisa berjalan dan mengantar konsumen sesuai tujuan. 


Sesuai judul catatan saya, RS Premiere Bintaro, Destinasi Wisata Kesehatan karena memasuki rumah sakit ini, mulai dari halaman, ke lobi lalu ke berbagai fasilitas layanan kesehatan, tidak seperti memasuki rumah sakit. Aroma yang menguar di udarapun lebih ke aroma terapi, sehingga berasa nyaman dan tenang. Menyusuri belakang meja resepsionis, mengantar konsumen pada ruang duduk terbuka dan beberapa merchan resto yang menyajikan aneka kudapan dan minuman. Seperti memasuki mall. Bahkan persis sebelah kiri pintu masuk lobi, ada merchan coffee kekinian yang aroma kopinya sangat menggoda. jadi anda bisa nongkrong cantik bersama bestie di area RS Premiere Bintaro sambil ngopi. Eh di salah satu sudut lobi juga ada ruangan yang melayani pembuatan visa bagi anda yang akan ke luar negeri untuk menindaklanjuti pengobatan. 


RS Premier Bintaro telah siap menjalankan program  Wisata Kesehatan (Health Tourism) di Indonesia dalam hal layanan unggulan Skin & laser serta Sport Clinic. 

Layanan unggulan RS Premier Binatro:

1. Skin and laser Clinic
2. Stroke Center
3. Radiologi Center
4. Vascular Center
5. Sleep Clinik
6. Orthopedic Center:
- Spine Center
- Hand Clinik
- Artroplasty
- Sport Clinik

Karena keterbatasan waktu, para Blogger dan Vlogger tidak bisa melihat semuanya. Saya berkesempatan masuk dan melihat beberapa fasilitas, diantaranya:


Skin & Laser Clinic berfokus pada pelayanan dengan menggunakan teknologi Laser Fotona generasi terbaru. Adapun beberapa manfaat dari penggunaan Laser Fotona generasi terbaru ini, diantaranya peremajaan kulit, mengurangi bekas jerawat, memperbaiki kulit kendur, mengurangi kerutan halus dan pigmentasi, hair removal, varises, snoring / mendengkur, dan vagina rejuvenation.



Sport Clinic  hadir untuk memberikan layanan yang terpadu dan komprehensif untuk penanganan seluruh masalah-masalah yang timbul sehubungan dengan aktivitas olahraga. Menurut dr. Jefri, sport center Rs Premiere Bintaro melayani atlet dan orang-orang yang suka berolahraga dan memerlukan penanganan yang berorientasi untuk dapat berolahraga lagi dengan bugar. Jadi bukan sekadar menangani kesembuhan akibat cedera tapi bagaimana mengoptimalkan pasien sesudah pengobatan agar bisa tetap melakukankan olahraga.



Stroke Center merupakan unit pelayanan komprehensif pasien stroke yang dilakukan oleh tim multidisipliner serta kombinasi terapi untuk perawatan akut dan rehabilitasi dini. Unit stroke tersebut melayani pasien stroke fase akut. Setelah melewati fase akut, pasien stroke akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan dipersiapkan juga perencanaan saat pasien pulang. Layanan Stroke Unit menangani kegawatdaruratan stroke yang membutuhkan kecepatan waktu penanganan bagi pemulihan pasien atau yang kita kenal dengan istilah Golden Period. Layanan ini akan menjadi salah satu center of excellence dari Rumah Sakit Premier Bintaro.



Radiologi Center dengan peralatan MRI 3 tesla terbaru dengan kemampuan menampilkan citra yang lebih jelas dan lebih detil.

Health Talk:



Usai berkeliling, dilanjutkan ngobrol bersama dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT Spesialis Bedah Orthopedi Spine RS Premier Bintaro, seputar scoliosis, yaitu kelainan tulang belakang. Skoliosis itu idiopatik atau tidak bisa bisa dipastikan penyebabnya. Ada juga penderita skoliosis yang kebetulan keadaannya juga terjadi pada keturunannya.

Dikutip dari https://t.co/3pmRpg3hg8 scoliosis,  sebuah kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang  melengkung, akan menarik tulang rusuk keluar dari posisinya & membuat otot-otot punggung tegang. Tanda-tanda yang terlihat jika seseorang terkena scoliosis adalah postur tubuh tidak normal, pinggul tidak rata, bahu lebih tinggi dari sebelahnya, dan tulang belakang tidak lurus.

Penderita scoliosis ringan,  dapat diobati dengan fisioterapi atau menggunakan alat bantu braces. Sedangkan untuk penderita skoliosis berat maka bisa ditindak lanjuti dengan operasi. Pasien scoliosis yang harus dioperasi  jika sudah mencapai kurva lima puluh derajat atau jika tulang belakang sudah terlihat berbentuk huruf ‘S’ sempurna. skoliosis bisa terjadi pada siapa saja, namun lebih banyak terjadi pada wanita pada usia pertumbuhan dan khususnya saat menstruasi.



 


Sekarang nggak perlu jauh-jauh ke luar negeri jika ingin menikmati fasilitas kesehatan dengan layanan dan tenaga medis yang berkualitas. RS Premiere bintaro memberikan layanan dengan mengutamakan kenyaman pasien. 

Imunisasi Dasar Lengkap Investasi Generasi Indonesia Emas 2045.

Imunisasi Dasar Lengkap Investasi Generasi Indonesia Emas 2045.  Sebagai orangtua, saya punya andil menyiapkan generasi Indonesia Emas. Anak-anak  adalah calon pemimpin di masa depan. Karena itu, sebagai orangtua, saya wajib menyiapkan anak, bukan hanya sehat jasmani dan rohani tapi juga harus cerdas. Selain pemberian makan bergizi yang cukup, juga diperlukan pemberian Imuniasasi Dasar Lengkap (IDL). Karena kecukupan gizi dan imunisasi lengkap akan menjadi pijakan awal bagi pertumbuhan tubuh dan otak anak.  Saya percaya, anak yang mendapatkan gizi dan IDL akan tumbuh sehat dan mudah mempelajari banyak hal. 

