Showing posts with label Narkoba. Show all posts
Showing posts with label Narkoba. Show all posts

Satpam dan Narkoba





Saat ini Indonesia memiliki 429.429 personil polisi. Dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa , maka rasio perbandingan polisi dan masyarakat adalah satu berbanding 500 an jiwa. (1 : 500) Artinya satu petugas kepolisian mengayomi lebih dari 500 orang. Jelas suatu hal yang mustahil. Karena itu pihak kepolisian membutuhkan bantuan masyarakat.

Berdasarkan kebutuhan menciptakan masyarakat yang aman dan terlindungi, maka dibentuklah Satuan Keamanan (Satpam) berdasarkan

UU KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NO 2 THN 2002
a. Bahwa keamanan dalam negeri merupakan syarat utama mendukung terwujudnya masyarakat madani yang adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Bahwa pemeliharaan keamanan dalam negeri melalui upaya penyelenggaraan fungsi kepolisian yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan
hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia selaku alat negara yang dibantu oleh masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

Kehadiran satpam  bertujuan membantu meringankan petugas kepolisian. Karena itu kehadiran Satpam di gedung perkantoran, perumahan, pabrik dan institusi lainnya adalah bentuk kesadaran perlunya keamanan. Walaupun Satpam berfungsi menjaga keamanan di masyarakat namun keberadaanya tidak di bawah institusi Kepolisian. Para satpam ini di kelola oleh para pemakain jasa mereka. Baik sebagai karyawan maupun sebagai tenaga sewa. Namun yang pasti para satpam ini mendapat pelatihan dan bersertifikat dari Kepolisian.

Lalu apa jadinya jika Satpam yang notabene bertugas menjaga keamana terlibat narkoba? Atau bagaimana para Satpam mengatasi persoalan dilapangan jika menemukan pengguna narkoba? Jika searching di google, maka akan terlihat sangat banyak informasi satpam yang terlibat narkoba. Saya btidak akan membahas permasalahan Satpam yang terlibat narkoba. Saya lebih tertarik mencari tahu, bagaimana para Satpam mengatasi permasalahn di lapangan terkait dengan pengguna narkoba.


 
Pusat Jajan di satu mall Ciledug. Dok. Pribadi

Beberapa waktu lalu, saya sengaja singgah untuk menikmati makan malam di sebuah pusat jajanan di salah satu pusat perbelanjaan di Cledug, Tangerang. Berada di lantai satu, tempat makan di keliling booth-booth makanan. Mulai dari aneka baso dan mie, aneka ayam goreng dan bakar, aneka soto hingga makanan Jepang, Sushi. Sambil menunggu pesanan, saya mengawasi seluruh tempat itu. Banyak pasangan remaja (Perempuan dan laki-laki), kelompok remaja (lebih dari dua orang dalam satu kelompok) Keluarga yang terdiri dari ayah-ibu dan beberapa anak. Atau ayah dan anak atau ayah dan ibu. Tempat yang cukup ramai dikunujungi. Mungkin karena Malam minggu. Tempat yang ramai dan berpotensi menjadi tempat transaksi narkoba.
Salah satu tempat yang rawan transaski narkoba adalah tempat keramaian yang tidak saling mengenal dan sedikit penjagaan/pengawasan.

Mengapa demikian karena sejauh pandangan saya, tempat makan ini tidak ada satpamnya. Satpam hanya terlihat di pintu masuk. Dua satpam duduk menghadap meja. Sambil membaca koran atau sesekali melihat ke pesawat tv yang dipancarkan ke layar lebar. Sehingga pengunjung juga bisa menikmati program televisi sambil menikmati santapan. Perhatian satpam yang terbagi ke koran/televisi dan mengawasi pengunjung tentu bukan suatu pengawasan yang maksimal.
Usai menikmati santapan, saya mendekati kedua satpam yang bertugas dan berbincang-bincang dengan mereka. Eko dan Anton, keduanya sudah bertugas dua tahun di Kawasan Pusat Perbelanjaan Ciledug Baru Mall. Sekali bertugas satu tim ada 5 satpam. Jumlah yang jauh dari memadai mengingat luasnya tempat ini. Secara keseluruhan bangunan ini terdiri dari 4 lantai. Lantai bawah pasar , lantai dasar  pusat jajanan, toko baju, sepatu dan alat tulis. Lantai satu pusat belanja “R” dan lantai dua pusat penjualan dan service telepon genggam.
Berbincang dengan Satpam di Ciledug Baru Mal. Dok. Pribadi