Saya memiliki dua anak yang sampai saat ini belum pernah sekalipun masuk Rumah Sakit untuk di rawat. Saya, Ibu yang bawel. Saya sangat bawel dalam hal kedisiplinan, kebersihan dan makan. Saya, rela belajar memasak dan mengenali jenis makanan yang disukai anak-anak. Saya percaya kedisiplinan yang diterapkan sejak dini, akan membentuk kepribadian yang baik. Kebersihan dan makanan, erat kaitannya dengan kesehatan. Dua anak saya, memilki kesukaan makanan yang berbeda. Si Sulung, sejak kecil sangat pemilih dalam hal makanan. Sebaliknya Si Bungsu bisa menikmati semua jenis makanan tanpa masalah.

Ya, memang tidak ada anak yang sama, maka saya  mengurus mereka dengan cara yang berbeda sesuai sifat masing-masing. Misalnya jika akan berpergian, saya memastikan Si Sulung sudah kenyang dari rumah, karena akan sulit memberi makan jika dijalan, mengingat ia sangat pemilih. Sebaliknya Si Bungsu karena bisa makan apa saja, sangat mudah dan praktis. Sejak kecil saya mewajibkan makan berbagai jenis sayur-sayuran. Untuk yang satu ini, saya boleh berbangga karena kedua anak saya hampir semua jenis sayuran mereka bisa  makan. Tapi saya agak gagal dalam mengenalkan buah. Karena sampai sekarang Si Sulung cuma suka buah pepaya dan jeruk. tapi saya bisa melengkapi kebutuhannya dengan suplemen tambahan. Oh ya membersamai anak, juga termasuk pemenuhan kebutuhan rohani, bisa di baca di sini

Menjaga dan menyiapkan anak sehat dan cerdas disipakan sejak 1000 hari pertama.  Dihitung sejak anak masih dalam kandungan. Oh ya, bukan hanya calon anak yang perlu diperhatikan kecukupan gizinya  tapi juga ibu yang mengandung, perlu mendapatkan gizi, vitamin dan akses layanan kesehatan. Ibu sehat, diharapkan melahirkan bayi yang sehat juga. Pentingnya Gizi bagi ibu hamil bisa di baca di sini.

Saat ini, bisa dibilang sangat mudah terutama di kota besar mendapatkan akses informasi. Orangtua harus mau belajar dan menjadi cerdas. Terutama dalam hal mencai informasi. Sebagai pedoman untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang bisa menggunakan Tumpeng Gizi seimbang sebagai rujuakan.

Sumber: 


Menurut Plt. Dir. Pengelolaan Imunisasi, Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephineimunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. Sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. (Sumber:)

Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap berguna untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit- penyakit yang berbahaya. Dengan memberikan lmunisasi Dasar Lengkap sesuai jadwal, tubuh bayi dirangsang untuk memliki kekebalan sehingga tubuhnya mampu bertahan melawan serangan penyakit berbahaya (Sumber:)



Lalu bagaimana jika anak belum lengkap imunisasi dasarnya? Menurut Pakar Kesehatan Anak, Prof. Dr.dr. Soedjatmiko, SpA.(K).MSi, Kejar saja. Lengkapi yang belum lengkap. Dalam webinar Pekan Imunisasi Dunia,  11 April 2022 yang diselenggaran Kemenkes dengan tema: Sehat kini dan Nanti, Bersama Kita Imunisasi, Prof. Soedjatmiko mengatakan, bagi anak-anak yang imunisasi dasarnya belum lengkap, silahkan dilengkapi. 



Jika orangtuanya lupa, sudah imunisasi atau belum, menurut Prof Soedjatmiko, ya berikan lagi. Karena semakin banyak imunisasi yang diberikan, maka stamina anak makin baik. Pada Imunisasi yang pertama, imun tubuh anak meningkat tapi pada rentang waktu tertentu akan turun lagi. Maka perlu diberikan imuniasi kedua atau lanjutan. Setelah diberikan imuniasi kedua, umumnya imun tubuh lebih stabil. Makin kuat jika diberikan imuniasi selanjutnya sesuai peruntukan. Jadi tidak benar kelebihan imunisasi akan membuat imun tubuh anak menjadi rentan.



Dokter spesialis anak konsultan dr. Arifianto, Sp.A(K) mengatakan imunisasi kejar merupakan upaya memberikan imunisasi kepada individu dengan sebab tertinggal satu atau lebih dosis vaksin dari yang seharusnya diberikan. Pelaksanaanya bisa bersamaan dengan jadwal imunisasi rutin atau pada kegiatan imunisasi khusus. Lebih lanjut dr, Arifianto mengatakan: “Ketepatan waktu imunisasi harus tetap terjaga karena imunisasi itu selain harus ikut dengan jadwal yang ada, sebisa mungkin harus tepat waktu. Ini penting terbukti dengan ketepatan waktu imunisasi sesuai jadwal tingkat kekebalan itu akan tercapai terhadap PD3I dan secara luas akan mencegah terjadinya wabah,”


Berdasarkan laporan data imunisasi rutin bulan Oktober 2021, cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4% dari target 79,1%. (Sumber) data ini agak menyedihkan karena masih lumayan jauh dari target. Saya sebagai orangtua, mengharuskan diri untuk memberikan IDL karena buat saya, sakit baik diri sendiri atau bagi anak-anak adalah menurunnya kualitas hidup. Bagi orang dewasa membuat tidak produktif sedangkan bagi anak-anak, selain mereka menderita, juga terganggu tumbuh kembangnya yang dapat mempengaruhi pada kehidupan selanjutnya.

Oh ya memberikan IDL pada anak adalah memberikan apa yang menjadi hak mereka. Setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik dalam hidup mereka termasuk layanan kesehatan. Untuk memberikan IDL pada anak, suport sistem juga diperlukan baik dari keluarga inti dalam hal ini pasangan atau keluarga besar. banyak kepala, banyak pendapat. Tidak selalu sama tapi berusaha untuk memberikan informasi dan pengertian, mengapa imunisasi diperlukan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, saya termasuk orang yang beruntung karena memiliki suport sistem. Baik dari pasangan maupun dari keluarga besar. Salah seorang kakak saya, dipercaya mengelola Posyandu. Keberadaan Posyandu Garuda yang dikelola kakak saya, memudahkan kedua anak saya mendapatkan IDL. Karena setiap jadwal imunisasi, saya pasti dihubungi. Termasuk saat pemberian vitamin A pada bulan-bulan tertentu. Terkadang terasa sebagai gangguan, apalgi kalau informasi diberikan saat saya bekerja. Tapi saya tidak marah karena saya percaya tujuannya baik.

Secara umum ada 2 pemberian imunisasi lewat vaksinasi, pertama vaksinasi program pemerintah dan yang kedua vaksinasi pilihan.

Berikut  jenis imunisasi rutin lengkap terdiri dari ;

1. Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi Usia 0-11 bulan :
• HB0 1 dosis
• BCG 1 dosis
• DPT-HB-Hib 3 dosis
• Polio tetes (OPV) 4 dosis
• Polio suntik (IPV) 1 dosis
• Campak Rubela 1 dosis

2. Imunisasi Lanjutan Baduta pd anak usia 18-24 bulan :
• DPT-HB-Hib 1 dosis
• Campak Rubela 1 dosis

3. Imunisasi Lanjutan Anak Sekolah Dasar/sederajat pd Program Tahunan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
• Campak Rubela dan DT pd anak kls 1
• Td pada anak kls 2 dan 5

Pemberian IDL juga membantu pemerintah meringankan pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan. Karena biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan dari APBN, sangat besar.

Menkeu Sri Mulyani memaparkan alokasi anggaran kesehatan mengalami peningkatan signifikan di masa pandemi ini, dari Rp113 triliun di tahun 2019, meningkat menjadi 172 triliun di tahun 2020 dengan Rp52 triliun dialokasikan untuk penanganan COVID-19, Rp312 triliun di tahun 2021 dengan Rp190 triliun untuk penanganan COVID-19, serta Rp255 triliun di tahun 2022 dengan Rp116,4 triliun adalah untuk penanganan COVID-19.

Untuk tahun 2023, lanjut Menkeu, pemerintah memperkirakan COVID-19 tidak lagi menjadi faktor sehingga belanja kesehatan untuk non COVID-19 akan menjadi lebih penting. Oleh karena itu, pemerintah meningkatkan belanja kesehatan non COVID-19 dari Rp139 triliun di tahun ini menjadi antara Rp193,7-Rp155 triliun. (Sumber)

Jika tiap keluarga bisa menjaga anggota keluarganya tetap sehat, akan sangat membantu pemerintah. Anggaran kesehatan bisa dialihkan untuk mengentaskan kemiskinan, misalnya. Atau membangun sarana dan prasarana lainnya, seperti gedung sekolah, jembatan atau jalanan.

Pada perjalanannya, pemberian IDL memerlukan sosialisasi. Di antara kawan-kawan saya, ada yang anti vaksin. Bertahan tidak mau memberikan imunisasi karena percaya vaksin yang  disuntikan justru virus penyakitnya. benar, vaksin itu, virus tapi yang dilemahkan, gunanya untuk memperkuat imun tubuh. Sayang pada kelompok yang percaya vaksin adalah sumber penyakit, diperlukan kemampuan informasi dan kemampuan menjelaskan yang lebih baik. 

Namun adanya juga yang menjadi anti vaksin karena KIPI. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah gejala medis yang dapat terjadi setelah vaksinasi/imunisasi yang diduga terkait dengan vaksinasi/imunisasi yang diberikan. Umumnya KIPI bersifat sementara dan ringan, serta akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Tapi jika KIPI nya parah atau bahkan hingga meninggal, ada Komnas KIPI yang menjadi wadah untuk menangani masyarakat yang terkena KIPI.

1. Bagi masyarakat penerima vaksin yang mengalami KIPI segera melaporkan ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). 

2. Hasil pelacakan dilaporkan ke Pokja/Komda PP-KIPI untuk dilakukan analisis kejadian dan tindak lanjut kasus. 

3. Apabila ditemukan dugaan KIPI serius, faskes melaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk dilakukan pelacakan. 

4. KIPI yang meresahkan dan menimbulkan perhatian berlebihan masyarakat, harus segera direspons, diinvestigasi dan dilaporkan melalui website resmi di alamat: http://keamananvaksin.kemkes.go.id. (Sumber:)

Menurut Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satari , Kipi ada dua, Kipi serius dan non serius. 

Tatacara pelaporan melalui web keamanan vaksin dapat dilihat pada Buku Pedoman: https://bit.ly/jukniswebkipi

Formulir KIPI, KIPI Serius & Investigasi dapat diunduh di : https://bit.ly/formkipi

Lebih lengkapnya bisa di cek di sini

Karena Media memiliki peran besar dalam penyebarluasan informasi seputar IDL baik yang baik dan menginformasikan juga hal-hal yang tidak benar terkait pemberian IDL.



Berdasarkan Fatwa MUI.l 2016/2028 Imunisasi hukumnya boleh. Hukumnya  wajib jika penyakitnya bisa mencegah sakit berat atau mematikan. Oh ya pemberian vaksinasi beberapa jenis juga diperbolehkan. Ada yang namanya Penta bio, 5 vaksin sekali suntik nggak ada masalah. bahkan lebih hemat dan praktis.

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam membantu menyebarluaskan informasi seputar IDL.  Kepada orangtua yang ragu memberikan imunisasi pada anak atau tak mau ikut vaksin Covid-19 tanyakan, mengapa? Berikan empati, diedukasi, sesuai keraguan. Beri penjelasan, apa itu bahaya penyakit, juga manfaat vaksinasi. Berikan informasi dengan bahasa yang mudah dan fakta yang venar, kalau vaksinasi itu aman. Dan penting menyentuh hatinya dan infokan jadwal vaksinasi. Kerjasama dan andil semua masyarakat menciptakan situasi yang kondusif, akan memberi hasil yang baik.

Mari kita siapkan anak-anak kita menjadi generasi Emas 2045 dengan memberikan IDL. Terkait vaksin Covid-19 dan booster, mari dapatkan. bukan demi kesehatan diri tapi juga mewujudkan kewajiban warga negara membantu pemerintah mengentaskan pandemi covid-19 agar masyarakat tetap terjaga kesehatannya. Salam sehat

Pentingnya Vitamin Ibu hamil agar Ibu dan bayi sehat.

 


Pentingnya Vitamin Ibu hamil agar Ibu dan bayi sehat. Ini erat kaitannya dengan 1000 hari pertama bayi. Karena 1000 hari dihitung sejak bayi dalam kandungan. Maka kecukupan makan  bergizi selama ibu hamil, menjadi penentu, kelahiran bayi yang sehat. Ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam penurunan angka stunting. Stunting adalah gagalnya tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan gizi. Kekurangan gizi selain dapat menyebabkan anak gagal tumbuh, bisa juga menjadi penyebab kematian baik pada bayi maupun ibu hamil. 