Mulanya keduanya terkejut ketika saya menyapa. Tapi setelah saya jelaskan saya hanya ingin mengobrol, mereka senang hati menjawab pertanyaan saya. Dalam dua tahun masa bertugas, mereka belum pernah menemukan kasus pengguna narkoba (transaksi). Paling sering ditemukan tawuran karena mabuk minuma keras. Jika bisa dilerai, permasalahannya langsung dianggap selesai. Tapi jika ada korban luka, biasanya langsung di bawah ke Kepolisian Sektor Ciledug. Dari beberapa kasus tawuran, pada akhirnya memang ada yang kedapatan barang bukti berupa pil di saku mereka. Namun menurut Anton, kasusnya ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Minuma keras, rokok dan narkoba adalah segitiga hitam. Dari salah satu, akhirnya bisa menjurus ke ketiganya.  Minuman keras dan narkoba sudah satu paket. Ada minuman keras otomatis ada narkoba. Baik dalam bentuk ganja maupun pil. Berdasarkan pengamatan mereka, memang ada terlihat pemuda/remaja yang terlihat mencurigakan. Namun baik Anton maupun Eko mengaku bukan tugas mereka menegur atau menangkap yang terlihat mencurigakan. Sebagai satuan pengaman, tugas mereka menjaga tempat/wilayah Ciledug Baru Mall tetap aman dan nyaman buat pengunjung. Pemuda/remaja yang nampak mencurigakan biasanya tidak masuk ke tempat pusat jajanan maupun pusat belanja. Mereka hanya berkumpul di depan mal.

Yang menarik, ternyata kedua satpam Eko dan Anton belum pernah mendapat informasi bagaimana menangani masalah narkoba. Bahkan informasi mengenai Pencegahan, Pemberantasan Pengguna dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) belum pernah mereka dapati. Keduanya tahu ada Badan Narkotika Nasional sebagai Institusi utama penanganan masalah Narkoba di Indonesia. 

Ketika saya tanyakan lebih jauh, apakah mereka tahu informasi mengenai bahwasannya pemakai narkoba tidak boleh dihukum penjara melainkan harus direhabilitasi. Lagi-lagi keduanya menjawab tidak tahu.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sosialisasi mengenai Pencegahan, Pemberantasan Pengguna dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) untuk Satpam di wilayah kota Depok yang dilakukan oleh BNN Kota Depok. Menurut saya ini sebuah langkah yang baik dan rasanya BNN tingkat Kota, di kota lainpun harus mengikuti apa yang sudah dilakukan BNN Kota Depok. Mensosialisasikan mengenai Pencegahan, Pemberantasan Pengguna dan Peredaran Gelap Narkoba  (P4GN) pada satuan pengaman guna membekali para Satpam dengan informasi dan pembengkalan pengetahuan yang benar dalam menangani masalah narkoba sehari-hari.

Satuan pengaman bertugas menjaga wilayah tugasnya untuk tetap aman dan nyaman. Memiliki pengetahuan mengenai informasi narkoba gai para satuan kemanan ini penting dan harus. Karena sebagai kepanjangan tangan petugas kepolisian para satpam ini yang biasanya berhadapan terlebih dahulu dengan para pengguna narkoba. Dengan memiliki informasi dan tata aturan yang benar dalam menangani permasalahan narkoba, memnimlakan salah tangkap atau mementahkan kasus karena kurang atau tidak cukup bukti.

Para satuan keamana perlu mengetahui prosedur yang benar. Para Satuan kemananan ini perlu mendapat pelatihan atau informasi mengenai mengenai Pencegahan, Pemberantasan Pengguna dan Peredaran Gelap Narkoba  (P4GN). Agar apa yang sedang disosialisasikan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengenai para pemakai yang berhak direhabilitasi sampai di masyarakat  tepat sasaran. Salah satu kendala, masih sedikitnya keluarga atau para pemakai narkoba melaporkan pada Institut Penerima Wajiba Lapor (IPWL) ada dua. Pertama belum tahu informasi bahwa keluarga/pemakaian narkoba bisa melapor sendiri, kedua takut jika melaporkan malah ditangkap. 