Sebenarnya apa sih dibutuhkan ibu hamil? Sama seperti semua manusia, Ibu hamil memerlukan perhatian untuk jiwa & raga. Untuk memenuhi jiwanya,  kebutuhan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekat terutama pasangan. Perhatian ini penting karena pada Ibu hamil sedang terjadi perubahan metabolisme, dimana ada janin yang tumbuh  di sana. Pertumbuhan janin mempengaruhi ibu secara hormonal yang bisa berdampak juga pada emosi Ibu hamil. Perhatian dan kasih sayang akan menenangkan dan membuat Ibu hamil merasa nyaman. Jika ibu hamil merasa nyaman, hatinya senang akan beri pengaruh baik bagi bayi yang dikandungnya.

Bagaimana dengan kebutuhan fisiknya?

Berikut ini empat kebutuhan vitamin yang paling penting dan harus dipenuhi ibu selama kehamilan:

  1. Asam Folat. Ibu hamil memerlukan asam folat yang cukup untuk mencegah cacat pada sistem saraf bayi (neural tube defect – NTD). ...
  2. Vitamin D. ...
  3. Kalsium. ...
  4. Zat Besi.


Ke empat vitamin dan mineral bisa dipenuhi dari makanan. Seperti telur, susu,  ikan, ayam dan daging. Vitamin D selain dari sinar matahari, ada juga dalam protein telur, susu, ikan, ayam dan daging. Sebenarnya sinatr matahari bisa memberi vitamin E tapi dengan cuaca yang nggak menetu, maka baiknya vitmin D dipenuhi dari sayurr, buah dan sabahan makanan yag mengandung protein. Bai dari protein hewani maupun dari kacang-kacangan, seperti kedelai. Bisa juga di dapat dari buah kiwi, jeruk, sayur brokoli, bayam atau jamur..

Selain bisa dikonsumsi dari sayur, buah dan protein, ada baiknya Ibu hamil mengkonsumsi Vitamin Ibu Hamil. karena sedikit sekali yang mengerti, apakah jumlah vitamin dan mineral yang dikonsumsi sehari-hari jumlahnya sesuai yang dibutuhkan? Pemenuhan kebutuhan vitamin Ibu Hamil adalah investasi jangka panjang untuk anak tumbuh sehat dan cerdas.










Bahagia itu bisa tersenyum



Bahagia itu bisa tersenyum. Sesederhana itu. Ya, bisa tersenyum itu buat saya adalah kebahagiaan. Selanjutnya, apa yang bisa membuat saya tersenyum? Banyak dong. Tapi representatif dari semua kebahagiaan yang bisa membuat saya tersenyum, adalah saat bangun pagi, nyawa ini masih bersatu dengan raganya. Sehingga otak masih bisa mengirimkan sinyal untuk bersyukur yang membuat saya bisa tersenyum. Karena sejatinya, bersyukurlah yang membuat saya bahagia dan tersenyum. Lagian, sejak pandemi,  senyum tidak terlihat karena tersembunyi di balik masker.

Kebayang nggak, bila tidur malam adalah pertemuan terakhir dengan orang-orang yang kita cintai? Pernah ngak terbayang, saat pagi tiba, Tubuh kita sudah dingin dan kaku. Barangkali pemikiran semacam ini yang membuat seseorang melakukan, memeluk dan mengatakan rasa sayang pada orang-orang terdekatnya. bahkan mungkin ketika kematian melintas dalam benak, baru terpikir untuk minta maaf, menelepon orangtua/anak/pasangan. Selain minta maaf, juga memeluk mencium dan mengungkapkan rasa cinta/sayang. Tapi ketika kematian itu baru sebatas mimpi/fatamorgana, besok sudah kembali pada rutinitas keseharian.

Diawal-awal pandemi sejujurnya saya merasa senang. Karena bisa berkumpul dengan anak-anak. oh ya anak saya sudah remaja jelang dewasa. Itu usia di mana, rumah hanya tempat mandi, makan sesekali dan istirahat. lain dari itu mereka ada di sekolah, di tempat les, di gerej, di lapangan bola atau di jalanan bersama kawan-kawannya. makanya ketika diharus #Dirumahaja, sungguh suatu berkah. Anak-anak? Mulanya juga senang tapi lama-lama ya bosan juga. 

Sebenarnya sejak usia saya masuk kepala 4 yang katanya Life began at fourty, saya sudah mempunyai pemikiran waktu yang saya jalani adalah waktu menuju kematian. Lalu di masa menunggu kematian itu, saya mengharuskan diri saya melakukan hal baik. Sejak saat itulah saya merasa waktu nggak pernah cukup. Saya merasa belum cukup ,menjadi orang baik.

Menjadi orang baik bagi orangtua, saudara (kakak-adik) pasangan, anak, juga kawan-kawan. Di masa pandemi, saya dan kakak-adik, berbagi jadwal mengurus mama. Ini sungguh kebagiaan yang luar biasa, diberi kesempatan mengurus secara intens. Tahun 2020, adalah tahun di mana usia Mama, 91 tahun, ulang tahun terkahir di bumi. Kami menyelenggarakan syukuran hanya keluarga inti. Mama, anak-,mantu, cucu dan cicit. Ternyata itu adalah waktu yang paling pas, karena sejak itu, kondisi Mama menurun.

Oma bersama cucu dan cicit






Kami ber sepuluh (satu kakak, karena sakit tidak dilibatkan) bergantian mengurus Mama. Kami menghentikan asisten rumah tangga. Jadi kami anak-anak Mama, setiap hari berdua atau bertiga, datang atau menginap di rumah mama. membersihkan rumah, mengurus Mama, mandi, makan, BAK.BAB. ngobrol, bernyanyi, mendengarkan Mama bercerita. Cerita yang sama dalam sehari bisa diulang berkali-kali. Ini yang namanya bahagia. Bisa tersenyum, mengingat semua yang sudah dijalani. 

Banyak kawan-kawan yang menyesali belum sempat merawat, mengurus orangtua. Saya tidak bilang, kami sudah membalas apa yang pernah mama selaku orangtua berikan kepada kami. Itu tidak pernah cukup. Tapi saya mensyukuri karena saya dan kakak-beradik, setahun terakhir fokus pada mama bahkan 3 bulan menjelang Mama meninggal, kami, benar-benar ada di sekitar Mama. Nah ini yang awalnya saya dan kakak-adik pikir, memudahkan kami melepaskan Mama, ternyata Big NO.









Ternyata susah untuk ikhlas melepas orangtua meninggal dunia. Kami, kaka-adik saling menghibur dengan mengenang hal-hal lucu selagi Mama masih bersama. memang membuat kami tergelak tapi sesudah itu, lubang  dalam jiwa kami-masing-masing kosong, hingga terasa sangat sakit. Ternyata belum cukup rasanya waktu yang kami jalani bersama Mama.

Waktu yang menyembuhkan, nggak selamanya benar. Nggak menyembuhkan cuma mengurangi. Karena orangtua tak pernah tergantikan. Lubang kosong dalam jiwa ini ya diisi dengan memori-memori kebersamaan dengan orangtua yang diekpresikan dengan lebih memperhatikan/memngasihi sesama saudara, ke pasangan, ke anak-anak juga ke kawan-kawan.

Balik lagi kepemikiran saya, buat saya bahagia itu bisa tersenyum. Karena ternyata untuk tersenyum tulus yang lahir dari hati ya harus ikhlas. Bukan tersenyum, sebatas menarik tepian bibir agar mulut melebar. Tersenyum bahagia, terlihat juga dari ekpresi full diwajah. Bola mata yang bersinar, bentuk wajah yang juga menyenangkan. Itu bisa dikenal hanya oleh orang-orang yang yang bahagia juga. Karena nggak sedikit loh ada orang yang justru susah kalau melihat kita bahagia dan bahagia kalau melihat kita susah.

Jika bahagia saya, bisa tersenyum, apa bahagiamu kawan?



Membersamai Anak, Investasi Jangka Panjang


Memiliki anak adalah bentuk ekspresi cinta kasih dan tanggung jawab. Walau tak sedikit yang tujuan untuk memiliki anak semata karena keyakinan dari agamanya. Bahwa berumah tangga untuk melanjutkan keturunan. Saya melahirkan anak pertama diusia yang tidak muda. Sulung saya, bocah kaki-laki,  lahir di tahun ke empat pernikahan. Dan Si bungsu perempuan, 3 tahun sesudah Si Sulung. 
Karena memang  diinginkan, maka saya dan Pak suami, menerima dan menjalani apa yang menjadi kewajiban sebagai orang tua. Saya pernah menuliskan surat untuk mereka. Bisa di baca di sini

Jika memiliki anak adalah bentuk ekspresi cinta dan tanggung jawab, maka membersamai anak adalah investasi jangka panjang, untuk dunia.
Kok untuk dunia? Ya, karena saya percaya anak-anak walau terlahir dari rahim saya sebagai ibu berkat pembuahan Pak Suami, sesungguhnya anak-anak cuma titipan. Mereka memiliki kehidupan masing-masing yang akan mereka jalani.

Atas anugerah Tuhan yang mempercayai kami,  sebagai orangtua, Saya dan Pak Suami berkomitmen membersamai anak-anak hingga saatnya nanti mereka tegak di atas kedua kakinya dan bisa mempertanggung jawabkan setiap pemikiran dan prilakunya.
Maksudnya? Bertanggung jawab, bukan cuma memberi makan, pakaian, tempat tinggal. Tapi juga memfasilitasi pendidikan dengan biaya dan pendampingan. Terlibat langsung dalam jenjang pendidikan dan pergaulan mereka. Menyediakan hati dan telinga sebagai orangtua, guru dan kawan. Berusaha memperkenalkan semua rasa emosi, senang, sedih, susah, kecewa, agar kaya rasa jiwa.

Apakah semua berjalan mulus? Oh tentu tidak. Mereka kami didik untuk berani menyampaikan pemikiran dan  pendapatnya sehingga tak sekali dua kali, kami beda pendapat. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin aneh melihat saya dan Pak Su berdebat dengan anak. Apalagi saya dan Pak Su masih mendapatkan didikan dari ortu yang kiblatnya jadul. Pakemnya, jika orangtua bicara, anak harus diam dan mendengar. Cuma mendengar. Biar ditanya, tidak boleh jawab.

Itu tak berlaku dalam aturan keluarga kecil kami. Anak-anak punya hak berbicara dan menjelaskan keinginannya. Namun karena kami orangtua yang belum tentu lebih pintar tapi pasti punya pengalaman dan pengetahuan yang lebih maka kami masih selalu selangkah lebih tahu. Jika annak-anak benar atau alasan yang dikemukan bisa diterima secara rasional, saya dan Pak Suami mendukung.

Contohnya saat Si Bungsu jelang ujian akhir kelas IX. Ia menceritakan, beban belajar. Kami menasehati untuk lebih santai toh kami nggak menargetkan ia harus peringkat terbaik. Si bungsu bilang, ia perlu katarsis. Busyet, saya langsung meluncur di google, apaan tu katarsis. Si bungsu menjawab, saya mau menari. Saya dan Pak Su bertukar pandang, kami tak pernah melarangnya menari.

Si bungsu sudah menari sejak pre school di usi 3 tahun hingga lulus SD. Ia salah satu penari utama sekolah yang hadir untuk meramaikan acara atau lomba. Jenis tariannyapun, ala sanggar-sanggar tari. Modern dance. Bukan menari, tarian tradisional.

Di bungsu dengan lancar menyampaikan keinginannya mengatasi beban pelajaran sekolah dengan ikut sekolah tari. Saya dan Pak Su, bertanya, bukankah ikut sekolah tari akan menambah beban? Kamu bisa menari di rumah. Si bungsu, seolah mengajukan proposal menjelaskan panjang lebar dan detil termasuk sekolah tari pilihannya?

Saya dan Pak Su yang mulanya mendebat dengan mengatakan tak ada sekolah tari di wilayah tempat tinggal kita, terpatahkan. Si bungsu sudah searching da meminta kami mengantarnya untuk melihat dan mendaftar. Jadilah ia masuk sekolah tari, mempersiapkan ujian akhir dibarengi dengan resital tari. Ia membuktikan lulus dengan nilai baik, di terima di salah satu SMA terbaik dan sekolah tari berjalan baik-baik.