Kedua permasalahan di atas bisa disebabkan karena ketidaktahuan bahwasannya jika melapor tidak akan ditangkap, tidak akan diproses hukum dan otomatis tidak diberi sanksi hukum. Karena itu para Satpam perlu dibekali dengan informasi seputar mengenai Pencegahan, Pemberantasan Pengguna dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Selain agar dapat melakukan tugasnya berdasarkan informasi yang benar, para satpam ini juga dapat mensosialisasikan agar keluarga atau para pengguna sendiri  tidak takut melaporkan, diri sendiri untuk mendapat rehabilitasi.
Program rehabilitasi bagi para pengguna adalah komitmen pemerintah. Saat ini ada sekitar 4 juta jiwa yang sudah terjerat narkoba. Permasalahan narkoba bukan masalah ringan. Kalaupun belum dapat mengurangi atau menekan peredaran narkoba, minimal dari 4 juta jiwa, masih ada yang bisa diselamatkan.

Saat ini Indonesia termasuk target pasar narkoba dunia. Karena itu baik pemerintah, swasta dan masyarakat umum harus bahu membahu memberantas peredaran narkoba. Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sebagai warga negara. Informasi dari masyarakat akan ditindaklanjuti pihak kepolisian. Kewaspasaan masyarakat dapat membantu petugas satuan keamanan setempat dan  kepolisian dalam memberantas peredaran narkoba. Sudah terbukti beberapa kali penyergapan tempat-tempat produksi narkoba (pil ekstasi dan sabu) adalah laporan masyarakat yang mencurigai akitifitas di tempat tersebut. Kerjamasa antara kepolisan , satpam dan masyarakat yang terkoordinir dengan baik akan menciptakan suasana yang kondusif. Meringankan tugas kepolisian sekaligus memberikan janinan rasa aman bagi masyarakat.  (Elisa Koraag)

Segera Lapor, Jangan Tunggu Ditangkap.




Permasalahan narkoba sudah ada sejak jaman sebelum kemerdekaan.  Rumah-rumah candu banyak dibangun untuk kepentingan bisnis. Di jaman perjuangan ganja dijual untuk beli senjata. Ya, di jual ke negara lain dan uangnya digunbakan membeli senjata untuk berjuang. Namun situasi dan kondisi sekarang sudah berbeda. Kenyataannya mereka yang kecanduan narkoba termasuk ganja, mejadi penyakit sosial.

Penyakit sosial adalah bentuk prilaku sejumlah masyrakat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Jenis-jenis penyakit sosial: Judi, narkoba, Minuman keras, kenakalan remaja, PSK (Seks bebas)
 
Peredaran dan penyalahgunaan narkoba adalah dua persoalan besar yang perlu diwaspadai bersama. Pemerintah dan masyarakat sudah menjadikan peredaran dan penyalahgunaan pemakaian narkoba sebagai perang. Karena peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat sudah sangat mengganggu dan merepotkan. Bukan hanya mengakibatkan tindakan kriminal tapi juga mengurangi daya produktif dalam berkarya.  Melihat fenomena ini, akhirnya narkoba memang harus diperangi. Peredaran narkoba harus dihentikan. Para pecandu harus direhabilitasi. Namun semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Semua yang peduli hatus angkat senjata dan menyatakan perang pada narkoba.

Dari data yang ada 4 juta pemakai narkoba adalah usia muda 14 th -19 th. Usia tersebut adalah usia  yang kelak harusnya meneruskan dan mengibarkan keberadaan negara Indonesia sebagai negara yang berkedaulatan penuh dan menjadi teladan. Namun jika mereka dibiarkan, maka akan menjadi beban masyarakat dan beban negara. 

Mengatasi persoalan narkoba memerlukan kerjasama semua pihak. Badan Narkotika Nasional, Institusional yang diberi kewenangan negara untuk mengatasi persoalan narkoba tetap perlu dukungan institusi lain seperti POLRI, selaku penegak hukum.