Tak jauh berbeda dengan Si Sulung yang juga memiliki kemauan sama kerasnya dengan Si Bungsu. Artinya saya dan Pak Su melibatkan diri dalam kehidupan anak-anak, bukan karena kelak mereka akan jadi jangkar buat kami di hari tua. Justru sebaliknya kami mempersiapkan mereka untuk menjadi pengayom masyarakat yang lebih luas. Mereka tahu, kami orangtua yang terbiasa mandiri dan kokoh. Berhati keras dan tegar dalam mempersiapkan mereka. 
Membersamai mereka bukan berarti ikut campur dalam aktifitas mereka. Kami tahu apa dan dengan siapa mereka bergaul. Kami mengenal kawan bermainnya, kami bertukar pikiran tentang situasi dan keadaan yang sedang terjadi di lingkungan kecil atau lingkungan luas. Tak ada rahasia antara orangtua dan anak tapi kami tak mencari tahu yang tak mau mereka ceritakan. Biarlah mereka memiliki rahasianya sendiri, selama semua terpantau dan terkondisikan baik.

Saya dan Pak Su, mendidik, mengarahkan, mengawasi dan mempercayai mereka. Jika mereka melakukan kesalahan, marahlah kami? Ya marahlah. Jangan lupa, orangtua juga manusia. Tapi bukan marah yang membabi buta. Marah sebagai ungkapan kecewa. Anak-anak juga harus tahu, kami sebagai orangtua bisa kesal, marah pun kecewa. Namun nggak mengubah peran dan tanggung jawab, artinya tetap kami diskusikan dan bicara setiap kemungkinan solusi. 

Sejauh ini, Saya dan Pak Su masih membersamai mereka. Keduanya sudah di perguruan tinggi, selangkah lagi mereka akan jadi anak panah yang akan lepas dari busurnya. Apa yang mereka lakukan, semoga berguna bagi diri mereka masing-masing dan lingkungan sekitarnya. Dan kami, ikut bahagia jika mereka bahagia. Mereka tahu benar, kebahagiaan mereka adalah hal utama bagi kami, orangtuanya. Karena Saya dan Pak Su sangat percaya, sesuatu yang dimulai dengan bahagia akan dijalani dengan bahagia walau gangguan dalam pencapaian kebahagiaan itu banyak. Tapi tetaplah bahagia apapun gangguannya. 



Wastra dan Tudung Kepala Nusantara Bukti Indahnya Budaya Milik Sendiri





Memperingati Hari Perempuan International, yang diperingati setiap 8 Maret, Aktivis Perempuan Berkain Kembu lakukan gerakan berkain dan bertutup kepala khas Nusantara.


Saya mengenal Hari Perempuan Internasional, saat kuliah. Saya terlahir dari kakak-adik, perempuan semua. Jadi banyak nilai-nilai dalam keluarga yang menitik beratkan pada pentingnya pendidikan, sehingga kelak kami bisa mandiri secara ekonomi. Alias nggak bergantung dengan pasangan. Selain itu mengajarkan kami, bahwa kedudukan kami setara terhadap pasangan.

Sejak tahun 1911, setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional atau International Women Day (IWD). Momen ini didedikasikan secara global untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, dan politik perempuan. Hal terpenting lainnya adalah untuk mendorong kesetaraan gender.
IWD atau Hari Perempuan Internasional ini juga menjadi titik fokus dalam gerakan hak-hak perempuan, yang membawa perhatian pada isu-isu gender, hak-hak reproduksi dan kekerasan seksual terhadap perempuan. 
Tema global Hari Perempuan Internasional, 8 Maret tahun ini adalah “gender equality today for a sustainable tomorrow”, kesetaraan gender hari ini untuk keberlanjutan kita di masa depan. Tema ini merefleksikan betapa gentingnya kondisi bumi kita ini, dengan perubahan cuaca yang drastis, bencana alam, pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, dst. Semua hal tersebut berdampak besar bagi keberlangsungan kehidupan, terutama bagi perempuan. 

Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah (IKALUIN) Jakarta dan Jaringan Aktivis Perempuan memperingati Hari Perempuan Internasional dengan berkain atau memakai wastra (kain-kain tradisi) dilengkapi tudung kepala yang berasal dari penjuru nusantara. Tujuannya adalah agar para perempuan di belahan dunia ikut melestarikan kain-kain tradisi yang dibuat oleh tangan-tangan perempuan yang prosesnya menggunakan bahan-bahan dari alam.   
“Bagi perempuan, wastra sarat makna.  Bukan hanya merawat kehidupan manusia dari sejak bayi tapi juga memberi rasa aman dan nyaman. Wastra yang berupa tenun, songket, ikat, pahikung, batik  juga merupakan simbol budaya yang membawa do’a dan harapan untuk kesejahteraan, ketenangan jiwa, pemulihan sampai pada alat perdamaian,  terang Yuniyanti Chuzaifah, Ketua Dep.Perempuan Ikaluin Jakarta. 

Ada banyak pesan dan simbol yang bisa dipelajari dari setiap lembar kain yang dibuat para leluhur. Bagaimana mereka ingin dunia saling menghormati, saling menjaga dan hidup lestari satu sama lain baik sesama manusia maupun dengan hewan atau tumbuhan. Seperti pada motif sarung pahikung dari pulau Sumba NTT, ada motif MAMULI yang berbentuk seperti kelamin perempuan,  dimaknai sebagai simbol kesuburan dari kelahiran manusia, kata Nury Sybli, Praktisi Wastra Nusantara yang juga penggagas acara Aktivis Perempuan Berkain.   
Melalui kegiatan berkain ini, Nury menjelaskan, agar para perempuan lebih mengenali tentang kain-kain tradisi seperti tenun ikat, songket, pahikung, batik, sulam, dan keragaman tutup kepala atau tudung yang diwariskan leluhur.  Dari penelusuran saya selama bertahun-tahun ke beberapa Propinsi, hampir semua daerah memiliki model tutup kepala dengan makna dan filosofi yang indah. Perempuan memakai tudung untuk bekerja kebun, membantu masyarakat, atau pergi ke pernikahan. Jadi tutup kepala sebagai bentuk kesahajaan selain juga kedaulatan, paparnya. 

Dalam kebudayaan masyarakat Nusantara, penutup kepala memiliki ragam bentuk dan nama serta cara pemakainnya. Kerudung, kudung, tudung, tengkuluk, kuluk, tingkuluak, saong, bulang, passapu, tukus, pote, palullung, tatupung dan jong adalah nama-nama penutup kepala perempuan di sini.  Sejarah mencatat Tengkuluk atau Kuluk di Jambi sudah ada sejak abad ketujuh atau sejak kerajaan Melayu. Dalam budaya Minangkabau, penutup kepala disebut tikuluak atau tingkuluak dengan beragam bentuk dan gaya penggunaan sesuai daerahnya. Bukan hanya sebagai busana, di ranah Minang ada makna kuasa perempuan yang disampaikan secara simbolis dari penutup kepala mereka.

Pada perayaan IWD2022 yang diselenggarakan oleh IKALUIN Jakarta ini, para aktivis perempuan menggunakan aneka ragam busana daerah dengan tutup kepala nusantara seperti nama-nama tersebut diatas, kuluk, saong, dll. Sedang kain yang digunakan berasal dari Sumba, Bima, Flores, Maluku, Nias, Karo, Toraja, Jawa, Jambi, Belitung, hingga Papua. Kain-kain ini menjadi ruang perjumpaan keragaman. Ini refleksi sesungguhnya Indonesia.  Bukan hanya kain yang berwarna, tetapi kami yang hadir pada Hari Perempuan Internasional ini juga ada sahabat-sahabat dari lintas agama, lintas komunitas, lintas profesi. Tampilan kita hari ini adalah bentuk wajah Islam yang inklusif, yang mampu menghormati keragaman dan kekayaan tradisi, papar Yuni, sapaan Yuniyanti Chuzaifah, Ketua Komnas Perempuan periode 2010-2014.     

Karena perempuan adalah garda terdepan penjaga tradisi, akar dari peradaban, imbuh Nury.  

Selain warna-warna yang beragam, pada wastra juga bisa belajar tentang keberlanjutan kehidupan di masa depan, komitmen merawat alam, ketekunan dan keteladanan. Dari sejarahnya tenun dibuat dari benang kapas, pewarnaan dari bahan-bahan alam seperti kulit akar mengkudu, serbuk kayu nangka, daun nila, kulit kelapa, daun mangga, kunyit, cabe, dan banyak lagi tanaman yang memberikan warna yang indah pada setiap lembar kain.  

Untuk itu kami menyerukan:
 
1) Menjunjung prinsip kesetaraan gender, perempuan dan laki  laki memiliki hak yang sama untuk berkarya, berkreasi, saling menghormati dan bebas dari segala bentuk kekerasan terutama kekerasan seksual. Untuk itu,  
2) Segera sahkan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) karena itu merupakan kunci negara memberikan perlindungan bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya.
3) Turut merawat akar budaya dan keberagaman sebagai jembatan untuk merawat perdamaian di tingkat lokal, nasional hingga Internasional.
4) Stop Perang atas nama apapun karena perempuan dan anak-anak adalah korban yang paling menderita.  
5) Melibatkan perempuan dalam proses perdamaian. Data United Nations Security Council
(2020) menyebutkan hanya 3 dari 10 proses perdamaian melibatkan perempuan sebagai
mediator atau pihak penandatangan. Studi menunjukkan, perdamaian tidak akan segera terjadi tanpa melibatkan perempuan.


Betadine Antiseptic solution, pertolongan pertama luka ringan di mana saja.


Betadine antiseptic solution, pertolongan pertama luka ringan di mana saja. Semenjak Pak Suami terkena stroke tahun 2017, saya seperti punya balita lagi. Dibilang merepotkan, nggak juga tapi dibilang nggak merepotkan, ya lumayan merepotkan. Kecelakaan kecil, kembali jadi makanan sehari-hari. Saya sangat mensyukuri stroke yang menyerang Pak Suami pertengahan 2017, telah 80 % membaik. Stroke yang menyerang Pak Suami, adalah penyumbatan syaraf yang mengenai syaraf, pengelihatan, bicara dan sedikit daya ingat. Awalnya bagian tubuh sebelah kanan melemah. jadi tangan nggak mampu mengangkat gelas, pun kaki tak mampu melangkah. Kondisi nyaris lumpuh ini, sekitar 3 bulan. saya dan dua anak merawat sendiri Pak Suami di rumah.

Selain perawatan medis, Pak Suami juga mengikuti terapi akupuntur, kebetulan terapisnya, adik kandung Pak Suami. Jadi bisa intesif dijalani. Sama seperti pandemi yang memaksa semua orang mengubah prilaku keseharian, pun kami ketika merawat Pak Suami. Tiap malam merapal doa, memohon diberi kesabaran seluas samudra. Nggak ada tangis, nggak ada air mata. Saya berpikir ini bagian dari janji menikah dulu.

 Dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, 

tetap saling mengasihi. 

Pak Suami terkena stroke di waktu yang menurut saya, saya nggak ikutan stroke saja, sudah bagus. Pak Suami terkena stroke di saat dua anak saya jelang ujian akhir SMP dan SMA. 8 hari dirawat di RS, menjadi cerita yang panjang dan melelahkan. Saya setiap malam berjaga di RS. Pagi menyempatkan diri pulang, mengurus sarapan dan anak yang akan bersekolah. Mereka berangkat, saya mencuci pakaian, lalu kembali ke RS. Nggak masak demi pertimbangan praktis. Pulang sekolah anak-anak ke RS, makan siang beli. Saya pulang untuk istirahat. Jelang jam berkunjung sore, saya kembali ke RS, gantian anak-anak yang pulang.

Saat Pak Suami sudah boleh pulang, cerita berlanjut dengan tuntutan kesabaran yang seluas samudra. Pak Suami dengan emosi yang tidak bisa dikorntrol, katanya orang yang sudah kena stroke, nggak mau marah saja tetap marah. Kebayang nggak, yang merawat dan melayani sudah lelah harus menahan emosi untuk tidak terpancing ikutan marah? Bungsu saya, gadis remaja perempuan bahkan sempat deprsi. Dia menjerit di suatu sore sekuat-kuatnya. Dia berteriak, aku nggak kuat, aku nggak kuaaaattttt, Mama. Aku nggak kuat hidup begini. Mau nangis nggak sih? tapi nggak boleh nangis. Saya  memeluknya, mencium kepalanya dan berbisik. Tidak ada yang kuat tapi kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih kuat dari permasalahan kita.