 Dalam rapat Kordinasi BNN dan Polri (Februari 2014) bertema bertema "Sinergitas Pelaksanaan Tugas dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Kabareskrim Komjen Suhardi mengatakan: “kerjasama sinergis antara Polri dengan BNN dalam pemberantasan narkoba harus terjalin baik, efektif dan efisien” Sumber: 
 
Pihak kepolisian selaku penegak hukum harus menjadi pendukung dan garda terdepan dari persoalan narkoba. Maka semua informasi dari dan di masyarakat mengenai adanya produksi, predaran atau para pemakai narkoba harus dilaporkan ke pihak kepolisian untuk di tindak lanjuti.

 Aiptu Sukiran dari Kepolisian Sektor Ciledug mengatakan tugas Polisi dalam menghadapi persoalan narkoba tidak ringan. Karena walaupun ada yang melaporkan, jika tidak tertangkap tangan (Arrtinya narkoba tersebut ada pada orangnya) maka petugas kepolisian tidak dapat menangkapnya.

Penyalahgunaan pemakaian narkoba di kawasan Ciledug, Tangerang lumayan banyak. Dari sekitar 20 orang yang ditahan sementara, lebih dari 50 % permasalahannya narkoba. Pihak kepolisian hanya bisa menahan sementara untuk memproses berkasnya, sebelum dikirim baik bukti maupun orangnya ke pihak kejaksaan untuk ditindak lanjuti lebh jauh.

Menurut Aiptu Sukiran, Polsek Ciledug kerap bekerja sama dengan sekolah-sekolah di sekitar kawasan Cileduk, Tangerang untuk mensosialisasikan Bahaya Narkoba. Biasanya akan disampaikan oleh bagian Binmas (Bina Masyarakat). Sosialisasi ini perlu dilakukan terus menerus secara kontinyu, mengingat pengaruh pergaulan remaja yang kian kompleks.

Beberapa ciri yang perlu diwaspadai para orangtua adalah jika mulai ada kehilangan barang-barang-barang berharga di rumah (Hilang uang, dompet, jam tangan, hand phone) menurut Aiptu Sukiran ada dua kemungkinan jika ada tanda-tanda kehilangan. Pertama anak di bully, di mana kawan-kawan dalam kelompoknya menekan untuk memberi uang/barang berharga. Yang digunakan untuk jajan atau membeli narkoba. Kedua, si anak memang menggunakan narkoba.

Pertama, bagi anak yang di bully (tekanan kelompok)/ancaman orang lain. Perlu pendekatan yang teratur. Hubungan kedekatan anak dan orangtua bisa mencegah terjadinya pembully-an. Anak yang di bully umumnya tidak mau memberitahu orangtua. Bisa disebabkan tidak ingin mengecewakan orangtua atau karena diancam.

Dalam kondisi semacam ini, orangtua perlu memahami anak secara psikhologis. Rasa takut dalam diri anak tidak boleh dianggap sepele.  Tekanan rasa takut yang terus menerus dapat membuat anak depresi dan melakukan tindakan yang tidak terpikirkan, seperti bunuh diri. Mengahadpi atau mengatasi permasalahan anak yang dibully, adalah menegaskan bahwa apapun yang terjadi orangtua akan menolong dan melindungi anak. 

Beritahukan pada anak, menolong dan melindungi anak adalah tugas dan tanggung jawab orangtua.Orangtua perlu mencari tahu, siapa orang/kelompok yang membully si anak. Koordinasi dengan pihak seklah dan sesama orangtua murid untuk menyelsaikan permasalahan. Jika anak tetap tertekan pindahkan aktifitas si anak. Baik pindah sekolah/pindah tempat les.
 
Kedua, kalau ternayat si anak sudah menjadi pemakain narkoba, orangtua jangan panik. Sama dengan informasi yang pertama, perlu ada komunikasi dan pendekatan dengan anak. Agar orang tua tahu sejauh mana anak telah menggunakan narkoba.  Sebelum melakukan tindakan lebih jauh melaporkan atau membawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat, ada baiknya anak di ajak bicara.