Lalu Si Bungsu bertanya, bolehkah dia bawa motor sendiri? Saya kaget. Ternyata pemicunya, tiap pagi berantem sama kakaknya, Si kakak maunya anter adik sampai satu perempatan di mana si Adik tinggal sekali lagi naik angkut ke kiri dan si kakak ke kanan, arah sekolahannya. Rupanya si kakak karena harus mengantar adiknya, jadi tiba di sekolahnya nyaris selalu terlambat.

waduh, ada persoalan yang saya nggak tahu. saya diam dan merenung. Pertama. saya nggak tahu Si Adik bisa bawa motor. Kedua, ada aturan nggak boleh bawa kendaraan. Ya iyalah, anak SMP kan belum ada yang punya SIM motor. Wajar ada larangan bawa kendaraan motor. Ketiga, ya karena belum punya SIM itu, saya bagaimana mau mengizinkan? Dengan santai Si Kakak yang menjelaskan kalau Papa sudah mengajari Si bungsu bawa motor, jadi sudah dua bulan kalau antar jemput Si Bungsu, biasanya Si Papa yang diboncengin. Masalah nggak boleh bawa motor, agak jauh dari sekolah ada rumah yang terasnya dijadikan parkir motor, jadi nggak akan terlihat dari sekolah. Ketiga, Mama nggak punya pilihan, Si Kakak lelah tiap hari dihukum karena terlambat.

Dan dengan berat hati plus rerapal doa panjang, saya mengizinkan Si Adik mengendarai motor ke sekolah. Ini barangkali yang dibilang indah pada waktunya. Persoalan selesai satu persatu walau tetap ada aturan yang dilanggar.



Walau pak Suami sudah pernah terkena stroke tidak menjadi hambatan kami dalam menjalani hobi #NgetripCihuy. Setelah pak Suami stroke tahun 2017, kami masih melakukan trip ke Malaysia, dan Bali, sebelum akhirnya pandemi Covid-19 memaksa kami tinggal #dirumahaja

Sejak anak-anak bersekolah, selalu di antar dan di jemput Pak Suami. Kok bisa? karena Pak Suami punya usaha sendiri jadi memiliki waktu fleksibel. Sempat juga punya langganan ojek dan mobil jemputan saat saya dan Pak Suami harus ke luar kota. Dua bulan sebelum Pak Suami stroke, Pak Suami sudah mengajari Si Bungsu mengendarai motor. Padahal saat itu usianya masih 14 tahun. Saya nggak tahu dan nggak ada yang memberitahu. Jadi ketika Pak Suami kena stroke dan di rawat, maka Si Kakak kebagian antar si adik sebelum ke sekolahnya. Pas pulang Si Adik bisa naik angkutan umum dengan kawan-kawan atau naik ojek lagi. Tapi persoalannya arah sekolah keduanya bertolak belakang, akibatnya si Kakak nyaris tiap hari terlambat. 

Singkat cerita, recovery pak Suami terbilang cepat. Mungkin karena semangat untuk sembuhnya besar. Saat Pak Suami terkena stroke, Kedua anak kami, baru mau lulus SMP dan SMA, masih membutuhkan banyak biaya. Kehidupan jalan terus, Saya dan anak-anak mulai beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada Pak Suami dan Pak Suami mulai belajar untuk bersabar. 

Dalam keadaan normal, menahan sabar bukan pekerjaan yang mudah, apalagi buat yang kena stoke dan yang merawat. Bagaimana nggak akan emosi jiwa, jika berhadapan dengan penderita stroke yang menyerang alat bicaranya, sehingga apa yang ingin dikatakan tak bisa ditangkap orang lain? 

Tapi  yang terparah dari apa yang diambil dari penderita stroke 

adalah rasa percaya diri. 


Bagi orang yang tidak tahu kalau Pak Suami pernah stroke tidak akan percaya melihat penampilan dan caranya berbicara. sayangnya pak Suami tetap merasa, jika bertemu orang lain, pasti akan dikasihani karena pernah stroke. Jangankan dengan kawan, dengan yang terhitung keluarga saja, Pak Suami enggan bertemu.




Hari-hari sekarang, saya lebih sering melewati berdua dengan Pak Suami. Sebetulnya bertiga tapi karena si Sulung masih kuliah jadi lebih sering cuma saya dan pak Suami di rumah. sedangkan Si Bungsu  kuliah tapi di luar kota. Nah karena cuma berdua ini, sering terjadi kecelakaan kecil karena saya tidak bisa selalu melihat keberadaan Pak Suami. Terkadang saya di dapur menyiapkan dan memasak untuk makan, Pak Suami utak-atik motor. Tiba-tiba terdengar Pak Suami mengaduh. Kakinya terluka kesandung, peralatan. Pak Suami penderita diabetes, jadi kebayang kan rewelnya saya kalau dia terluka, sekalipun kecil.

Seperti di awal cerita, saya katakan memiliki Pak Suami yang pernah terkena stroke, ibarat punya balita. Mengenang punya anak balita yang ceria, lincah dan bahagia, hati Ibu harus tabah dan kuat. Anak terjatuh, terbentur, terluka adalah proses pembelajaran kehidupan. Baik di rak P3K di rumah maupun di tas saya selalu sedia "Dua Sahabat, Pertolongan pertama saat terluka di mana saja. yaitu Betadine plaster dan Betadine Antiseptic Solution.

Jadi kalau Pak Suami sudah mengaduh, saya nggak bertanya. Cukup ambil Betadine plaster dan Betandine antispetic solution. Pertolongan pertama, luka langsung tetesin betadine antispetic solution lalu tutup dengan plaster. Dah gitu saja, aman. Biasanya karena rasa bersalah Pak Suami akan bilang, Maaf yang sudah merepotkan. saya nggak lihat kalau kotaknya ada di situ. Kadang mulut bawel ini ingin bicara. Masa nggak lihat? Kan yang kerja di situ kamu. Masa nggak ingat dan seribu pertanyaan penuh kekesalan lainnya. Tapi sumpah, semua itu nggak ada gunanya. Karena kemampuan ingatannya menurun, demikian juga dengan kemampuan melihatnya. Sekarang untuk membantu pengelihatannya dibantu kacamata plus 3.

Supaya hidup ini berlanjut nyaman, saya menyikapi dengan santai. Menggenggam tangannya, menatap wajahnya sambil bilang, Its ok, the next lebih hati-hati ya. Lalu saya membereskan peralatan ke kotaknya dan meletakan di tempat yang tidak menghalanginya berjalan. Sambil berucapa terima kasih Tuhan untuk kesabaran yang diberikan dan terima kasih untuk dua Betadine  yang sangat membantu. Bersyukur membuat saya bahagia.