Orangtua perlu tahu, sudah berpa lama anak menggunakan, apa yang digunakan. Darimana anak mendapatkan. Gunakan bahasa yang baik untuk memberitahukan pada anak, dampak buruk dari penggunaan narkoba.  Narkoba akan langsung menyerang mesin utama dalam tubuh manusia yaitu Otak. Jika Otak sebagai mesin utama rusak, maka secara keseluruhan tubuh manusia tidak akan berfungsi. Yang paling dirugikan dari narkoba, selain merusak diri pemakai juga menimbulkan kesedihan dan kekecewaan para orangtua.

Penyalahgunaan narkoba selain merusak diri sendiri juga akan mendapat stigma sebagai sampah masyarakat. Salah satu penyakit sosial yang harus diberantas. Jika orangtua sudah berbicara dengan anak, ajak anak untuk melaporkan diri ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor) yang sudah ditunjuk, Puskesmas kecamatan terdekat. IPWL sendiri dibentuk berdasarkan  UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika serta PP No 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Bagi Penyalahguna Narkoba, para pecandu dan penyalahguna narkotika diwajibkan lapor diri ke sejumlah institusi penerima wajib lapor (IPWL) yang telah ditentukan pemerintah, untuk menjalani rehabilitasi secara gratis.

Keputusan Menkes RI No.18/Menkes/SK/VII/2012, juga mendukung IPWL dengan tujuan merangkul pengguna atau pecandu narkoba, sebagai proses rehabilitasi.

6 Rumah Sakit  yang ditetapkan menjadi IPWL adalah: 1. RSKO Cibubur Jakarta 2. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta Barat, 3. RSUP Fatmawati Jakarta Selatan 4. RSUD Duren Sawit Jakarta Timur 5. Poliklinik BNN DKI Jakarta 6. Unitra BNN di Lido Sukabumi, Jawa Barat. 

 12 Puskesmas yang ditetapkan menjadi  IPWL adalah: 1.Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok 2. Puskesmas Kecamatan Gambir 3. Puskesmas Kecamatan Tebet 4. Puskesmas Kecamatan Jatinegara 5. Puskesmas Kecamatan Tambora Jakarta 6. Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta 7. Puskesmas Kecamatan Cengkareng 8. Puskesmas Kecamatan Kemayoran 9. Puskesmas Kecamatan Senen - DKI Jakarta 10. Puskesmas Kecamatan Kramat Jati - DKI Jakarta 11. Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan 12. Puskesmas Kecamatan Johar Baru - DKI Jakarta. (Sumber: Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta)

Masyarakat secara umum dan para orangtua khususnya,  perlu tahu, bahwasannya tidak ada sanksi hukum bagi pelapor  (orangtua0/diri pecandu sendiri). Lapor diri ini akan ditindak lanjuti setelah melewati beberap test seperti test urine dan lab untuk mengetahui sejauh mana pengaruh narkoba yang telah digunakan dalam tuuh si pecandu. Dari hasil tersebut baru bisa direkomendasikan berapa lama si pecandu di rehabilitasi.

Para pecandu yang melaporkan diri sendiri, menurut Kepala BNN, Anang Iskandar, tidak akan di proses hukum, tidak akan diberi sanksi hukum bahkan diberi kebebasan memilih tempat rehabilitasi sesuai keinginan. Biaya rehabilitasi ditanggung pemerintah. Seharusnya ini menjadi kabar yang menyenangkan bagi keluarga-keluarga yang anggota keluarganya menyalahgunakan pemakaian narkoba. Karena biaya rehabilitasi tidaklah murah.

Jika anda membaca kisah anggota Band Slank  yang pernah terjebak pada penggunaan narkoba, perjuangan Titik Qadarsih dalam mendampingin puteranya yang nyaris meninggal karena over dosis, serta banyak selebirti lainnya yang beruaha lepas dari jerat narkoba lewat proses rehabilitasi, akan terbaca betapa banyak biaya yang sudah mereka keluarkan. Penyalahgunaan narkoba memang merugikan secara materi dan moril. Karena itu, saat ini tahun 2014 telah dicanangkan sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba. Jadi segera manfaatkan. Jika ada anggota keluarga atau angggota masyarakat di lingkungan tempat tinggal anda pemakai, segera lapor jangan tunggu ditangkap.